Adam Smith Wealth of Nations (Public Domain)
👉 https://www.ibiblio.org/ml/libri/s/SmithA_WealthNations_p.pdf
1) Ide Besar Buku: “Wealth” = Kapasitas Produksi Tahunan & Pembagiannya
Smith menekankan bahwa kemakmuran masyarakat terutama tercermin pada nilai tukar (exchangeable value) dari seluruh produksi tahunan. Dalam bahasa akuntansi makro yang sangat sederhana, ide ini bisa ditulis sebagai identitas:
di mana adalah “annual revenue”/nilai total output tahunan, dan adalah nilai tiap komoditas. Smith menyatakan bahwa pendapatan tahunan masyarakat pada dasarnya sama dengan nilai tukar dari produksi tahunan industrinya.
Namun, fokus Smith bukan hanya “berapa besar ”, melainkan bagaimana Y tercipta (mekanisme produktivitas) dan bagaimana Y didistribusikan menjadi sumber pendapatan utama: upah, profit, dan rent. Wealth-Nations
2) Nilai Tukar & “Labour-Commanded Value” (Nilai Riil Diukur oleh Tenaga Kerja)
Smith membedakan ukuran nilai yang “riil” vs “nominal”. Intinya: nilai riil komoditas dapat dipandang sebagai berapa banyak tenaga kerja yang bisa “dibeli/diperintah” oleh komoditas itu (labour commanded).
Model ringkas yang mewakili gagasannya:
Artinya nilai riil komoditas i sebanding dengan kuantitas tenaga kerja yang dapat “diperintah” oleh komoditas tersebut. Smith juga menekankan bahwa labour adalah “standar riil” sedangkan money hanya ukuran nominal.
3) Harga Riil vs Harga Nominal (Real vs Nominal Price) dan Implikasi Praktis
Smith menegaskan bahwa tenaga kerja (dan komoditas) punya harga riil dan harga nominal: harga riil adalah daya beli terhadap kebutuhan hidup, harga nominal adalah jumlah uangnya. Wealth-Nations
Representasi modern yang sangat sederhana (untuk membantu logika WordPress/kelas):
dengan = upah riil (daya beli), = upah uang, dan = indeks harga kebutuhan. Inti Smith: kesejahteraan pekerja mengikuti , bukan sekadar . Wealth-Nations
Smith juga menjelaskan bahwa dalam transaksi sehari-hari pedagang cenderung melihat harga uang (money price) karena itu yang menentukan untung-rugi di pasar lintas lokasi.
4) “Harga” sebagai Penjumlahan Upah–Profit–Rent (Model Distribusi Klasik)
Salah satu blok analitis paling penting: harga komoditas pada akhirnya “terurai” menjadi tiga komponen: upah (wages), profit (profits of stock), dan rent (rent of land). Wealth-Nations
Model inti yang bisa langsung dipakai:
dengan:
- = harga komoditas,
- = bagian untuk upah tenaga kerja,
- = bagian profit pemilik modal/stock,
- = bagian rent pemilik tanah.
Smith memberi ilustrasi pada jagung (corn): sebagian harga membayar rent tuan tanah, sebagian upah/biaya tenaga kerja, dan sebagian profit pengusaha tani. Wealth-Nations Ia juga menekankan bahwa profit dan upah “diatur oleh prinsip berbeda” dan ketika modal hadir, hasil kerja tidak sepenuhnya menjadi milik pekerja karena ada bagian yang “wajar” untuk profit modal.
5) Natural Price vs Market Price: Mekanisme “Gravitasi” Harga
Smith membedakan:
- Natural price = harga yang cukup untuk membayar , , pada tingkat normal/alami.
- Market price = harga aktual yang terjadi.
Smith mendefinisikan natural price sebagai harga yang cukup untuk membayar rent, upah, dan profit “menurut natural rates”.
Model ringkas:
Smith menjelaskan bahwa market price terus “mengarah/gravitate” ke natural price, meskipun ada kejadian, sebab alamiah, atau regulasi yang bisa membuatnya lama di atas natural price.
Ia juga memberi contoh dinamika stok pasar (overstock/understock): ketika pasar “kekurangan” barang atau tenaga kerja, harga/profit/upah bisa naik; ketika “kelebihan”, bisa turun.
6) Profit, Modal (Stock), dan Proporsionalitas Sederhana
Smith menekankan bahwa profit terkait dengan modal yang dikeluarkan: semakin besar modal yang harus “menggantikan modal sebelumnya + membayar upah”, semakin besar basis profit. Pada manufaktur bertahap (spinners → weavers), modal tahap hilir lebih besar sehingga profit bertingkat. Wealth-Nations
Model ringkas yang selaras dengan narasi itu:
dengan = stock/capital yang diajukan, = tingkat profit “normal” di lingkungan tersebut (ordinary rate). Ini bukan rumus eksplisit Smith, tetapi bentuk paling ringkas untuk menangkap kalimat “profits must always bear some proportion to the capital.” Wealth-Nations
7) Pembagian Produksi Tahunan: Penggantian Modal vs Pendapatan
Smith menjelaskan bahwa produksi tahunan ketika “pertama kali keluar” dari tanah atau tangan pekerja produktif, secara alami terbagi dua: (i) bagian untuk mengganti/renew capital (provisions, materials, finished work yang ditarik dari capital), dan (ii) bagian untuk menjadi revenue (profit pemilik capital atau rent pemilik tanah).
Representasi ringkas:
Sedangkan pembayaran upah pekerja produktif, dalam kerangka Smith, terkait dengan bagian capital yang diputar kembali (karena capital “membayar upah productive labour”).
8) Produktif vs Tidak Produktif: Dampak pada Pertumbuhan Output Tahun Depan
Smith membedakan productive labour (meninggalkan “jejak nilai” pada komoditas yang bisa dijual) vs unproductive labour (jasa yang “lenyap saat diproduksi”). Ia menempatkan banyak profesi jasa tertentu (termasuk aparat negara) sebagai “unproductive” dalam arti sempit—bukan berarti tidak berguna, tetapi tidak menghasilkan komoditas yang dapat “membeli kembali” jasa setara di masa depan.
Konsekuensi makro versi Smith: semakin besar porsi output tahunan untuk memelihara “unproductive hands”, semakin kecil sisa untuk productive, sehingga output tahun depan bisa lebih kecil.
Model ringkas:
9) “Invisible Hand” sebagai Mekanisme Alokasi Modal ke Industri Domestik
Smith menjelaskan kecenderungan individu untuk menempatkan modal pada aktivitas yang paling menguntungkan dan (dalam kondisi tertentu) paling mendukung industri domestik, yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan tahunan masyarakat—meskipun itu bukan niat awalnya. Ini yang ia sebut “led by an invisible hand”.
Representasi ringkas (untuk menangkap idenya):