Jangan Sederhanakan MBG, Kopdes, dan Danantara
Kritik terhadap program besar itu penting. Namun kritik akan lebih kuat jika tidak menyamakan program gizi universal dengan terapi stunting tertarget, tidak menilai semua anggaran besar sebagai pemborosan otomatis, dan tidak menganggap BGN, Kopdes, serta Danantara sebagai tiga benda yang sama.
“Kalau stunting bisa ditangani lebih murah, mengapa ada program ratusan triliun?”
Kalimat ini terdengar tajam. Ia menggabungkan angka penderita stunting, target penerima MBG, estimasi biaya intervensi gizi, lalu menyimpulkan bahwa program besar pasti berlebihan.
Secara retoris, narasi itu mudah menyebar karena tampak seperti hitungan sederhana: ada masalah spesifik, ada estimasi biaya per penderita, lalu ada program nasional dengan anggaran jauh lebih besar. Dari situ muncul kesan bahwa pemerintah “membesarkan masalah” untuk membenarkan lembaga baru dan anggaran jumbo.
Masalahnya, kebijakan publik jarang sesederhana itu. Membandingkan intervensi tertarget untuk kasus tertentu dengan program gizi universal lintas kelompok usia adalah dua hal yang tidak identik. Analogi angka bisa membantu memulai diskusi, tetapi tidak cukup untuk menutup diskusi.
Yang perlu diluruskan sebelum menarik kesimpulan
Berikut tiga titik yang paling sering tercampur dalam debat publik mengenai MBG, BGN, Kopdes, dan Danantara.
“MBG itu kan untuk stunting. Kalau begitu, target 80 jutaan jelas kebesaran.”
Narasi ini menganggap MBG sebagai program terapi stunting semata.
MBG bukan klinik penyembuhan stunting semata.
Dalam rancangan dan komunikasi publiknya, MBG diposisikan sebagai program gizi dan pembangunan SDM dengan target luas: anak, siswa, serta ibu hamil. Karena itu, target penerimanya memang jauh lebih besar daripada jumlah anak yang sudah mengalami stunting.
“Kalau ada intervensi murah per anak, anggaran besar berarti tidak efisien.”
Narasi ini menyamakan satu skenario biaya dengan seluruh desain kebijakan nasional.
Biaya tertarget dan biaya program nasional tidak bisa dipukul rata.
Intervensi per anak dapat menjadi pembanding penting, tetapi program nasional membawa komponen lain: distribusi, dapur layanan, pengawasan mutu, keamanan pangan, administrasi, dan cakupan wilayah. Yang perlu diaudit adalah efisiensi komponen itu, bukan langsung menyimpulkan semua pembiayaan berlebih.
“BGN, Kopdes, dan Danantara itu sama saja: lembaga raksasa dengan janji besar.”
Narasi ini menemukan kemiripan skala, lalu menyimpulkan ketiganya identik.
Mirip dalam ambisi, berbeda dalam fungsi.
BGN–MBG bergerak di layanan sosial dan gizi; Kopdes berada di ekonomi desa dan pembiayaan; Danantara di konsolidasi aset serta investasi negara. Kritik tata kelola perlu dibedakan sesuai karakter masing-masing.
Kesamaannya ada. Tetapi jangan salah menyamakan.
Ketiganya memang memperlihatkan ambisi besar negara. Namun, saluran manfaat dan risiko publiknya berbeda.
Program layanan sosial
Fokus utamanya pada penyediaan makanan bergizi untuk kelompok penerima yang luas. Debat utamanya: ketepatan sasaran, kualitas implementasi, keamanan pangan, dan efektivitas outcome.
- Risiko utama: pemborosan operasional dan indikator hasil yang kabur.
- Uji terbaik: apakah gizi, ketahanan belajar, dan outcome sosial membaik.
Program penguatan ekonomi desa
Fokusnya pada pembentukan koperasi desa dan akses pembiayaan. Debat utamanya: koperasi yang benar-benar produktif atau sekadar ekspansi administratif.
- Risiko utama: kredit bermasalah, moral hazard, koperasi pasif.
- Uji terbaik: kinerja usaha, pembayaran pinjaman, dan dampak ekonomi lokal.
Program pengelolaan aset & investasi
Fokusnya pada konsolidasi dan optimalisasi aset negara. Debat utamanya: transparansi mandat, governance investasi, dan pemisahan kepentingan politik dari keputusan bisnis.
- Risiko utama: opasitas, salah alokasi modal, konflik mandat.
- Uji terbaik: return, transparansi, dan integritas tata kelola aset.
Bukan “program besar pasti salah”, tetapi “apa ukuran keberhasilannya?”
Counter naratif tidak berarti mematikan kritik. Justru sebaliknya: ia membuat kritik menjadi lebih sulit dibantah.
Kritik publik akan lebih kuat bila diarahkan ke lima pertanyaan:
Contoh kritik yang lebih presisi
Bukan: “MBG terlalu mahal karena stunting bisa ditangani lebih murah.”
Lebih presisi: “Jika MBG diposisikan sebagai program gizi universal, maka indikator keberhasilannya
harus dibedakan dari intervensi stunting tertarget agar anggaran dapat dievaluasi secara adil.”
Bukan: “Kopdes pasti jadi proyek mercusuar.”
Lebih presisi: “Kopdes perlu dipantau melalui rasio koperasi aktif, kualitas portofolio kredit,
dan keberlanjutan bisnis desa.”
Bukan: “Danantara hanya kotak hitam politik.”
Lebih presisi: “Danantara memerlukan standar transparansi investasi, pengungkapan portofolio,
dan firewall tata kelola agar aset publik tidak menjadi objek keputusan non-ekonomis.”
Kritik yang baik tidak mengecilkan masalah. Ia memperjelas masalah.
Debat kebijakan publik paling produktif ketika publik berani bertanya, tetapi juga bersedia membedakan perkara yang berbeda.
MBG, Kopdes, dan Danantara layak diawasi ketat karena skalanya sangat besar. Namun, menyederhanakannya hanya sebagai “anggaran jumbo yang tidak perlu” juga tidak cukup. Ada manfaat yang dijanjikan, ada logika kebijakan yang ingin dibangun, dan ada risiko yang memang harus diuji.
Counter naratif yang lebih sehat adalah ini: program besar boleh hadir, tetapi tidak boleh kebal dari pembuktian. Sebaliknya, kritik besar juga harus dibangun di atas perbandingan yang tepat, bukan sekadar angka yang terasa dramatis.
Jangan langsung percaya pada narasi yang terlalu memudahkan masalah. Tanyakan: apa tujuannya, siapa sasarannya, berapa biayanya, dan siapa yang mengawasinya.
Buka artikel dan sumber pendukung
Tombol berikut mengarah ke berita dan referensi yang menjadi dasar penyusunan counter naratif ini.
Catatan integritas narasi
Artikel ini tidak menyatakan bahwa semua kebijakan di atas pasti berhasil. Ia hanya menolak cara membaca yang terlalu menyederhanakan: seolah-olah program nasional yang luas dapat langsung dinilai salah hanya dari satu perbandingan biaya.