Ketika Literatur Ramai, tetapi Isu Kunci Justru Hilang
“Inflasi hari ini tidak selalu lahir dari ekonomi yang terlalu panas,
tetapi dari dunia yang semakin terfragmentasi.”
Dunia Berubah, Tapi Diskursus Tertinggal
Ketegangan geopolitik, perang dagang, dan eskalasi tarif telah menjadi bagian dari keseharian ekonomi global. Gangguan rantai pasok, lonjakan harga energi, dan tekanan harga impor kini lebih sering mendorong inflasi dibandingkan permintaan domestik yang berlebihan.
Namun ironisnya, ketika tantangan global berubah begitu cepat, diskursus kebijakan moneter justru masih bergerak dalam jalur lama.
Literatur yang Ramai, tetapi Terpisah
Kajian kebijakan moneter berkembang pesat, tetapi cenderung terbelah ke dalam dua arus besar.
Di satu sisi, terdapat literatur yang menyoroti desain kelembagaan dan ekonomi politik: mandat bank sentral, independensi, relasi dengan pemerintah, dan dinamika krisis. Di sisi lain, berkembang pendekatan yang lebih teknokratis dan operasional, berfokus pada suku bunga, rezim inflasi, dan reputasi kebijakan.
Masalahnya, kedua arus ini sering berjalan sendiri-sendiri. Desain kelembagaan dibahas tanpa cukup menyentuh realitas implementasi, sementara praktik kebijakan kerap dilepaskan dari konteks politik dan institusional yang membatasinya.
Kredibilitas: Penting, tetapi Belum Cukup
Konsep seperti kredibilitas, komitmen, transparansi, dan independensi memang sering disebut sebagai jembatan antara aturan dan diskresi. Namun dalam praktiknya, konsep-konsep ini belum sepenuhnya menjawab pertanyaan kunci:
Bagaimana menjaga kredibilitas ketika inflasi berasal dari tarif, konflik geopolitik, dan guncangan perdagangan global?
Dalam banyak diskusi, kredibilitas masih diperlakukan sebagai tujuan normatif, bukan sebagai mekanisme adaptif yang diuji oleh tekanan eksternal nyata.
Isu yang Hilang: Perdagangan dan Inflasi Cost-Push
Di sinilah celah paling serius muncul.
Topik trade shocks, hambatan tarif, dan inflasi cost-push nyaris tidak hadir sebagai isu sentral dalam diskursus kebijakan moneter. Padahal, tekanan inflasi kontemporer semakin sering bersumber dari kenaikan biaya produksi akibat faktor eksternal, bukan dari overheating ekonomi domestik.
Yang hilang bukan sekadar variabel teknis,
melainkan cara pandang terhadap sumber masalah inflasi itu sendiri.
Mengapa Ini Berbahaya?
Ketika sumber inflasi salah dipahami, respons kebijakan berisiko salah arah. Lebih jauh lagi, legitimasi bank sentral dapat tergerus karena kebijakan yang diambil tampak tidak menjawab keresahan publik.
Bagi negara berkembang dan ekonomi terbuka, risiko ini jauh lebih besar. Ketergantungan pada impor, volatilitas nilai tukar, dan tekanan geopolitik global menjadikan inflasi cost-push sebagai tantangan struktural, bukan gangguan sementara.
Saatnya Kerangka yang Lebih Relevan
Kebijakan moneter tidak cukup hanya dibahas dalam kerangka aturan versus diskresi, atau independensi versus intervensi. Dunia saat ini menuntut pendekatan yang lebih integratif—yang menghubungkan:
- desain kelembagaan,
- praktik kebijakan moneter, dan
- guncangan perdagangan global.
Tanpa integrasi ini, kebijakan moneter berisiko tertinggal dari realitas yang seharusnya dihadapinya.
<hr>
🇬🇧 ENGLISH VERSION
Monetary Policy in a Geopolitical Era
When the Literature Is Busy—but the Core Issue Is Missing
“Today’s inflation is not always driven by excess demand,
but by a world that is increasingly fragmented.”
A Changing World, a Lagging Debate
Geopolitical tensions, trade wars, and tariff escalations have become defining features of the global economy. Supply chain disruptions, energy price shocks, and rising import costs increasingly shape inflation dynamics.
Yet while global challenges evolve rapidly, the monetary policy debate largely remains anchored in old frameworks.
A Crowded but Fragmented Literature
The monetary policy literature has expanded dramatically—but in fragmented ways.
One stream focuses on institutional design and political economy: central bank mandates, independence, government relations, and crisis management. Another emphasizes operational and technocratic practices, centering on interest rates, inflation targeting, and policy reputation.
These two streams rarely converge. Institutional debates often overlook day-to-day policy constraints, while technocratic discussions frequently abstract from political and institutional realities.
Credibility: Central, Yet Incomplete
Concepts such as credibility, commitment, transparency, and independence are commonly invoked as anchors of effective monetary policy. However, they often remain insufficiently grounded in real-world shocks.
How does a central bank maintain credibility when inflation is driven by tariffs, geopolitical conflicts, and global supply disruptions?
This question remains largely unanswered.
The Missing Issue: Trade Shocks and Cost-Push Inflation
Here lies the most striking gap.
Trade shocks, tariffs, and cost-push inflation are largely absent from the core monetary policy discourse. This omission is problematic, given that contemporary inflation increasingly originates from external supply-side pressures rather than domestic demand excesses.
What is missing is not just a variable,
but a framework capable of capturing modern inflation dynamics.
Why This Matters
Misidentifying the sources of inflation risks misguided policy responses. Over time, this can erode central bank legitimacy, especially when policy actions fail to address the public’s lived economic experience.
For open and emerging economies, these risks are amplified. Import dependence, exchange rate volatility, and geopolitical exposure make cost-push inflation a structural challenge, not a temporary anomaly.
Toward a More Integrated Framework
Monetary policy debates can no longer remain confined to rules versus discretion or independence versus intervention. Today’s environment calls for an integrated perspective—one that connects:
- institutional design,
- operational policy practice, and
- global trade-related shocks.
Without such integration, monetary policy risks falling behind the very realities it seeks to manage.