Membaca Kebijakan Moneter Indonesia dalam Rezim yang Berbeda
Kebijakan moneter sering kali diperlakukan seolah bekerja seragam sepanjang waktu. Suku bunga dinaikkan, inflasi turun; likuiditas ditambah, pertumbuhan membaik. Namun, pengalaman krisis global dan pandemi menunjukkan bahwa respon ekonomi tidak selalu linear. Kebijakan yang efektif di satu periode bisa menjadi kurang ampuh—bahkan berisiko—di periode lain.
Di sinilah pendekatan Threshold Vector Autoregression (TVAR) dan Threshold Vector Error Correction Model (TVECM) menjadi relevan, khususnya untuk menganalisis kebijakan seperti Quantitative Easing (QE) di Indonesia.
Mengapa Pendekatan Linear Tidak Lagi Cukup?
Model VAR atau VECM konvensional mengasumsikan bahwa hubungan antarvariabel ekonomi bersifat konstan. Artinya, respon inflasi terhadap suku bunga atau respon pertumbuhan terhadap likuiditas dianggap sama, baik saat ekonomi stabil maupun saat krisis.
Dalam praktiknya, asumsi ini sering tidak realistis.
Saat volatilitas tinggi:
- arus modal lebih sensitif,
- nilai tukar lebih mudah bergejolak,
- kebijakan moneter menghadapi tekanan eksternal.
TVAR dan TVECM hadir untuk menangkap perbedaan perilaku ekonomi antar-rezim.
Apa itu TVAR?
TVAR (Threshold Vector Autoregression) adalah pengembangan VAR yang membagi dinamika ekonomi ke dalam dua atau lebih rezim, berdasarkan suatu variabel ambang (threshold).
Secara intuitif:
- ketika kondisi ekonomi berada di bawah ambang tertentu, sistem berada pada rezim normal,
- ketika melewati ambang tersebut, sistem berpindah ke rezim tekanan atau krisis.
Dalam konteks Indonesia, threshold sering ditentukan oleh:
- pertumbuhan PDB,
- inflasi,
- atau indikator pasar keuangan.
TVAR memungkinkan kita melihat bahwa respon kebijakan moneter di rezim stabil tidak sama dengan di rezim volatil.

Dari TVAR ke TVECM: Menambahkan Dimensi Jangka Panjang
Jika variabel-variabel ekonomi memiliki hubungan keseimbangan jangka panjang (cointegration), maka pendekatan yang lebih tepat adalah TVECM (Threshold Vector Error Correction Model).
TVECM menggabungkan dua hal:
- Hubungan jangka panjang (misalnya antara inflasi, suku bunga, dan nilai tukar),
- Penyesuaian jangka pendek yang bergantung pada rezim.
Dengan kata lain, TVECM menjawab pertanyaan:
Apakah kecepatan penyesuaian menuju keseimbangan berbeda saat ekonomi stabil dibanding saat krisis?
Jawabannya, berdasarkan banyak temuan empiris, adalah ya.
Apa yang Dipelajari dari TVAR/TVECM untuk QE?
Dalam analisis kebijakan QE di Indonesia, TVAR dan TVECM menunjukkan beberapa pelajaran penting:
- QE efektif bersyarat
Dalam rezim volatilitas rendah, QE cenderung:- menstabilkan pasar obligasi,
- membantu pengendalian inflasi,
- menjaga ekspektasi pelaku ekonomi.
- Risiko meningkat di rezim tekanan
Saat ekonomi memasuki rezim volatilitas tinggi:- dampak QE terhadap pertumbuhan melemah,
- tekanan nilai tukar meningkat,
- independensi kebijakan moneter menyempit.
- Penyesuaian jangka panjang tidak simetris
TVECM menunjukkan bahwa proses kembali ke keseimbangan ekonomi lebih lambat dan lebih bergejolak saat krisis.
Mengapa Ini Penting bagi Kebijakan?
Pendekatan TVAR/TVECM membawa implikasi kebijakan yang kuat:
- Kebijakan moneter tidak bisa one-size-fits-all.
- Efektivitas QE sangat bergantung pada rezim ekonomi.
- Koordinasi fiskal–moneter menjadi krusial saat ekonomi berada di rezim tekanan.
Temuan ini selaras dengan kerangka New Monetary Trinity, yang menempatkan stabilitas keuangan sejajar dengan stabilitas inflasi dan nilai tukar.
Kebijakan Moneter Bersifat Rezim-Spesifik
TVAR dan TVECM membantu kita memahami bahwa kebijakan moneter bukan sekadar soal instrumen, tetapi juga soal konteks. Indonesia membutuhkan kebijakan yang:
- sensitif terhadap perubahan rezim,
- adaptif terhadap tekanan global,
- dan realistis terhadap keterbatasan institusional.
Dengan membaca ekonomi melalui lensa TVAR dan TVECM, kebijakan moneter tidak lagi dipahami sebagai aturan kaku, melainkan sebagai strategi adaptif dalam sistem yang dinamis.
🇬🇧 TVAR and TVECM:
Understanding Indonesia’s Monetary Policy across Economic Regimes
Monetary policy is often assumed to operate uniformly over time. Interest rates are adjusted, inflation responds, and liquidity injections stimulate growth. Yet recent crises have shown that economic responses are rarely linear. Policies that work under stable conditions may become ineffective—or even risky—during turbulent periods.
This is where Threshold Vector Autoregression (TVAR) and Threshold Vector Error Correction Models (TVECM) provide valuable insights, particularly for analyzing Quantitative Easing (QE) in Indonesia.
Why Linear Models Are No Longer Sufficient
Conventional VAR and VECM frameworks assume constant relationships among macroeconomic variables. In reality, monetary transmission mechanisms differ substantially between normal times and crisis periods.
During high volatility:
- capital flows react sharply,
- exchange rates become more fragile,
- policy autonomy is constrained.
TVAR and TVECM explicitly account for these regime-dependent dynamics.
What Is TVAR?
TVAR extends the standard VAR framework by allowing economic dynamics to switch across regimes defined by a threshold variable.
Intuitively:
- below the threshold, the economy operates in a normal regime,
- above it, the system enters a stress or crisis regime.
This allows researchers to observe how policy responses differ across regimes, rather than assuming a single average effect.
From TVAR to TVECM: Incorporating Long-Run Equilibrium
When macroeconomic variables share long-run equilibrium relationships, TVECM becomes the appropriate framework. It combines:
- Long-run cointegration, and
- Regime-dependent short-run adjustments.
TVECM reveals whether the speed and nature of adjustment back to equilibrium change during periods of stress—a crucial question for QE analysis.
Key Lessons from TVAR/TVECM for QE
Empirical evidence using TVAR and TVECM highlights several insights:
- QE effectiveness is conditional
Under low-volatility regimes, QE tends to support bond market stability and inflation control. - Higher risks in turbulent regimes
During high-volatility periods, QE may intensify exchange rate pressures and weaken monetary autonomy. - Asymmetric adjustment dynamics
TVECM shows that restoring long-run equilibrium becomes slower and more unstable during crises.
Policy Relevance
TVAR and TVECM underscore that:
- monetary policy is regime-specific,
- QE should be designed with awareness of prevailing economic conditions,
- coordination with fiscal policy becomes essential during stress periods.
These insights align closely with the New Monetary Trinity, which recognizes financial stability as a core pillar of modern monetary policy.
Concluding Remarks
TVAR and TVECM shift our understanding of monetary policy from a static rule-based approach to a context-dependent, adaptive strategy. For Indonesia, this perspective is crucial in navigating global uncertainty and designing effective non-conventional policies.