Rudiger Dornbusch (1976) – Expectations and Exchange Rate Dynamics
The Journal of Political Economy, Vol. 84, No. 6

Academic Note
Expectations and Exchange Rate Dynamics
Rudiger Dornbusch (1976)
🌍 Mengapa Nilai Tukar Bisa “Berlebihan”?
🇮🇩
Nilai tukar sering kali bergerak terlalu jauh setelah kebijakan moneter dilakukan. Fenomena ini dikenal sebagai exchange rate overshooting. Dornbusch menunjukkan bahwa hal ini bukan kegagalan pasar, melainkan konsekuensi logis dari cara ekonomi bekerja:
👉 pasar aset bereaksi cepat,
👉 harga barang menyesuaikan lambat.
🇬🇧
Exchange rates often move more than fundamentals justify after monetary shocks. Dornbusch shows that this is not irrational behavior, but a result of fast-moving asset markets and slow-adjusting goods prices.
🧩 Kerangka Besar Model (Big Picture)
Model Dornbusch dibangun atas tiga blok utama:
- Pasar Uang → menentukan suku bunga
- Pasar Aset → menentukan nilai tukar melalui ekspektasi
- Pasar Barang → menentukan output & inflasi
Semua saling terhubung melalui ekspektasi nilai tukar.
💰 1. Pasar Uang: Dari Uang ke Suku Bunga
Model Inti
Cara membacanya (sederhana):
- Jika uang beredar naik, sementara harga belum berubah → suku bunga turun
- Suku bunga adalah “harga uang”
➡️ Inilah pintu masuk guncangan moneter.
🌐 2. Pasar Aset: Suku Bunga & Nilai Tukar
Paritas Suku Bunga (UIP)
Makna intuitif:
- Investor membandingkan:
- bunga dalam negeri
- peluang untung dari depresiasi nilai tukar
- Jika bunga domestik turun → nilai tukar harus terdepresiasi agar aset domestik tetap menarik
🏭 3. Pasar Barang: Harga Relatif & Output
Model Output
Interpretasi sederhana:
- Depresiasi nilai tukar → ekspor lebih murah → output naik
- Suku bunga tinggi → konsumsi & investasi turun
➡️ Nilai tukar memengaruhi ekonomi riil, tidak netral di jangka pendek.
⏳ 4. Harga Tidak Langsung Bergerak
Harga barang tidak bisa berubah seketika.
Penyesuaian Harga
Artinya:
- Jika ekonomi “terlalu panas” → inflasi naik perlahan
- Selama harga belum naik, tekanan ada di nilai tukar
⚡ 5. Mekanisme Overshooting (Inti Teori)
Urutan Kejadian:
- Bank sentral menambah uang beredar
- Suku bunga domestik turun
- Investor melepas aset domestik
- Nilai tukar langsung terdepresiasi tajam
- Karena harga belum naik → depresiasi melewati keseimbangan jangka panjang
- Saat harga naik perlahan → nilai tukar menguat kembali
📌 Inilah overshooting.
📐 Secara Matematis (Ringkas)
Respons nilai tukar terhadap kebijakan moneter:
➡️ Depresiasi jangka pendek lebih besar dari depresiasi jangka panjang.
⏱️ Short Run vs Long Run
| Aspek | Jangka Pendek | Jangka Panjang |
|---|---|---|
| Harga | Kaku | Fleksibel |
| Output | Berubah | Kembali normal |
| Nilai Tukar | Overshoot | Fundamental |
| Uang | Sangat berpengaruh | Netral |
🧠 Mengapa Teori Ini Penting?
🇮🇩
- Menjelaskan volatilitas nilai tukar global
- Dasar analisis:
- Krisis keuangan
- QE & kebijakan non-konvensional
- Negara berkembang dengan capital flow besar
🇬🇧
- Foundation of modern exchange rate theory
- Explains why floating regimes are volatile
- Central to crisis and monetary policy analysis
🔗 Relevansi Saat Ini
- Quantitative Easing (QE)
- Global capital flows
- Emerging market instability
- Monetary autonomy vs exchange rate stability
💡 Highlight untuk Website (Quote Block)
Exchange rate volatility is not a failure of policy,
but a consequence of how fast financial markets react.
📚 Referensi
Dornbusch, R. (1976). Expectations and Exchange Rate Dynamics.
Journal of Political Economy, 84(6), 1161–1176.
