Antara Data dan Nalar: Bagaimana Saya Membaca Isu Ekonomi

Isu ekonomi sering kali disajikan dalam bentuk angka: pertumbuhan sekian persen, inflasi naik atau turun, defisit melebar, nilai tukar melemah. Data-data ini penting, tetapi tidak pernah berdiri sendiri. Angka membutuhkan nalar agar bermakna, dan nalar membutuhkan data agar tidak jatuh menjadi opini semata. Di antara keduanya, proses membaca isu ekonomi seharusnya berlangsung.

Dalam diskusi publik, data sering diperlakukan sebagai kebenaran final. Angka dikutip seolah-olah ia berbicara sendiri, tanpa konteks dan tanpa penjelasan. Padahal, setiap data lahir dari definisi, metodologi, dan asumsi tertentu. Pertumbuhan ekonomi, misalnya, tidak serta-merta mencerminkan kesejahteraan jika distribusinya timpang. Inflasi rendah pun tidak selalu berarti aman jika daya beli kelompok tertentu justru tertekan.

Di sisi lain, nalar tanpa data juga bermasalah. Banyak penilaian ekonomi dibangun hanya dari pengalaman pribadi atau kesan sesaat. Harga naik di pasar dianggap bukti kegagalan ekonomi nasional; kurs menguat sesaat dibaca sebagai keberhasilan kebijakan. Tanpa data yang memadai, nalar mudah terjebak pada generalisasi dan kesimpulan yang tergesa-gesa.

Dalam membaca isu ekonomi, saya memulai dari pertanyaan masalah, bukan langsung dari angkanya. Apa persoalan yang sedang dihadapi? Apakah soal daya beli, stabilitas harga, lapangan kerja, atau tekanan eksternal? Data kemudian digunakan untuk membantu menjawab pertanyaan itu, bukan sekadar untuk menguatkan posisi tertentu. Dengan cara ini, data menjadi alat analisis, bukan alat pembenaran.

Langkah berikutnya adalah melihat konteks. Angka ekonomi selalu bergerak dalam ruang dan waktu. Inflasi hari ini tidak bisa dilepaskan dari kebijakan kemarin dan ekspektasi ke depan. Nilai tukar tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga kondisi global, sentimen pasar, dan arus modal. Tanpa konteks ini, data mudah disalahartikan dan nalar menjadi sempit.

Nalar juga dibutuhkan untuk memahami batasan data. Tidak semua realitas ekonomi bisa ditangkap oleh indikator statistik. Angka kemiskinan, misalnya, memiliki garis batas dan metodologi tertentu yang tidak selalu mencerminkan kerentanan sehari-hari masyarakat. Membaca data secara kritis berarti menyadari apa yang tercakup dan apa yang tertinggal di luar angka.

Pada akhirnya, membaca isu ekonomi adalah proses menyeimbangkan data dan nalar. Data memberi pijakan agar analisis tidak melayang, sementara nalar memberi arah agar data tidak kering dan menyesatkan. Keduanya saling melengkapi, bukan saling meniadakan.

Tulisan ini bukan ajakan untuk menjadi ahli ekonomi, melainkan ajakan untuk lebih berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Di tengah banjir informasi dan angka, kemampuan membaca isu ekonomi dengan data yang tepat dan nalar yang jernih menjadi semakin penting—bukan hanya bagi pembuat kebijakan, tetapi juga bagi publik yang terdampak oleh setiap keputusan ekonomi.