This article examines how Quantitative Easing shapes Indonesia’s economic stability
under the New Monetary Trinity framework, and is disseminated through concise articles
and explanatory research videos.
Artikel ini mengkaji bagaimana kebijakan Quantitative Easing memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia
dalam kerangka New Monetary Trinity, yang didiseminasikan melalui artikel ringkas
dan video penjelasan berbasis riset.
Artikel ini menunjukkan bahwa Quantitative Easing (QE) di Indonesia justru berperan sebagai “shock absorber” saat krisis—terutama untuk menjaga fungsi pasar keuangan dan stabilitas obligasi pemerintah (SUN) ketika instrumen suku bunga kurang efektif. Dengan data triwulanan 2007–2023 dan model TVAR, BVAR, serta TVP-VAR, studi menegaskan bahwa dampak QE bergantung rezim: pada fase volatilitas tinggi/krisis, QE membantu meredam kepanikan pasar dan menjaga likuiditas, namun stabilisasi tersebut tetap membawa trade-off (misalnya tekanan pada nilai tukar/ruang independensi moneter) bila koordinasi kebijakan tidak kuat. Karena itu, koordinasi fiskal–moneter (burden sharing) yang terukur menjadi kunci agar QE efektif sebagai penyangga stabilitas tanpa memicu risiko dominasi fiskal.
This article argues that Quantitative Easing (QE) in Indonesia acts as a crisis shock absorber—especially by supporting market functioning and stabilizing government bonds (SUN) when conventional rate policy becomes less effective. Using quarterly data (2007–2023) and TVAR, BVAR, and TVP-VAR, the study shows QE effects are regime-dependent: during high-volatility/crisis periods, QE helps contain financial turbulence and preserve liquidity, while still involving policy trade-offs (e.g., pressures on the exchange-rate channel and monetary autonomy) if policy coordination is weak. Therefore, well-calibrated fiscal–monetary coordination (burden sharing) is essential to keep QE stabilizing without sliding into fiscal dominance.