Ekspektasi Pasar di Balik Rupiah Rp17.000-an, Oil Shock 2026, dan New Monetary Trinity Indonesia

Working Paper Interactive Lab — Ekspektasi Pasar, Rupiah Rp17.000, Oil Shock 2026, dan New Monetary Trinity
Working Paper / Project Scale · 2026–2027

Ekspektasi Pasar di Balik Rupiah Rp17.000-an, Oil Shock 2026, dan New Monetary Trinity Indonesia

Kerangka riset terintegrasi yang menempatkan ekspektasi pasar sebagai isu utama: bagaimana Rupiah Rp17.000-an, oil shock akibat perang Iran–AS, memori krisis 1998, dan kedalaman pasar valas membentuk tekanan makro-finansial Indonesia.

FX Market Depth 1998 Crisis Memory Oil Shock & Hormuz U.S. Geopolitical Pressure SUN · REER · IHSG TVP-VAR · TVAR · Event Study
Executive Summary

Premis besar working paper

Pelemahan rupiah ke zona Rp17.000–Rp17.500 pada 2026 bukan hanya soal level kurs. Intinya adalah bagaimana ekspektasi pasar berubah ketika oil shock, tekanan geopolitik, pasar valas yang belum dalam, dan memori 1998 muncul secara bersamaan.

Shock Geopolitik
Iran–AS
Konflik Timur Tengah mengganggu rantai pasok energi dan meningkatkan ketidakpastian global.[4][5]
Shock Energi
Oil Spike
IEA mencatat penurunan pasokan minyak global dan tekanan besar pada aliran energi melalui Hormuz.[5]
Shock Rupiah
17,5K
JISDOR mencapai Rp17.514 pada 12 Mei 2026; media merekam level spot intraday sekitar Rp17.535.[1][10]
Shock Ekspektasi
1998
Narasi “mengingatkan krisis 1998” dapat mengubah ekspektasi, meskipun fundamental 2026 berbeda.[11][12]
Isu sentral: bagaimana oil shock 2026, tekanan geopolitik AS, kedalaman pasar valas, dan memori krisis 1998 membentuk ekspektasi pasar yang memperbesar tekanan terhadap rupiah?
Problem Statement

Rupiah Rp17.000 bukan “1998 jilid dua”, tetapi menjadi stress test bagi ekspektasi pasar

Data terkini menunjukkan fondasi ekonomi 2026 berbeda dari 1998: ekonomi masih tumbuh 5,61% yoy pada Triwulan I-2026, inflasi April 2026 berada di 2,42% yoy, dan cadangan devisa akhir April 2026 mencapai US$146,2 miliar.[8][9][7] Namun, fundamental yang lebih baik tidak otomatis menghapus risiko ketika ekspektasi pasar memburuk dan pasar valas belum cukup dalam.

Puzzle 1. Mengapa Rp17.000-an cepat mengubah ekspektasi pasar?
Puzzle 2. Bagaimana oil shock dan tekanan geopolitik menggeser persepsi risiko?
Puzzle 3. Mengapa ekspektasi negatif lebih kuat saat pasar valas relatif dangkal?
Puzzle 4. Bagaimana ekspektasi itu menular ke rupiah, SUN, IHSG, dan fiskal?

Narasi Alarmis

Framing publik yang mengaitkan Rupiah Rp17.000–Rp17.500 dengan episode 1998.

  • “Titik genting rupiah”
  • “Melewati level 1998”
  • “Lebih parah dari 1998?”

Narasi Korektif

Analisis ekonom dan otoritas: level kurs nominal tidak cukup untuk menyimpulkan krisis serupa.

  • Fundamental 2026 berbeda
  • Cadev lebih kuat
  • Perbankan lebih resilien
Evidence Architecture

Data kunci yang membangun working paper

Basis empiris dibagi menjadi empat lapis: kurs dan pasar valas, oil shock dan geopolitik, fundamental Indonesia 2026, serta narasi media yang membentuk ekspektasi pasar.

Klaster Indikator Nilai Terkini / Episode Peran dalam Riset
RupiahJISDORRp17.514 pada 12 Mei 2026Event utama psikologis dan finansial.[1]
Market DepthTurnover valas OTCIndonesia US$7,01 miliar/hari; Malaysia US$24,37; Thailand US$17,63Mengukur kedalaman relatif pasar valas Indonesia.[2]
Policy TargetAgenda BPPU 2030BI menargetkan transaksi pasar valas konvensional US$18 miliar/hari pada 2030Benchmark struktural untuk pendalaman pasar.[3]
Oil ShockPasokan minyak globalTurun 1,8 mb/d pada April; losses sejak Februari 12,8 mb/dProxy utama supply shock energi.[5]
FiskalTambahan subsidi energiEstimasi pemerintah dapat mencapai sekitar Rp100 triliunTekanan pada pilar fiscal sustainability.[6]
FundamentalPDB, inflasi, cadevPDB 5,61%; inflasi 2,42%; cadev US$146,2 miliarMenegaskan 2026 tidak identik dengan 1998.[8][9][7]
Banking BufferCAR dan NPLCAR 25,83% dan NPL gross 2,17% pada Februari 2026Buffer sistem keuangan tetap lebih kuat daripada masa krisis 1998.[13]
NarrativeFraming mediaAlarmist vs corrective narrativeMembangun Crisis Expectation Index.[11][12]
Modeling & Mathematical Architecture

Model empiris dan struktur simulasi

Bagian ini memusatkan perhatian pada spesifikasi empiris dan simulasi untuk menguji bagaimana ekspektasi pasar menjembatani oil shock, tekanan geopolitik, kedalaman pasar valas, dan tekanan rupiah.

1. Model tekanan rupiah berbasis ekspektasi

Persamaan inti yang menguji oil shock, dolar AS, risiko geopolitik, ekspektasi pasar, dan kedalaman valas terhadap tekanan rupiah.

Model A — Rupiah Stress Equation
\[ \Delta \ln(e_t) = \alpha + \beta_1 \Delta \ln(OIL_t) + \beta_2 \Delta \ln(DXY_t) + \beta_3 GPR_t + \beta_4 NARR_t – \beta_5 \ln(DEPTH_t) – \beta_6 RES_t + \varepsilon_t \] \[ \Delta \ln(e_t) = \cdots + \beta_7 \left[\Delta \ln(OIL_t) \times \frac{1}{DEPTH_t}\right] \]
  • \(e_t\): USD/IDR atau JISDOR.
  • \(OIL_t\): Brent / ICP / oil price shock.
  • \(DEPTH_t\): transaksi valas harian, DNDF, bid–ask proxy.
  • \(\beta_7>0\): oil shock lebih berbahaya saat pasar valas dangkal.

2. Model pembentukan ekspektasi: threshold Rp17.000

Mengukur percepatan ekspektasi risiko saat kurs melewati ambang psikologis tertentu.

Model B — Narrative Activation Function
\[ NARR_t = \frac{100}{1+\exp[-k(e_t-\tau)]} \] \[ MARKET\_STRESS_t = \theta_0 + \theta_1 NARR_t + \theta_2 VOL_t + u_t \]
  • \(\tau\): ambang historis, misalnya Rp17.000.
  • \(k\): sensitivitas publik/media terhadap perubahan kurs.
  • Output: indeks ekspektasi risiko berbasis ambang kurs.

3. Threshold VAR / TVAR untuk rezim ekspektasi

Menguji apakah transmisi oil shock ke rupiah, SUN, dan IHSG berubah ketika ekspektasi risiko meningkat.

Model C — Threshold VAR
\[ Y_t = \begin{cases} A_1(L)Y_{t-1}+u_{1t}, & q_t \leq \gamma \\ A_2(L)Y_{t-1}+u_{2t}, & q_t > \gamma \end{cases} \] \[ Y_t=[\Delta e_t,\; SUN10Y_t,\; IHSG_t,\; OIL_t,\; DXY_t]^\prime \]
  • \(q_t\): level kurs atau Expectation Index.
  • \(\gamma\): threshold empiris, dapat diuji di sekitar Rp17.000 atau Rp17.500.
  • Output: IRF antar-rezim.

4. New Monetary Trinity Stress Index

Indeks sintesis yang menilai seberapa besar shock menekan tiga pilar stabilitas.

Model D — NMT Stress Composite
\[ NMTI_t = w_{\pi} PS_t + w_f FS_t + w_s FISC_t \] \[ w_{\pi}+w_f+w_s=1 \] \[ PS_t=f(\pi_t,\;OIL_t,\; FX_t),\quad FS_t=f(VOL_t,\;SUN_t,\;IHSG_t,\;CDS_t) \] \[ FISC_t=f(SUBSIDY_t,\;DEFICIT_t,\;FX_t) \]
  • \(PS_t\): Price Stability Stress.
  • \(FS_t\): Financial Stability Stress.
  • \(FISC_t\): Fiscal Sustainability Stress.

5. Fiscal subsidy scenario equation

Simulasi tekanan subsidi akibat lonjakan minyak dan depresiasi rupiah.

Model E — Energy Subsidy Gap
\[ \Delta SUB_t = B_0 \left[ \lambda_1\left(\frac{P^{oil}_t}{P^{oil}_0}-1\right) + \lambda_2\left(\frac{FX_t}{FX_0}-1\right) \right] \]
  • \(B_0\): baseline anggaran subsidi energi.
  • \(\lambda_1,\lambda_2\): koefisien pass-through skenario.
  • Output: kebutuhan tambahan subsidi indikatif.

6. Event study & local projection

Mengukur reaksi pasar di sekitar tanggal tembus Rp17.000, Rp17.500, serta pengumuman kebijakan BI.

Model F — Event Study & Local Projection
\[ AR_t = R_t – E(R_t), \qquad CAR_{[t_1,t_2]}=\sum_{t=t_1}^{t_2} AR_t \] \[ y_{t+h}-y_{t-1} = \alpha_h+\beta_h Shock_t+\Gamma_h X_t+\varepsilon_{t+h} \]
  • Event: threshold kurs, intervensi BI, aturan underlying, shock minyak.
  • Variabel respons: rupiah, IHSG, yield SUN, CDS, foreign flow.
  • Output: abnormal reaction dan impulse profile.
Hasil & Pembahasan I · Simulator 1

Ekspektasi pasar: oil shock → dolar kuat → tekanan rupiah

Simulator ini menunjukkan bagaimana perubahan ekspektasi pasar memperbesar tekanan rupiah. Ubah asumsi oil shock, DXY, geopolitik, ekspektasi, kedalaman valas, dan cadangan devisa.

Prediksi skenario USD/IDRRp17.950Baseline: JISDOR Rp17.514
Depresiasi skenario+2,49%Perubahan ilustratif dari baseline
Band risikoTinggiShock energi dan kedalaman valas rendah

Kurva menunjukkan skenario perubahan USD/IDR ketika oil shock bergerak dari -20% sampai +100% dengan parameter lain mengikuti slider yang dipilih.

Rumus skenario kalkulator
\[ \widehat{\Delta e} = 0.025 \cdot Oil + 0.18 \cdot DXY + 0.004 \cdot GPR + 0.003 \cdot Narrative + 0.9\left(\frac{7.01}{Depth}-1\right) -0.012(Reserves-146.2) \]
Hasil & Pembahasan II · Simulator 2

Kedalaman pasar valas: Indonesia tertinggal dari peers

Grafik di bawah menggunakan data BIS 2025 dan menambahkan mode skenario: bagaimana posisi Indonesia berubah jika turnover harian naik mendekati target BI 2030.

Rasio vs Thailand39,8%Kapasitas transaksi relatif
Rasio vs Malaysia28,8%Kesenjangan kedalaman pasar
Status menuju target BI 203038,9%Target ilustratif US$18bn/hari
Rasio kedalaman relatif
\[ DepthGap_{IDN,j} = 1 – \frac{Turnover_{IDN}}{Turnover_j} \qquad j \in \{Thailand,\ Malaysia,\ India\} \]
Hasil & Pembahasan III · Simulator 3

Expectation-Memory Channel: mengapa Rp17.000 mengubah persepsi risiko?

Simulator ini memvisualkan kenaikan ekspektasi risiko ketika kurs melewati ambang psikologis.

Expectation Index pada Rp17.51491,4Skala 0–100
Level interpretasiSangat aktifMemori krisis mudah muncul
Jarak dari threshold+514Poin rupiah di atas ambang
Fungsi logistik narasi
\[ NARR(e) = \min\left\{ 100,\; \frac{100}{1+\exp\left[-k\cdot\frac{(e-\tau)}{100}\right]} \cdot \left(0.65+0.0035\cdot MediaAmp\right) \right\} \]
Hasil & Pembahasan IV · Simulator 4

New Monetary Trinity Stress Monitor

Stress monitor ini menunjukkan bagaimana ekspektasi negatif meneruskan oil shock ke stabilitas harga, keuangan, dan fiskal.

NMT Stress Index64,2Skala 0–100
StatusTekanan menengah-tinggiPerlu policy mix adaptif
Dominan saat iniFinancialPilar paling tertekan
Komposit New Monetary Trinity
\[ PS = 0.70\cdot InflationPressure + 0.30\cdot OilShock \] \[ FS = 0.55\cdot MarketVolatility + 0.25\cdot Narrative + 0.20\cdot FXStress \] \[ FISC = 0.70\cdot FiscalPressure + 0.30\cdot OilShock – 0.20\cdot PolicyCredibility \] \[ NMTI = \frac{PS+FS+FISC}{3} \]
Hasil & Pembahasan V · Simulator 5

Kalkulator tambahan subsidi energi dan fiscal stress

Reuters melaporkan pemerintah memperkirakan tambahan subsidi energi dapat mencapai sekitar Rp100 triliun pada 2026 akibat dampak konflik Iran dan lonjakan harga energi.[6] Kalkulator berikut menyajikan skenario indikatif, bukan estimasi fiskal resmi.

Tambahan subsidi skenarioRp107,6 TEstimasi ilustratif
Rasio terhadap baseline28,2%Tekanan tambahan
Band fiskalWaspadaFiskal terkena oil × FX shock
Rumus skenario tambahan subsidi
\[ \Delta SUB = B_0 \left[ 0.45\left(\frac{Oil_s}{Oil_0}-1\right) + 0.20\left(\frac{FX_s}{FX_0}-1\right) \right] \]
Kesimpulan Cepat & Ruang Feedback

Inti paper dalam 60 detik

Working paper ini menguji satu gagasan sederhana: tekanan rupiah dapat membesar ketika shock eksternal berubah menjadi ekspektasi negatif pasar.

🔒

Project & Roadmap Terkunci

Bagian ini memuat skala project, tahapan publikasi, dan agenda diseminasi working paper.

Password akses internal diperlukan.
Skala Project & Roadmap

Rancangan working paper menjadi program riset 12–18 bulan

Proyek disusun menjadi satu flagship paper, satu policy brief, dan satu dashboard publik untuk menghimpun feedback.

Fase 1

Bangun dataset: JISDOR, oil shock, DXY, SUN, IHSG, turnover valas, dan corpus media.

Fase 2

Estimasi model ekspektasi dan regime switching.

Fase 3

Susun policy synthesis dalam kerangka New Monetary Trinity.

Fase 4

Diseminasi: working paper, dashboard, dan feedback forum.

Rekomendasi & Implikasi

Arah kebijakan berdasarkan New Monetary Trinity

Rekomendasi dirancang pada tiga horizon: stabilisasi jangka pendek, pendalaman pasar jangka menengah, dan rekonstruksi ketahanan struktural jangka panjang.

1

Stabilisasi rupiah berbasis multi-instrumen

Perkuat kombinasi spot, DNDF, NDF offshore, swap, dan komunikasi kebijakan untuk memutus transmisi oil shock ke ekspektasi pasar.

BI InterventionDNDFExpectation Management
2

Pendalaman pasar valas sebagai reformasi struktural

Jadikan gap turnover Indonesia terhadap Malaysia dan Thailand sebagai indikator kebijakan yang dipantau publik.

FX TurnoverHedgingBPPU 2030
3

Fiscal shield terhadap oil shock

Kelola subsidi energi, kompensasi, dan efisiensi APBN secara kredibel agar shock minyak tidak menjadi shock kredibilitas fiskal.

Subsidy BufferAPBN CredibilityFiscal Sustainability
4

Bangun Narrative Risk Monitor

Monitoring sistematis terhadap narasi “1998”, “krisis rupiah”, dan “fiscal panic” agar komunikasi kebijakan lebih antisipatif.

Expectation IndexMedia CodingPolicy Communication
5

Integrasi SUN–REER–IHSG dalam early warning

Sejalan dengan disertasi, pemantauan tidak cukup pada suku bunga; harus memasukkan obligasi, nilai tukar efektif, dan pasar saham.

SUNREERIHSG
6

Energi sebagai isu makro-finansial

Oil shock harus diposisikan bukan hanya sebagai isu sektor energi, tetapi sebagai risiko langsung terhadap harga, kurs, dan fiskal.

Energy SecurityImported InflationNMT Stress Test
🔒

Implikasi Akademik Terkunci

Bagian ini memuat kontribusi akademik dan posisi kebaruan working paper.

Password akses internal diperlukan.
Implikasi Akademik

Ekstensi disertasi ke kanal ekspektasi

Working paper ini mengembangkan pembacaan baru: ekspektasi pasar sebagai penghubung antara shock eksternal, tekanan rupiah, dan kerentanan pasar valas.

Kontribusi 1

Ekspektasi pasar diposisikan sebagai kanal utama, bukan sekadar faktor tambahan.

Kontribusi 2

Kedalaman pasar valas diuji sebagai moderator tekanan rupiah.

Kontribusi 3

Analisis bergerak dari shock triwulanan ke dinamika pasar yang lebih cepat.

Sumber & Referensi Terkini

Basis data dan sumber otoritatif

Referensi dipilih untuk menopang data episode 2026, struktur pasar valas, fundamental domestik, oil shock, dan narasi media.

[1]

Bank Indonesia — JISDOR, Mei 2026

Data resmi JISDOR: Rp17.514 pada 12 Mei 2026 dan Rp17.496 pada 13 Mei 2026.

Buka sumber
[2]

BIS — Triennial Central Bank Survey 2025

Turnover pasar valas OTC per negara; Indonesia sekitar US$7,014 miliar per hari.

Buka sumber
[3]

Bank Indonesia — BPPU 2030 / LPI 2024 Bab 6

Agenda pendalaman PUVA dan target peningkatan transaksi pasar valas konvensional hingga 2030.

Buka sumber
[4]

Bank Indonesia — Tinjauan Kebijakan Moneter Maret 2026

BI menilai konflik Timur Tengah memperburuk tekanan global dan memperkuat urgensi stabilisasi rupiah.

Buka sumber
[5]

IEA — Oil Market Report, Mei 2026

Pasokan minyak global turun 1,8 mb/d pada April; total losses sejak Februari mencapai 12,8 mb/d.

Buka sumber
[6]

Reuters — Tambahan subsidi energi Indonesia akibat perang Iran

Estimasi kebutuhan tambahan subsidi energi dapat mencapai sekitar Rp100 triliun pada 2026.

Buka sumber
[7]

Bank Indonesia — Cadangan Devisa April 2026

Posisi cadangan devisa tercatat US$146,2 miliar pada akhir April 2026.

Buka sumber
[8]

BPS — Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I-2026

PDB Indonesia tumbuh 5,61% yoy pada Triwulan I-2026.

Buka sumber
[9]

BPS — Inflasi April 2026

Inflasi year-on-year April 2026 sebesar 2,42%.

Buka sumber
[10]

Reuters — Rupiah dan rupee terdampak lonjakan minyak

Reuters melaporkan mata uang negara importir minyak Asia, termasuk rupiah, lebih rentan di tengah lonjakan Brent setelah perang Iran.

Buka sumber
[11]

Kontan / Kompas & CNBC Indonesia — Narasi “Rp17.000 dan memori 1998”

Contoh sumber media yang membangun framing historis dan psikologis pada level kurs Rp17.000–Rp17.500.

Kontan / Kompas   ·   CNBC Indonesia
[12]

IDN Times & Kontan — Narasi korektif “Tidak sama dengan 1998”

Ekonom menegaskan bahwa konteks fundamental 2026 berbeda dari krisis 1998.

IDN Times   ·   Kontan
[13]

OJK — Ketahanan Perbankan Februari 2026

CAR perbankan 25,83% dan NPL gross 2,17% pada Februari 2026.

Buka sumber
[14]

White House & US State Department — Eskalasi kebijakan koersif AS terhadap Iran

Sumber primer untuk mengoperasionalkan indikator peristiwa geopolitik dan tekanan koersif dalam penelitian.

White House   ·   US State Department
Interactive Working Paper Lab · Dr. Dudi Duta Akbar · Rupiah, Oil Shock, FX Market Depth, and New Monetary Trinity