Rules vs Discretion dalam Kebijakan Moneter: Time Inconsistency, Godaan Inflasi, dan Peran Reputasi

Dalam rezim diskresi, otoritas moneter memiliki ruang untuk menciptakan inflasi lebih tinggi dari yang diharapkan publik. Secara ex post, kejutan inflasi (surprise inflation) tampak “menguntungkan” misalnya menstimulasi aktivitas riil melalui kurva Phillips ekspektasional atau mengurangi beban riil kewajiban nominal. Namun ketika publik memahami insentif pembuat kebijakan dan membentuk ekspektasi secara rasional, pola kejutan inflasi tidak dapat muncul secara sistematis dalam ekuilibrium. Akibatnya, inflasi dan pertumbuhan uang rata-rata justru menjadi lebih tinggi daripada yang “ideal”, sementara manfaat kejutan menghilang. Di sinilah argumen klasik tentang keunggulan rules (komitmen) atas discretion (diskresi) muncul dan mengapa reputasi dapat berperan sebagai substitusi (tak sempurna) bagi aturan formal.

Masalah inti: time inconsistency—kebijakan yang optimal saat diumumkan tidak lagi optimal saat dijalankan karena ada insentif “menipu” ekspektasi publik.

Di bawah diskresi: publik mengantisipasi insentif bank sentral → inflasi ekuilibrium lebih tinggi, tanpa kejutan inflasi yang sistematis.

Di bawah aturan ideal: inflasi bisa ditekan (dalam contoh paling sederhana mendekati nol), tetapi aturan ideal tidak selalu enforceable bila hanya mengandalkan reputasi.

Reputasi membentuk ekuilibrium menengah: hasil akhirnya “di antara” diskresi dan aturan ideal; makin pendek horizon pembuat kebijakan (diskonto tinggi), hasilnya makin mirip diskresi.

Implikasi kebijakan: kredibilitas adalah aset; desain institusi yang memperkuat komitmen dan punishment kredibel menurunkan inflasi rata-rata tanpa mengandalkan kejutan.

Academic Notes

Catatan ini merangkum intuisi dan hasil kunci paper, sedangkan derivasi dan langkah matematis lengkap disajikan di bagian Metode.

1) Konsep kunci: kejutan inflasi, ekspektasi rasional, dan time inconsistency

Intuisi dasar Barro–Gordon: bank sentral bisa memperoleh “manfaat sesaat” bila inflasi aktual lebih tinggi dari inflasi yang diharapkan (πt>πte\pi_t>\pi_t^e​), karena ekonomi merespons kejutan inflasi melalui kurva Phillips ekspektasional. Tetapi jika publik rasional, mereka akan mengantisipasi insentif tersebut sehingga ekuilibrium diskresi menghasilkan inflasi rata-rata lebih tinggi tanpa manfaat kejutan yang sistematis (karena πt=πte\pi_t=\pi_t^e dalam ekuilibrium).

Ilustrasi model (ringkas):

  • Phillips ekspektasional:

ytyˉ=α(πtπte), α>0y_t-\bar y=\alpha(\pi_t-\pi_t^e),\ \alpha>0

  • Dorongan politik/target output di atas natural: y>yˉy^*>\bar y ​ (gap k=yyˉ>0k=y^*-\bar y>0).

2) Kerangka biaya–manfaat kebijakan: “biaya inflasi” vs “manfaat surprise”

Paper memakai struktur paling sederhana untuk menunjukkan “godaan” inflasi:

  • Biaya inflasi meningkat kuadratik seiring πt\pi_t.
  • Manfaat kejutan muncul ketika πtπte>0\pi_t-\pi_t^e>0 (kanal output/tenaga kerja atau kanal fiskal).

Ilustrasi fungsi objektif (bentuk minimal):Loss per periode: t=a2πt2bt(πtπte),a>0, bt>0\text{Loss per periode: } \ell_t=\frac{a}{2}\pi_t^2-b_t(\pi_t-\pi_t^e),\quad a>0,\ b_t>0

Interpretasi: makin besar btb_t​, makin kuat insentif mengejar surprise inflation.


3) Tiga rezim hasil: diskresi, aturan ideal, dan cheating

Paper membedakan tiga outcome yang secara logika membentuk debat aturan vs diskresi:

(i) Diskresi: kebijakan dipilih setelah ekspektasi terbentuk. Publik rasional → mengantisipasi → inflasi positif tetapi kejutan nol dalam ekuilibrium.

(ii) Aturan ideal: jika komitmen dapat ditegakkan, inflasi bisa diturunkan (contoh paling sederhana: mendekati nol). Ini menghilangkan inflation bias.

(iii) Cheating: jika publik percaya aturan (mis. πe0\pi^e\approx 0), bank sentral tergoda menaikkan inflasi untuk memperoleh manfaat kejutan. Ini tampak “lebih baik” secara ex post, tetapi tidak stabil bila publik rasional (akan menghukum lewat ekspektasi ke depan).

Ilustrasi hasil kunci (naratif-model):

  • Diskresi: πD\pi^D tinggi (bias), namun πDπe=0\pi^D-\pi^e=0.
  • Aturan ideal: πR\pi^R rendah.
  • Cheating: πC>πR\pi^C>\pi^R ketika πe\pi^e sudah rendah.

4) Reputasi sebagai mekanisme penegakan: temptation vs enforcement

Karena kebijakan diulang (repeated game), reputasi dapat “menghukum” deviasi: jika bank sentral menipu hari ini, publik menaikkan ekspektasi inflasi di masa depan. Artinya, deviasi memberi keuntungan sesaat tetapi menimbulkan kerugian masa depan (biaya reputasi).

Ilustrasi kondisi enforceability (ringkas):
Aturan hanya bertahan bila:Temptation (gain one-shot)untung menipu sekali  Enforcement (PV of future loss)biaya reputasi terdiskonto\underbrace{\text{Temptation (gain one-shot)}}_{\text{untung menipu sekali}} \ \le\ \underbrace{\text{Enforcement (PV of future loss)}}_{\text{biaya reputasi terdiskonto}}untung menipu sekaliTemptation (gain one-shot)​​ ≤ biaya reputasi terdiskonto Enforcement (PV of future loss)​​

Dengan faktor diskonto β(0,1)\beta\in(0,1): makin kecil β\beta (horizon pendek), makin lemah penegakan reputasi.


5) Hasil utama: best enforceable rule dan inflasi “menengah”

Ketika aturan ideal tidak bisa ditegakkan (temptation terlalu besar / enforcement terlalu kecil), ekuilibrium yang realistis adalah aturan terbaik yang masih dapat dipertahankan (best enforceable rule). Hasilnya: inflasi ekuilibrium berada di antara aturan ideal dan diskresi.

Ilustrasi prediksi komparatif:

  • β\beta naik (lebih sabar) → kebijakan makin “rule-like” → inflasi turun.
  • β\beta turun (horizon memendek) → kebijakan makin “discretion-like” → inflasi naik.

6) Kondisi “darurat” dan perubahan insentif: mengapa inflasi cenderung naik

Jika parameter manfaat kejutan btb_tmeningkat (resesi, perang, tekanan fiskal, stok utang nominal besar), insentif mengejar surprise meningkat. Paper menekankan bahwa naiknya benefit kejutan cenderung menaikkan kecenderungan inflasi/pertumbuhan uang pada rezim yang komitmennya rapuh.

Ilustrasi satu kalimat:
btb_t\uparrow \Rightarrow temptation naik \Rightarrow aturan makin sulit ditegakkan \Rightarrow inflasi cenderung naik.


7) “Bite the bullet”: membangun kredibilitas saat murah, memakainya saat mahal

Dalam versi aturan kontingen (state-dependent), paper memperlihatkan logika kebijakan: pembuat kebijakan mungkin memilih bersikap lebih ketat pada kondisi tertentu untuk “menginvestasikan” kredibilitas, agar memiliki ruang manuver lebih besar saat kondisi darurat tanpa kehilangan jangkar ekspektasi.


Relevansi: tekanan politik & horizon pemilu (siap tempel)

Model reputasi Barro–Gordon memberi bahasa formal untuk membaca dinamika kebijakan moneter ketika tekanan politik menguat menjelang pemilu atau saat krisis fiskal. Ketika horizon pembuat kebijakan memendek (secara efektif menurunkan β\beta), bobot pada reputasi menurun sehingga outcome bergerak mendekati diskresi: inflasi rata-rata cenderung lebih tinggi dan komitmen lebih sulit dipertahankan. Sebaliknya, bila institusi memperpanjang horizon (mandat jelas, independensi operasional, transparansi, dan komunikasi kebijakan konsisten), reputasi menjadi mekanisme penegak yang lebih kuat sehingga kebijakan lebih “rule-like” dan ekspektasi inflasi lebih terjangkar.


Metode (akan Anda tempatkan setelah Academic Notes – ringkas pengantar)

Bagian Metode menjelaskan pemodelan lengkap: spesifikasi Phillips ekspektasional dan fungsi loss kuadratik; derivasi solusi diskresi, aturan, dan cheating; serta syarat enforceability berbasis temptation vs enforcement pada permainan berulang dengan faktor diskonto β\beta. (Versi lengkapnya bisa memakai format yang sudah kita susun pada pesan sebelumnya.)


Referensi

  • Barro, R. J., & Gordon, D. B. (1983). Rules, Discretion and Reputation in a Model of Monetary Policy (NBER Working Paper No. 1079). RULES, DISCRETION AND REPUTATION
  • Kydland, F. E., & Prescott, E. C. (1977). Rules Rather than Discretion: The Inconsistency of Optimal Plans. Journal of Political Economy.