Dinamika dan Struktur Tematik Riset QRIS Lintas Negara di ASEAN: Pendekatan Systematic Literature Review dan Analisis Bibliometrik


Penulis

Akbar, D.D.

Sumber Data

Database: Scopus
Metode: Systematic Literature Review (SLR) dengan analisis bibliometrik


🔑 Kata Kunci Pencarian

( TITLE-ABS-KEY ( "QRIS" OR "quick response code indonesian standard" )
AND TITLE-ABS-KEY ( "cross-border" OR "cross border"
OR "interoperable payment" OR "international payment" ) )

I. INTRODUCTION

Transformasi sistem pembayaran digital telah menjadi bagian penting dari agenda integrasi ekonomi kawasan ASEAN. QRIS sebagai standar nasional Indonesia kini berkembang ke arah konektivitas lintas negara melalui skema regional payment connectivity.

Namun demikian, belum terdapat pemetaan sistematis mengenai:

  1. Bagaimana dinamika pertumbuhan literatur QRIS lintas negara?
  2. Bagaimana posisi tematiknya dalam lanskap ilmiah?
  3. Apakah literatur telah terkonsolidasi atau masih terfragmentasi?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang dipadukan dengan analisis bibliometrik.


II. METHODS

Penelitian ini menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR)

SLR memastikan bahwa seluruh dokumen yang dianalisis memenuhi kriteria inklusi dan relevan dengan konteks QRIS lintas negara dan interoperabilitas pembayaran.


III. RESULTS

A. Life Cycle of Scientific Production

Analisis siklus kehidupan literatur dilakukan untuk mengidentifikasi tahap perkembangan riset QRIS lintas negara. Model logistic growth digunakan untuk memetakan pertumbuhan tahunan dan kumulatif publikasi.



Hasil menunjukkan bahwa literatur QRIS lintas negara berada pada fase pertumbuhan cepat. Model logistik menghasilkan nilai R² sebesar 0,704 yang menunjukkan bahwa pola pertumbuhan publikasi dapat dijelaskan dengan cukup baik oleh model tersebut.

Tahun puncak publikasi diproyeksikan terjadi pada 2028 dengan estimasi sekitar 32 publikasi per tahun. Kurva kumulatif menunjukkan estimasi tingkat saturasi sekitar 130 publikasi.

Temuan ini mengindikasikan bahwa literatur belum mencapai fase kematangan penuh dan masih berada dalam tahap ekspansi ilmiah.


B. Thematic Map Analysis

Thematic Map digunakan untuk mengidentifikasi posisi tema dalam struktur literatur berdasarkan dua dimensi: centrality (tingkat relevansi) dan density (tingkat pengembangan).



Hasil analisis menunjukkan bahwa tema “QRIS” berada dalam kategori Basic Theme, yaitu memiliki tingkat relevansi tinggi namun tingkat pengembangan konseptual yang relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa QRIS merupakan tema inti dalam literatur, tetapi belum terkonsolidasi secara teoretis.

Sementara itu, “sentiment analysis” berada dalam kategori Niche Theme, yang menunjukkan tingkat pengembangan metodologis tinggi tetapi tidak menjadi arus utama dalam diskursus integrasi pembayaran lintas negara.


C. Network Co-occurrence Analysis

Analisis jaringan dilakukan untuk memetakan hubungan antar kata kunci berdasarkan kemunculan bersama dalam dokumen yang dianalisis.



Hasil menunjukkan bahwa QRIS merupakan node sentral dalam jaringan literatur dan terhubung dengan berbagai klaster seperti sustainable development, tourism, artificial neural network, dan planned behavior.

Namun, koneksi antar klaster relatif lemah. Struktur jaringan menunjukkan bahwa literatur masih terfragmentasi dan belum membentuk integrasi konseptual yang kuat antar domain.


D. Factorial Analysis (Topic Dendrogram)

Factorial analysis dilakukan untuk mengidentifikasi struktur hierarkis dan kedekatan konseptual antar tema melalui metode clustering.



Dendrogram menunjukkan bahwa literatur QRIS lintas negara terbagi dalam beberapa cabang utama: sistem pembayaran, pembangunan berkelanjutan dan pariwisata, teknologi dan kecerdasan buatan, serta perilaku adopsi.

Struktur ini menunjukkan bahwa literatur masih berkembang dalam beberapa domain terpisah dan belum terkonsolidasi dalam satu kerangka teoritis dominan.


IV. DISCUSSION

Hasil analisis bibliometrik menunjukkan bahwa:

  1. Literatur QRIS lintas negara berada pada fase pertumbuhan cepat.
  2. QRIS memiliki relevansi tinggi namun belum matang secara konseptual.
  3. Struktur tematik masih terfragmentasi.
  4. Belum terdapat model integratif yang menyatukan aspek makroekonomi, interoperabilitas, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan.

Temuan ini menunjukkan adanya celah penelitian yang signifikan, khususnya dalam pengembangan model lintas negara ASEAN dan evaluasi kebijakan berbasis data empiris.


V. CONCLUSION

Literatur mengenai QRIS lintas negara di ASEAN menunjukkan dinamika pertumbuhan yang kuat namun belum mencapai kematangan konseptual.

Pendekatan SLR yang dipadukan dengan analisis bibliometrik mengungkap bahwa meskipun QRIS telah menjadi tema sentral, struktur literatur masih terfragmentasi dan memerlukan konsolidasi teoretis.

Fase perkembangan saat ini memberikan peluang strategis bagi penelitian lanjutan untuk membangun kerangka integratif regional payment architecture di ASEAN.