Stabilitas Ekonomi Dinamis Indonesia di Tengah Gejolak Global: Ketahanan Makro-Finansial dan Transformasi Ekonomi Produktif

Working Paper | Stabilitas Ekonomi Dinamis Indonesia di Tengah Gejolak Global: Ketahanan Makro-Finansial dan Transformasi Ekonomi Produktif
Draft Working Paper / Research Project

Stabilitas Ekonomi Dinamis Indonesia di Tengah Gejolak Global: Ketahanan Makro-Finansial dan Transformasi Ekonomi Produktif

Working paper ini menempatkan stabilitas ekonomi dinamis sebagai kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan makro‑finansial sambil memastikan investasi produktif, hilirisasi–industrialisasi, dan daya tahan ekonomi kerakyatan tetap bergerak di tengah tekanan geopolitik dan geoekonomi.

Geoeconomic Fragmentation Dynamic Economic Stability Downstreaming & Industrialization Triple Helix New Monetary Trinity Lens Hybrid Econometric–Machine Learning
01
Geopolitical–geoeconomic shock
02
Dynamic stability response
03
Downstreaming resilience
04
Triple helix governance
Executive Summary

Argumen Utama Working Paper

Paper ini dirancang sebagai dasar naskah konferensi, policy brief, dan project research yang dapat dikembangkan menjadi estimasi empiris penuh.

Inti Masalah

Fragmentasi geoekonomi, perang, volatilitas energi, pembatasan bahan baku strategis, dan perebutan rantai pasok global membuat stabilitas ekonomi Indonesia tidak bisa lagi dipahami semata sebagai inflasi rendah atau kurs yang terkendali.

Stabilitas ekonomi dinamis adalah kemampuan menjaga keseimbangan makro-finansial sambil memastikan investasi produktif, hilirisasi, industrialisasi, dan daya tahan ekonomi kerakyatan tetap bergerak.
Inflasi & Rupiah APBN & Subsidi FDI & GVC Mineral Kritis

Kebaruan Penelitian

  • Geopolitical risk dan geoeconomic fragmentation dihubungkan langsung dengan hilirisasi–industrialisasi.
  • Stabilitas ekonomi diperluas dari makro-finansial menjadi stabilitas yang menopang transformasi struktural.
  • Triple helix dibaca sebagai arsitektur koordinasi kebijakan, bukan sekadar jargon inovasi.
  • Indonesia diposisikan sebagai kasus strategis emerging market dalam merespons tatanan geoekonomi baru.
Introduction

Stabilitas Tidak Lagi Bersifat Defensif

Naskah ini memadukan temuan bibliometrik berbasis ketidakterhubungan literatur dengan konteks kebijakan global–Indonesia terkini.

1. Latar Belakang Global

Dunia memasuki fase policy-driven geoeconomic fragmentation: integrasi global tetap berlangsung, tetapi semakin dipagari kepentingan keamanan nasional, rivalitas teknologi, dan kontrol atas komoditas strategis. Gejala ini memengaruhi perdagangan, investasi, difusi teknologi, dan kepercayaan pasar.

Pada 2026, konflik di Timur Tengah memperkuat tekanan tersebut melalui kenaikan risiko energi, inflasi, dan pengetatan kondisi finansial. Bagi emerging markets, guncangan ini diterjemahkan menjadi tekanan kurs, risiko capital outflow, dan beban fiskal yang lebih besar.

Research trigger: ketika geopolitik memengaruhi minyak, dolar AS, cadangan devisa, subsidi energi, investasi, dan rantai pasok industri, maka stabilitas ekonomi harus dirumuskan ulang secara lebih dinamis.

2. Latar Belakang Indonesia

Indonesia menghadapi dua agenda secara bersamaan. Pertama, menjaga stabilitas jangka pendek melalui policy mix moneter, fiskal, dan sektor keuangan. Kedua, menjaga keberlanjutan transformasi struktural melalui hilirisasi, manufaktur bernilai tambah, dan integrasi ke rantai nilai strategis.

Dari perspektif New Monetary Trinity, stabilitas harga, stabilitas sistem keuangan, dan keberlanjutan fiskal perlu disinergikan dengan agenda industrialisasi, bukan ditempatkan sebagai agenda terpisah.

Working paper ini bergerak dari “risk transmission” menuju “strategic transformation”.

3. Research Gap Berbasis Ketidakterhubungan Literatur

Yang Sudah Banyak Terhubung Yang Belum Terhubung Kuat Implikasi Gap
Geopolitical risk ↔ monetary policy Geopolitical risk ↔ hilirisasi Belum ada jembatan langsung antara shock global dan strategi industri nasional.
Financial stability ↔ exchange rate Financial stability ↔ industrialisasi Stabilitas masih dibaca defensif, belum sebagai prasyarat transformasi struktural.
Fragmentation ↔ trade ↔ FDI Fragmentation ↔ domestic value-added Perlu menguji apakah hilirisasi menjadi buffer geoekonomi Indonesia.
Sustainable development ↔ energy transition Energy transition ↔ hilirisasi mineral kritis Indonesia Peluang membangun industri hijau belum cukup disatukan dengan stabilitas makro.
Emerging markets ↔ shock vulnerability Emerging markets ↔ Indonesia Maju Indonesia dapat menjadi model kasus transformasi geoekonomi negara berkembang.
Innovation ecosystem Triple helix ↔ stabilitas ekonomi dinamis Koordinasi pemerintah–bisnis–akademisi belum diletakkan sebagai mekanisme resiliensi.
Conceptual Architecture

Kerangka Analitis Integratif

Model konseptual menyatukan tekanan geopolitik, stabilitas ekonomi dinamis, hilirisasi, triple helix, dan Indonesia Maju.

A. Tekanan Eksternal

  • Geopolitical Risk Index (GPR)
  • Geoeconomic Fragmentation Index (GEF)
  • Oil/Energy Shock
  • Trade Restriction Intensity
  • Global Financial Tightening

B. Kapasitas Respons Indonesia

  • Policy mix moneter–fiskal
  • Ketahanan APBN dan subsidi
  • Cadangan devisa & stabilisasi kurs
  • Hilirisasi dan kapasitas manufaktur
  • Triple helix governance

C. Outcome Strategis

  • Dynamic Economic Stability Index
  • Downstreaming Resilience Index
  • Productive FDI Retention
  • Industrial Deepening
  • Indonesia Maju Readiness Score

Logika Kausal yang Diuji

Geopolitical–Geoeconomic Shock → Macro-Financial Pressure → Policy Mix Response → Dynamic Economic Stability → Downstreaming–Industrialization → Indonesia Maju

Triple helix berperan sebagai mekanisme kelembagaan yang memperkuat transmisi dari stabilitas menuju transformasi industri.

Research Objectives

Tujuan, Pertanyaan, dan Hipotesis

Disusun dari novelty berbasis ketidakterhubungan literatur dan diselaraskan dengan tema ISEI 2026.

Tujuan Penelitian

  • Menganalisis bagaimana tekanan geopolitik dan geoekonomi memengaruhi stabilitas ekonomi dinamis Indonesia.
  • Menguji apakah hilirisasi–industrialisasi berperan sebagai mekanisme resiliensi struktural terhadap shock global.
  • Mengukur peran triple helix dalam memperkuat hubungan antara stabilitas ekonomi dan transformasi industri.
  • Menyusun model kebijakan adaptif menuju Indonesia Maju yang konsisten dengan pendekatan New Monetary Trinity.

Pertanyaan Penelitian

  • Apakah guncangan geopolitik mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia secara linier atau berbasis rezim?
  • Apakah kapasitas hilirisasi menahan dampak negatif shock global terhadap investasi dan sektor produktif?
  • Apakah sinergi pemerintah–bisnis–akademisi mempercepat stabilisasi dan industrial deepening?
  • Bagaimana respons kebijakan berubah antarperiode ketika tekanan global membesar?

Hipotesis Utama

H1. Geopolitical–geoeconomic shocks menurunkan stabilitas ekonomi dinamis Indonesia.
H2. Hilirisasi–industrialisasi melemahkan dampak negatif shock global terhadap stabilitas dan investasi.
H3. Triple helix memperkuat efek hilirisasi terhadap ketahanan ekonomi.
H4. Hubungan shock global dan stabilitas bersifat state-dependent serta time-varying.
Methodology

Arsitektur Metodologis Empiris

Metode utama mengadaptasi logika disertasi: baseline jangka pendek–panjang, rezim, robustness Bayesian, dinamika parameter lintas waktu, lalu diperkuat machine learning untuk klasifikasi tekanan, prediksi risiko, dan interpretasi faktor dominan.

1. Konstruksi Variabel dan Indeks

GESIt = w1·GPRt + w2·OilShockt + w3·TradeRestrictt + w4·GlobalTighteningt

GESI = Geopolitical–Economic Stress Index.

DESIt = 100 − [a·InflationGapt + b·FXStresst + c·FiscalPressuret + d·YieldStresst]

DESI = Dynamic Economic Stability Index.

DRIt = λ1·DVARt + λ2·ManufacturingVAt + λ3·DownstreamFDIt + λ4·IndustrialExportComplexityt

DRI = Downstreaming Resilience Index.

THIt = μ1·PolicyCoordination + μ2·IndustryParticipation + μ3·AcademicInnovation

THI = Triple Helix Index.

2. Sumber Data yang Direkomendasikan

DimensiContoh VariabelSumber
Shock globalGPR, harga minyak, export restriction, global financial tighteningIMF, World Bank, OECD, Caldara–Iacoviello GPR
StabilitasInflasi, BI-Rate, REER, IHSG, yield SBN, cadangan devisaBPS, BI, Kemenkeu
HilirisasiInvestasi hilirisasi, DVAR, manufaktur VA, ekspor logam/produk turunanBKPM, BPS, World Bank, UN Comtrade
Triple helixR&D collaboration, paten bersama, kemitraan kampus–industri, policy forumKemdiktisaintek, BRIN, Bappenas, survei pakar
Outcome nasionalPertumbuhan, produktivitas, kapasitas ekspor, daya tahan UMKMBPS, Kemenkop UKM, BI, Kemenperin

Model 1 — ARDL: Hubungan Jangka Pendek dan Jangka Panjang

ARDL digunakan sebagai baseline untuk menguji apakah tekanan geopolitik–geoekonomi, hilirisasi, dan triple helix memengaruhi stabilitas ekonomi secara simultan dalam horizon jangka pendek dan jangka panjang.

ΔDESIt = α0 + ΣφiΔDESIt−i + ΣβjΔGESIt−j + ΣγkΔDRIt−k + ΣδmΔTHIt−m + ψ1DESIt−1 + ψ2GESIt−1 + ψ3DRIt−1 + ψ4THIt−1 + εt

Uji Bound Testing memeriksa ada/tidaknya hubungan level jangka panjang. Koefisien jangka panjang diharapkan: GESI negatif, DRI positif, THI positif terhadap DESI.

Model 2 — TVECM: Rezim Normal vs Rezim Tekanan Tinggi

TVECM digunakan untuk menguji apakah penyesuaian menuju keseimbangan berbeda ketika shock global memasuki ambang tertentu. Ambang dapat dibangun dari ECT atau indeks shock eksternal.

ΔYt = { μ1 + α1ECTt−1 + ΣΓ1iΔYt−i + u1t, jika ECTt−1 ≤ θ
μ2 + α2ECTt−1 + ΣΓ2iΔYt−i + u2t, jika ECTt−1 > θ }
Yt = [DESIt, GESIt, DRIt, THIt, FDIt, MVAt]’

Rezim bawah dapat dibaca sebagai fase tekanan tinggi/krisis; rezim atas sebagai fase normal. Fokus interpretasi: apakah DRI dan THI mempercepat koreksi keseimbangan ketika shock membesar.

Model 3 — BVECM: Robustness Check Bayesian

BVECM dipakai untuk menguji konsistensi impulse response dan mengurangi sensitivitas hasil terhadap spesifikasi model tunggal. Prior Bayesian dapat membantu ketika jumlah variabel relatif banyak dan dinamika makro-keuangan kompleks.

ΔYt = ΠYt−1 + ΣΓiΔYt−i + BZt + εt,   Π = αβ’
Posterior(Θ | Data) ∝ Likelihood(Data | Θ) × Prior(Θ)

Output utama: posterior mean, credible interval, dan Bayesian IRF untuk shock GESI terhadap DESI, DRI, FDI, dan manufaktur.

Model 4 — TVP‑VECM: Parameter yang Berubah Antarperiode

TVP‑VECM menilai apakah sensitivitas Indonesia terhadap shock geopolitik dan efektivitas hilirisasi berubah dari waktu ke waktu, misalnya pada fase pandemi, normalisasi global, dan eskalasi konflik 2026.

ΔYt = αtβ’tYt−1 + ΣΓi,tΔYt−i + εt
αt = αt−1 + ηt,   Γt = Γt−1 + νt

Fokus: apakah koefisien shock global terhadap DESI makin negatif pada periode tekanan tinggi, dan apakah koefisien hilirisasi/triple helix menjadi lebih penting sebagai buffer.

Model 5 — Interpretable Machine Learning: Early Warning, Regime Prediction, dan Feature Attribution

Machine learning tidak menggantikan estimasi ekonometrika, tetapi menjadi lapis prediktif untuk membaca pola nonlinear, interaksi antarrisiko, dan kemungkinan perpindahan menuju rezim tekanan tinggi. Target klasifikasi dapat dibangun dari rezim TVECM, sedangkan target regresi dapat berupa nilai DESI atau penurunan stabilitas pada horizon satu hingga empat triwulan.

Xt = [GESIt, OilShockt, FXStresst, FiscalPressuret, YieldStresst, DRIt, THIt, FDIt, MVAt]
P(Regimet+1=1 | Xt) = fML(Xt),   DESÎt+h = gML(Xt)

Algoritma Kandidat

Logistic baseline, Random Forest, Gradient Boosting / XGBoost, dan Adaptive Trees untuk menangkap nonlinearitas dan structural change.

Validasi

Rolling-origin validation; AUC, F1-score, Brier Score untuk klasifikasi; RMSE dan MAE untuk prediksi indeks.

Interpretabilitas

SHAP / feature contribution digunakan untuk memeringkat kanal risiko dan kekuatan peredam domestik.

Integrasi Model

Output ML dibandingkan dengan threshold TVECM dan lintasan TVP‑VECM agar prediksi tetap terikat pada logika ekonomi.

Keluaran yang diharapkan: model ML mampu memberi skor peringatan dini terhadap tekanan stabilitas ekonomi dinamis, sekaligus menunjukkan apakah risiko paling dominan berasal dari geopolitik, fiskal, kurs, energi, atau lemahnya transformasi domestik.

Tahapan Estimasi yang Direkomendasikan

1
Bangun indeks.
Normalisasi variabel dan konstruksi GESI, DESI, DRI, THI.
2
Uji sifat data.
ADF/PP/KPSS, uji break, korelasi awal, dan integrasi I(0)/I(1).
3
Estimasi ARDL.
Bound test, ECM, short-run dynamics, long-run multipliers.
4
Estimasi TVECM.
Threshold search, SupLM test, pemisahan rezim, IRF per rezim.
5
Validasi BVECM.
Posterior, credible intervals, Bayesian IRF.
6
Estimasi TVP‑VECM.
Time-varying coefficients, perubahan respons antarperiode.
7
Bangun model machine learning.
Klasifikasi rezim tekanan, prediksi DESI, interpretasi SHAP/feature contribution, dan rolling validation.
8
Terjemahkan ke kebijakan.
Policy mix matrix, indikator trigger, early-warning dashboard, dan prioritas triple helix.
Result & Discussion

Kerangka Hasil Empiris yang Akan Diuji

Bagian ini disusun sebagai interpretive result architecture—siap diganti dengan tabel estimasi aktual ketika data final diproses.
Result Block A

ARDL: Shock Global dan Stabilitas Dinamis

Keluaran yang diuji: apakah kenaikan GESI secara statistik menurunkan DESI, dan apakah DRI serta THI mampu memperkuat stabilitas jangka panjang. Bila koefisien GESI negatif dan signifikan, sementara DRI/THI positif, maka stabilitas Indonesia bukan hanya dipengaruhi tekanan eksternal, tetapi juga kualitas transformasi domestik.

Expected sign: ∂DESI/∂GESI < 0; ∂DESI/∂DRI > 0; ∂DESI/∂THI > 0
Diskusi kunci: stabilitas ekonomi dinamis = stabilitas yang menjaga ruang transformasi, bukan sekadar menahan gejolak.
Result Block B

TVECM: Perubahan Rezim

Keluaran yang diuji: apakah efek shock geopolitik menjadi lebih kuat ketika perekonomian berada pada rezim tekanan tinggi. Dalam rezim tersebut, hilirisasi dan triple helix diuji apakah mempercepat koreksi menuju keseimbangan.

If αcrisis faster than αnormal after policy support → adaptive resilience confirmed
Diskusi kunci: hubungan tidak linier; kebijakan perlu state-contingent.
Result Block C

BVECM: Robustness Respons Dinamis

Keluaran yang diuji: IRF shock GESI terhadap DESI, DRI, FDI, dan MVA. Bila impuls negatif shock global tetap konsisten dalam interval kredibel Bayesian, maka hasil tidak bergantung pada satu spesifikasi deterministik.

IRF(GESI → DESI, DRI, FDI, MVA) with 68% and 95% credible intervals
Diskusi kunci: robustness penting karena hubungan makro–industri pada emerging market bersifat kompleks.
Result Block D

TVP‑VECM: Sensitivitas yang Berubah Waktu

Keluaran yang diuji: apakah koefisien shock global terhadap stabilitas makin besar pada periode guncangan energi, dan apakah koefisien DRI/THI sebagai buffer ikut menguat.

βGESI→DESI,t, βDRI→DESI,t, βTHI→DESI,t are time-varying
Diskusi kunci: strategi Indonesia tidak boleh statis; respons perlu adaptif lintas siklus.
Result Block E

Machine Learning: Early-Warning Probability dan Faktor Dominan Tekanan

Keluaran yang diuji: apakah model tree-based atau adaptive learning mampu memprediksi rezim tekanan tinggi dan penurunan DESI lebih baik dibanding baseline linear/logistic. Hasil akan dibaca bersama threshold TVECM dan perubahan parameter TVP‑VECM agar prediksi tidak kehilangan dasar ekonomi.

Target 1: Regimet+1 ∈ {Normal, Tekanan Tinggi};   Target 2: ΔDESIt+h, h = 1…4 triwulan
Diskusi kunci: machine learning memperkuat fungsi early warning, sedangkan ekonometrika menjelaskan arah hubungan, rezim, dan mekanisme penyesuaian jangka panjang.

Policy Discussion Matrix

Kondisi Gejala Respons Moneter–Fiskal Respons Hilirisasi Peran Triple Helix
Normal Shock global rendah, stabilitas terjaga Kalibrasi suku bunga, jaga inflasi dan kredibilitas fiskal Percepat domestic value-added dan produktivitas Riset terapan, standardisasi teknologi, peta jalan industri
Tekanan Menengah Minyak naik, rupiah volatil, investasi menunggu Stabilisasi pasar, komunikasi kebijakan, APBN sebagai shock absorber Prioritaskan proyek hilirisasi yang menjaga pasokan strategis Task force pemerintah–bisnis–akademisi untuk supply chain risk
Krisis/Fragmentasi Tinggi Capital outflow, subsidi naik, ekspor terganggu Policy mix pre-emptive, stabilisasi kurs, targeted fiscal buffer Reorientasi ke industri strategis dan substitusi input kritis Laboratorium kebijakan cepat, data sharing, simulasi skenario nasional
Interactive Research Lab

Kalkulator dan Simulator Skenario

Angka berikut bersifat ilustratif dan dirancang sebagai alat komunikasi riset—bukan hasil estimasi final.

Simulator 1 — Shock Geoekonomi vs Ketahanan Indonesia

Output Utama

GESI
43.8
Tekanan geopolitik–geoekonomi
DESI
73.5
Stabilitas ekonomi dinamis
DRI
68.0
Ketahanan hilirisasi
Transformasi
67.0
Kesiapan Indonesia Maju
Status: stabilitas cukup kuat, tetapi tekanan global perlu diantisipasi.

Simulator 2 — TVECM Regime Classifier

Klasifikasi rezim berbasis nilai ECT dan threshold. Nilai bawaan θ = −6,03 hanya ilustrasi metodologis yang terinspirasi dari desain threshold pada disertasi.



Rezim: Normal / tekanan terkendali.
Respons yang disarankanPreventive mix
Kecepatan koreksiSedang

Simulator 3 — ARDL Long-Run Impact Calculator

Mengilustrasikan perubahan DESI akibat shock GESI, penguatan DRI, dan perbaikan THI.

ΔDESI = −0.42·ΔGESI + 0.31·ΔDRI + 0.27·ΔTHI
Estimasi ilustratif: DESI berubah sebesar −0.18 poin.

Simulator 4 — Panel Ketahanan Struktural

Membaca kekuatan relatif stabilitas, hilirisasi, triple helix, dan risiko fiskal.

Macro-Financial Buffer
72
Downstreaming Buffer
68
Triple Helix Capacity
60
Fiscal Stress
36
Machine Learning Lab

Simulator 5 — Early-Warning Probability & Feature Contribution

Ilustrasi classifier nonlinear, bukan hasil training final.
Probabilitas Rezim Tekanan Tinggi
36.4%
Risiko menengah: penguatan policy mix dan investasi produktif tetap diperlukan.
p = σ(z),   z = −4.2 + 0.04·GESI + 0.03·FiscalStress − 0.025·Policy − 0.018·DRI − 0.015·THI + 0.0005·GESI·FiscalStress

Kontribusi Fitur Ilustratif

GESI
0
Fiscal Stress
0
Policy Mix
0
DRI
0
THI
0
Policy Implications

Implikasi Akademik dan Kebijakan

Jembatan dari temuan penelitian menuju desain kebijakan Indonesia Maju yang adaptif.

Implikasi Akademik

  • Memperluas stabilitas ekonomi dari konsep defensif ke konsep transformasional.
  • Menghubungkan studi geoeconomic fragmentation dengan industrial policy Indonesia.
  • Menempatkan triple helix sebagai variabel kelembagaan yang terukur.
  • Membawa kerangka New Monetary Trinity ke isu hilirisasi dan ketahanan geoekonomi.

Implikasi Kebijakan

  • Policy mix perlu memiliki indikator pemicu berbasis shock global, tekanan domestik, dan early-warning score berbasis machine learning.
  • Hilirisasi perlu dinilai bukan hanya dari investasi masuk, tetapi dari DVAR, produktivitas, dan keterkaitan industri.
  • Triple helix harus dilembagakan dalam desain proyek strategis nasional, bukan sekadar konsultasi ad hoc.
  • Indonesia Maju membutuhkan stabilitas yang menjaga daya beli, APBN, dan industrial upgrading sekaligus.

Kesimpulan Draft

Paper ini mengusulkan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia di tengah geopolitik dan geoekonomi harus dibaca sebagai stabilitas ekonomi dinamis: suatu kapasitas untuk meredam shock eksternal sambil mempertahankan laju transformasi struktural. Dalam kerangka ini, hilirisasi–industrialisasi berfungsi sebagai respons geoekonomi, sedangkan triple helix menjadi arsitektur koordinasi yang memungkinkan respons kebijakan bergerak dari sekadar stabilisasi menuju rekonstruksi kapasitas produksi nasional.

Core contribution: menghubungkan risiko global, stabilitas makro-finansial, industrialisasi, kolaborasi kelembagaan, dan Indonesia Maju dalam satu model empiris yang state-dependent, time-varying, dan diperkaya early-warning machine learning.
Selected References

Sumber Utama untuk Pengembangan Paper

Tautan berikut dapat dipakai untuk memperkuat introduction, literature review, model justification, dan policy discussion.

IMF — Geoeconomic Fragmentation and the Future of Multilateralism

Fondasi konseptual tentang fragmentasi global dan kanal dampaknya.

Buka sumber

IMF — World Economic Outlook, April 2026

Konteks perang, komoditas, inflasi, dan pengetatan finansial global.

Buka sumber

World Bank — Commodity Markets Outlook, April 2026

Shock komoditas dan energi sebagai transmisi geopolitik.

Buka sumber

Bank Indonesia — RDG April 2026

Respons stabilisasi nilai tukar di tengah memburuknya kondisi global.

Buka sumber

KSSK II 2026

Asesmen stabilitas sistem keuangan Indonesia di tengah eskalasi risiko global.

Buka sumber

Kemenkeu — Ketahanan APBN di Tengah Dinamika Global

APBN, subsidi, dan perlindungan daya beli sebagai bagian stabilitas ekonomi.

Buka sumber

Bappenas — Industri Prioritas RPJPN 2025–2045

Transformasi ekonomi nasional dan prioritas industrialisasi.

Buka sumber

Bappenas — Pengusaha dan Akademisi dalam RPJPN

Dasar triple helix dalam agenda pembangunan Indonesia 2045.

Buka sumber

BKPM — Percepatan 13 Proyek Hilirisasi Strategis Tahap II

Konteks investasi hilirisasi nasional 2026.

Buka sumber

IEA — Global Critical Minerals Outlook 2025

Mineral kritis, rantai pasok, dan persaingan geoekonomi transisi energi.

Buka sumber

OECD — Export Restrictions on Critical Raw Materials

Tren pembatasan ekspor bahan baku strategis.

Buka sumber

World Bank — Nickel, Steel and Cars

Hilirisasi nikel, domestic value added, dan trade-off produktivitas.

Buka sumber

Pesaran, Shin, Smith (2001)

Dasar ARDL dan bounds testing untuk hubungan level.

Buka sumber

Hansen & Seo (2002)

Dasar threshold cointegration dan TVECM dua rezim.

Buka sumber

Gao, Peng, Yan (2025)

Time-varying vector error-correction models untuk dinamika parameter.

Buka sumber

Koop — Bayesian Multivariate Time Series Methods

Landasan Bayesian VAR/VECM dan inferensi dinamis.

Buka sumber

Bank of England — Credit Growth, the Yield Curve and Financial Crisis Prediction

Machine learning untuk early-warning krisis dan interpretasi berbasis Shapley values.

Buka sumber

BIS — Predicting Financial Market Stress with Machine Learning

Tree-based ML untuk memprediksi distribusi tekanan pasar keuangan pada horizon menengah.

Buka sumber

OECD — Adaptive Trees: A New Approach to Economic Forecasting

Model ML untuk nonlinearitas, interaksi kompleks, dan perubahan struktural.

Buka sumber

IMF — Nowcasting Economic Growth with Machine Learning and Satellite Data

Contoh pemanfaatan ML untuk estimasi indikator makro saat data konvensional terbatas.

Buka sumber
Catatan: Panel simulator tidak menggantikan estimasi statistik. Ia dirancang untuk memperjelas logika model, menerjemahkan hasil ke bahasa kebijakan, menguji logika early warning, dan memudahkan feedback pada tahap pengembangan working paper.
Working Paper Interactive Dashboard
Disusun untuk tema: Penguatan Sinergi Pemerintah, Pelaku Usaha, dan Akademisi dalam Mendorong Stabilitas Ekonomi Dinamis, Hilirisasi‑Industrialisasi, serta Ekonomi Kerakyatan Menuju Indonesia Maju.