Ketika The Wealth of Nations terbit pada tahun 1776, Adam Smith sebenarnya sedang membongkar cara lama manusia memahami “kekayaan”. Pada zamannya, banyak negara masih meyakini bahwa kekayaan identik dengan cadangan emas dan perak. Smith menolak pandangan ini secara tegas. Bagi Smith, kekayaan suatu bangsa tidak terletak pada logam mulia yang disimpan, melainkan pada kemampuan masyarakatnya untuk memproduksi barang dan jasa secara berkelanjutan.
Dalam bahasa sederhana, sebuah negara kaya bukan karena apa yang ia simpan, tetapi karena apa yang ia hasilkan setiap tahun dan bagaimana hasil itu dibagi.
Kekayaan Bangsa sebagai Nilai Produksi Tahunan
Smith mendefinisikan kekayaan bangsa sebagai annual revenue—nilai tukar dari seluruh produksi tahunan masyarakat. Secara analitis, gagasan ini dapat dipadatkan sebagai:
Y = Σ (Pi × Qi)
Artinya, total pendapatan nasional adalah penjumlahan nilai semua barang yang diproduksi. Namun Smith tidak berhenti pada angka agregat. Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana produksi itu terjadi dan siapa yang menerima hasilnya?
Tenaga Kerja sebagai Ukuran Nilai yang Sebenarnya
Menurut Smith, uang bukanlah ukuran nilai yang sejati. Uang hanya alat tukar. Ukuran nilai yang lebih mendasar adalah tenaga kerja. Sebuah barang bernilai tinggi jika ia mampu “memerintah” atau membeli lebih banyak tenaga kerja.
Dengan kata lain, nilai riil suatu barang dapat dipahami sebagai jumlah tenaga kerja yang bisa diperoleh melalui pertukaran barang tersebut. Pandangan ini menjadi fondasi awal teori nilai tenaga kerja yang kelak berkembang dalam ekonomi klasik.
Harga Riil dan Harga Nominal: Mengapa Gaji Naik Belum Tentu Sejahtera
Smith membedakan antara harga nominal dan harga riil. Harga nominal adalah jumlah uang yang diterima, sedangkan harga riil adalah daya beli uang tersebut terhadap kebutuhan hidup.
Secara sederhana:
w_riil = w_nominal / P
Karena itu, kenaikan upah belum tentu meningkatkan kesejahteraan jika harga-harga naik lebih cepat. Pesan Smith ini tetap relevan hingga hari ini, terutama ketika masyarakat merasa “gaji naik tapi hidup makin mahal”.
Dari Harga ke Distribusi: Upah, Profit, dan Rent
Salah satu kontribusi terbesar Smith adalah menjelaskan bahwa harga suatu barang pada akhirnya terurai menjadi tiga komponen utama:
P = W + Π + R
- W (wages): upah tenaga kerja
- Π (profits): keuntungan pemilik modal
- R (rent): sewa pemilik tanah
Di sinilah ekonomi menjadi persoalan sosial dan politik. Produksi bukan hanya soal efisiensi, tetapi juga soal pembagian hasil antara pekerja, pemilik modal, dan pemilik sumber daya.
Harga Alamiah dan Harga Pasar: Mekanisme Penyesuaian Otomatis
Smith membedakan harga alamiah (natural price) dan harga pasar (market price). Harga alamiah adalah harga yang cukup untuk membayar upah, profit, dan rent pada tingkat normal. Harga pasar bisa berada di atas atau di bawahnya.
Namun, Smith percaya bahwa persaingan akan mendorong harga pasar untuk “mengarah” kembali ke harga alamiah. Mekanisme inilah yang membuat pasar bekerja tanpa perlu komando terpusat.
Modal, Profit, dan Dorongan Investasi
Profit, menurut Smith, selalu terkait dengan modal yang diajukan. Semakin besar modal yang digunakan, semakin besar potensi profit—selama aktivitas tersebut produktif.
Secara ringkas:
Π = r × K
Di sini, investasi bukan sekadar akumulasi kekayaan pribadi, tetapi motor yang menggerakkan produksi, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi.
Tenaga Kerja Produktif dan Tidak Produktif
Smith membedakan tenaga kerja produktif, yang menghasilkan barang bernilai tukar, dan tenaga kerja tidak produktif, yang jasanya langsung habis dikonsumsi. Perbedaan ini penting karena hanya tenaga kerja produktif yang mampu memperbesar kapasitas produksi masa depan.
Implikasinya jelas: jika terlalu banyak sumber daya terserap untuk aktivitas yang tidak meningkatkan produksi, pertumbuhan jangka panjang akan melemah.
“Invisible Hand”: Ketertiban dari Kepentingan Pribadi
Salah satu gagasan paling terkenal dari Smith adalah invisible hand. Ketika individu mengejar keuntungan pribadi melalui investasi dan produksi, mereka secara tidak langsung meningkatkan pendapatan nasional.
Secara sederhana:
Modal → mencari profit → produksi meningkat → pendapatan nasional naik
Tanpa niat mulia sekalipun, sistem pasar dapat menghasilkan keteraturan ekonomi—selama institusinya memungkinkan persaingan yang sehat.
Mengapa The Wealth of Nations Tetap Relevan
Lebih dari dua abad setelah diterbitkan, gagasan Adam Smith tetap hidup. Ketika kita membahas produktivitas, upah riil, distribusi pendapatan, peran modal, hingga keterbatasan intervensi negara, kita sesungguhnya sedang mengulang pertanyaan-pertanyaan yang sudah diajukan Smith sejak 1776.
Pesan intinya sederhana namun kuat: kekayaan bangsa dibangun dari kerja produktif, institusi yang mendorong produksi, dan pembagian hasil yang berkelanjutan.