Benchmark Embodied Carbon Beton Indonesia: Dari Transparansi Material ke Green Procurement dan Pembiayaan Hijau
Paper ini menjawab tiga pertanyaan: mengapa Indonesia perlu benchmark embodied carbon beton, bagaimana benchmark tersebut dapat menjadi instrumen procurement, dan sejauh mana kesiapan pasar serta kebijakan Indonesia untuk mengembangkannya. Bagian empiris menggunakan desain Difference-in-Differences (DID) untuk agenda penelitian skala proyek, dilengkapi hasil berbasis bukti sumber resmi dan simulator kebijakan interaktif.
Abstrak
Beton merupakan material strategis bagi pembangunan infrastruktur, tetapi juga terkait erat dengan emisi proses produksi semen, intensitas binder, desain campuran, dan rantai pasok agregat. Munculnya market-wide embodied carbon benchmark di Singapore memperlihatkan bahwa dekarbonisasi material dapat dipercepat melalui data yang transparan, comparable, dan dapat diterjemahkan ke dalam procurement. Paper ini mengusulkan arsitektur penelitian Indonesia yang menghubungkan benchmark karbon beton dengan pengadaan berkelanjutan, pasar produk rendah karbon, serta taksonomi pembiayaan hijau. Secara metodologis, paper ini merumuskan model Difference-in-Differences berbasis implementasi bertahap kebijakan procurement rendah karbon di tingkat instansi, proyek, atau wilayah. Karena Indonesia belum memiliki benchmark embodied carbon beton nasional yang market-wide, hasil yang disajikan terdiri atas: (i) bukti deskriptif komparatif dari Singapore dan kerangka kebijakan Indonesia; (ii) skenario empiris berbasis DID sebagai desain penelitian; dan (iii) simulator untuk mengukur potensi pengurangan emisi, pass/fail procurement, readiness score, dan implikasi green financing.
Mengapa Indonesia memerlukan benchmark embodied carbon beton?
Dekarbonisasi sektor konstruksi bergerak dari fokus pada energi operasional bangunan menuju whole-life carbon, khususnya embodied carbon yang melekat pada material sejak ekstraksi bahan baku, produksi, hingga material ditempatkan pada proyek. Beton menjadi prioritas karena merupakan material utama pembangunan infrastruktur dan intensitas karbonnya sangat dipengaruhi oleh kadar semen, tipe binder, SCM, logistik bahan baku, dan spesifikasi mutu beton.
Singapore pada 2026 memperkenalkan benchmark pasar embodied carbon beton berbasis data 2024 yang mencakup sekitar 68% pasar ready-mix dan menghasilkan intensitas rata-rata 329 kgCO₂e/m³. Benchmark tersebut tidak berhenti sebagai laporan teknis, tetapi dirancang menjadi rujukan bersama bagi developer, supplier, regulator, dan financier. Dengan demikian, benchmark berfungsi sebagai market infrastructure: ia menciptakan bahasa pengukuran yang seragam agar procurement dapat membedakan material biasa dari material rendah karbon.
Indonesia memiliki relevansi tinggi untuk mengadopsi kerangka ini. BPS mencatat kontribusi konstruksi terhadap PDB Indonesia sebesar 10,06% pada Triwulan III 2024. Di saat yang sama, LKPP telah mengeluarkan model dokumen pemilihan pengadaan berkelanjutan pekerjaan konstruksi yang memungkinkan bukti sertifikasi atau label lingkungan untuk material konstruksi diunggah dalam dokumen penawaran. Kemenperin juga menempatkan semen sebagai salah satu prioritas dekarbonisasi industri. Ini menunjukkan bahwa fondasi kebijakan sudah hadir, tetapi belum terintegrasi dengan benchmark karbon beton yang market-wide dan comparable.
Kesenjangan tersebut penting. Tanpa benchmark, procurement cenderung hanya mengakui klaim hijau secara administratif, bukan menilai kinerja karbon dalam satuan teknis yang sebanding. Akibatnya, pembeli proyek tidak memiliki threshold objektif untuk menentukan apakah suatu beton benar-benar lebih rendah karbon dibanding pasar. Tanpa data terstandardisasi, lembaga keuangan juga kesulitan menilai apakah proyek, produsen beton, atau investasi pada pabrik semen memenuhi logika pembiayaan hijau yang dapat diverifikasi.
Data emisi material belum menjadi bahasa procurement
Pengadaan dapat mensyaratkan label lingkungan, tetapi belum selalu mampu membedakan intensitas karbon material secara presisi dalam kgCO₂e/m³.
Pasar rendah karbon memerlukan benchmark pembanding
Supplier membutuhkan sinyal permintaan yang jelas, sedangkan pembeli membutuhkan threshold yang dapat diuji, diaudit, dan dipakai berulang.
Green finance membutuhkan MRV yang kuat
Taksonomi, green bond, dan green loan memerlukan kerangka pengukuran, pelaporan, dan verifikasi agar klaim dekarbonisasi lebih kredibel.
Pertanyaan penelitian dan hipotesis kerja
Mengapa benchmark diperlukan?
Apakah benchmark embodied carbon beton meningkatkan transparansi, comparability, dan kemampuan pemilihan material rendah karbon?
Bagaimana benchmark bekerja dalam procurement?
Apakah integrasi benchmark ke dokumen pengadaan, sertifikasi, dan carbon calculator dapat mengubah spesifikasi proyek?
Seberapa siap Indonesia?
Apakah kesiapan data, pasar semen-beton, kebijakan pengadaan, dan kerangka keuangan sudah cukup untuk membangun benchmark nasional?
Apa implikasinya bagi green finance?
Apakah benchmark dapat menjadi MRV infrastructure untuk green bond, green loan, sustainability-linked loan, dan pembiayaan transisi semen?
Hipotesis
| Kode | Hipotesis | Indikator observasi | Status bukti dalam paper |
|---|---|---|---|
| H1 | Benchmark pasar embodied carbon meningkatkan transparansi dan comparability beton. | cakupan pasar, benchmark kgCO₂e/m³, grading per strength class, availability of low-carbon options. | Didukung bukti deskriptif Singapore |
| H2 | Benchmark yang diintegrasikan dalam procurement mempercepat adopsi low-carbon concrete. | threshold pengadaan, share package with carbon criteria, share low-carbon concrete, disclosure rate. | Diuji melalui desain DID |
| H3 | Indonesia memiliki kesiapan awal, tetapi masih ada gap pada database produk, EPD, dan baseline nasional. | kebijakan LKPP, roadmap Kemenperin, data sektor konstruksi, ecolabel/EPD, calculator readiness. | Didukung audit kebijakan |
| H4 | Benchmark embodied carbon meningkatkan bankability pembiayaan hijau. | taxonomy alignment, green loan/bond eligibility, KPI for SLL, interest savings scenario. | Implikasi konseptual + simulator |
Metode: Difference-in-Differences untuk menguji efek benchmark pada procurement
Karena Indonesia belum memiliki benchmark nasional yang telah diterapkan secara luas, strategi empiris terbaik adalah membangun pilot policy evaluation. Treatment dapat berupa instansi, proyek, atau wilayah yang mulai menerapkan persyaratan benchmark karbon beton dalam procurement, dibandingkan unit sejenis yang belum menerapkannya. DID memungkinkan estimasi perubahan outcome setelah treatment dengan mengontrol tren bersama antar-unit.
Bangun baseline
Susun database beton Indonesia: volume, mutu, binder, SCM, eco-label/EPD, dan intensitas karbon.
Definisikan treatment
Treated = proyek/instansi/wilayah yang mengadopsi threshold benchmark dalam pengadaan.
Ukur outcome
Outcome = carbon intensity, share low-carbon concrete, disclosure rate, biaya procurement, dan indikator financing.
Estimasi kausal
Gunakan DID, event study, dan estimator modern untuk staggered adoption.
3.1 Model DID dasar
Dalam konteks riset ini, \(Y_{it}\) dapat didefinisikan sebagai: (i) embodied carbon intensity beton proyek, (ii) persentase volume beton yang memenuhi threshold rendah karbon, (iii) probabilitas paket tender memuat kriteria karbon material, atau (iv) biaya modal/pembiayaan yang terkait dengan label hijau proyek.
3.2 Spesifikasi event study
Untuk adopsi bertahap antar-instansi atau daerah, paper ini merekomendasikan estimator Callaway & Sant’Anna (2021) untuk menghitung group-time average treatment effects, serta kehati-hatian terhadap TWFE konvensional sesuai peringatan Goodman-Bacon (2021) dan Sun & Abraham (2021).
3.3 Model empiris yang direkomendasikan
| Outcome | Definisi | Sumber data | Ekspektasi tanda |
|---|---|---|---|
| CarbonIntensity | kgCO₂e/m³ concrete mix yang digunakan proyek | EPD, LCA, dokumen proyek, benchmark nasional | Negatif |
| LowCarbonShare | % volume beton yang berada di bawah threshold benchmark | tender, RAB, material submission | Positif |
| DisclosureRate | % paket procurement yang memuat data karbon material | LPSE/e-procurement, dokumen penawaran | Positif |
| GreenFinanceFlag | indikator proyek/issuer masuk pembiayaan hijau atau taxonomic alignment | OJK TKBI, green bond/loan disclosure, bank/issuer report | Positif |
| FinancingSpread | spread bunga / cost of debt proyek atau emiten terkait | term sheet, bond prospectus, laporan keuangan | Negatif |
3.4 Sumber metodologis
Kerangka DID modern
Callaway & Sant’Anna (2021) untuk multiple periods dan staggered adoption; Roth et al. (2023) untuk sintesis rekomendasi praktik.
Risiko TWFE konvensional
Goodman-Bacon (2021) dan Sun & Abraham (2021) menunjukkan potensi bias ketika timing treatment bervariasi dan efeknya heterogen.
Hasil analitis: benchmark, procurement, kesiapan Indonesia, dan jalur pembiayaan hijau
Result 1 – Benchmark pasar menghasilkan baseline yang actionable
Benchmark Singapore menunjukkan bahwa pasar beton dapat dipetakan secara terukur menurut kelas kekuatan. Laporan 2026 menggunakan data beton yang dipasok pada 2024 dan menyajikan minimum, maksimum, rata-rata tertimbang volume, serta standar deviasi embodied carbon untuk enam strength class. Secara agregat, volume beton 11,4 juta m³ pada 2024 berkaitan dengan 3,7 MtCO₂e embodied carbon, atau rata-rata 329 kgCO₂e/m³. Temuan ini penting karena benchmark tidak hanya menyajikan satu angka nasional, tetapi memisahkan beton berdasarkan fungsi teknisnya.
| Strength class | Porsi volume | Rata-rata kgCO₂e/m³ | Minimum | Maksimum | Makna kebijakan |
|---|---|---|---|---|---|
| C16/20 | 7% | 283 | 122 | 343 | Low-strength concrete tetap membutuhkan benchmark agar pemilihan tidak semata berbasis harga. |
| C25/30 | 4% | 311 | 129 | 418 | Gap minimum-maksimum menunjukkan ruang dekarbonisasi dalam mix design. |
| C32/40 | 55% | 289 | 153 | 467 | Kelas paling dominan; intervensi pada kelas ini dapat memberi dampak sistemik. |
| C40/50 | 17% | 405 | 177 | 513 | Kelas struktural tinggi perlu threshold berbeda agar tidak salah membandingkan. |
| C50/60 | 12% | 425 | 209 | 555 | Pengurangan karbon harus diseimbangkan dengan spesifikasi performa. |
| C70/85 | 5% | 477 | 209 | 589 | Benchmark sangat penting untuk high-strength concrete dan proyek kompleks. |
Result 2 – Benchmark menjadi instrumen procurement jika diterjemahkan ke threshold dan dokumen pemilihan
Singapore menghubungkan benchmark dengan ekosistem pengukuran yang lebih luas, termasuk Singapore Building Carbon Calculator dan Green Mark 2021 Whole Life Carbon. Dalam panduan teknis Green Mark 2021, proyek yang menunjukkan pengurangan lebih dari 30% dari reference embodied carbon untuk material tertentu dapat memperoleh skor lebih tinggi. Di Indonesia, Keputusan Deputi I LKPP No. 3 Tahun 2024 telah membuka ruang pengadaan berkelanjutan melalui bukti sertifikasi/referensi label lingkungan material konstruksi dalam dokumen penawaran. Namun, agar procurement menjadi lebih tajam, label tersebut perlu dihubungkan dengan angka benchmark karbon yang kuantitatif.
Dari label ke threshold
Dokumen pengadaan tidak hanya meminta label hijau, tetapi mensyaratkan intensitas karbon maksimum per strength class.
Dari klaim ke verifikasi
EPD, LCA, atau deklarasi produk terverifikasi menjadi bukti teknis untuk menilai compliance.
Dari pilot ke skala nasional
Pilot pada proyek infrastruktur publik dapat menghasilkan panel data untuk estimasi DID.
Result 3 – Indonesia memiliki modal awal, tetapi belum memiliki market-wide benchmark
Kesiapan Indonesia dapat dibaca dari empat sisi. Pertama, ukuran sektor konstruksi cukup besar untuk membenarkan intervensi kebijakan. Kedua, procurement berkelanjutan sudah memiliki dasar dokumen operasional. Ketiga, Kemenperin sedang mendorong peta jalan dekarbonisasi industri, termasuk semen. Keempat, OJK telah memperluas Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia ke sektor Construction and Real Estate, yang secara konseptual dapat menjadi pintu masuk penyelarasan pembiayaan proyek hijau. Gap yang tersisa adalah belum adanya benchmark embodied carbon beton nasional yang berbasis data pasar, belum luasnya database produk terverifikasi, dan belum adanya indikator procurement nasional yang merekam carbon intensity material.
| Dimensi kesiapan | Bukti tersedia | Gap yang tersisa | Prioritas project research |
|---|---|---|---|
| Skala pasar | Sektor konstruksi signifikan dalam PDB. | Belum ada baseline beton nasional berbasis strength class. | Pemetaan supply-demand dan carbon intensity. |
| Pengadaan | LKPP telah menyiapkan model pengadaan berkelanjutan. | Kriteria karbon belum terstandardisasi sebagai threshold teknis. | Pilot procurement benchmark. |
| Industri | Agenda dekarbonisasi semen mulai dibangun. | Keterhubungan semen-beton-proyek masih fragmented. | Database produk, mix design, SCM, EPD. |
| Pembiayaan | TKBI dan standar global sustainable finance berkembang. | MRV material belum menjadi KPI umum pembiayaan proyek. | Framework green finance berbasis benchmark. |
Result 4 – Benchmark meningkatkan kualitas pembiayaan hijau
Pembiayaan hijau memerlukan tiga elemen: penggunaan dana yang jelas, indikator dampak yang terukur, dan verifikasi yang dapat diaudit. Benchmark embodied carbon beton dapat memperkuat ketiganya. Untuk green bond atau green loan, benchmark menyediakan dasar untuk menyatakan bahwa proyek menggunakan material dengan intensitas karbon di bawah baseline pasar. Untuk sustainability-linked loan, benchmark dapat diterjemahkan menjadi KPI, misalnya persentase volume beton proyek yang berada di bawah ambang karbon tertentu atau penurunan rata-rata kgCO₂e/m³ per tahun. Untuk transition finance sektor semen, benchmark membantu menghubungkan investasi di klinker reduction, SCM, fuel switching, atau digital process control dengan permintaan material rendah karbon di hilir.
Green bond
Benchmark menjadi bukti use-of-proceeds dan impact reporting pada proyek bangunan/infrastruktur rendah karbon.
Green loan
Bank dapat menilai eligibility proyek berdasarkan threshold material dan dokumen verifikasi.
SLL
KPI dapat dirumuskan sebagai penurunan embodied carbon beton atau peningkatan share low-carbon concrete.
Transition finance
Produsen semen/beton dapat menghubungkan capex dekarbonisasi dengan permintaan pasar terukur.
Kalkulator dan simulator kebijakan
Semua alat berikut bersifat edukatif dan skenario awal untuk merancang penelitian atau proposal proyek. Nilai default dapat diubah langsung.
Simulator A – Carbon saving benchmark beton
Ringkasan hasil
Pilih input lalu hitung untuk melihat potensi pengurangan emisi embodied carbon.
Simulator B – Procurement pass/fail threshold
Keputusan procurement
Masukkan intensitas produk untuk menilai apakah memenuhi benchmark procurement.
Simulator C – DID estimator sederhana untuk evaluasi pilot procurement
Estimasi ilustratif
Nilai default menggambarkan skenario carbon intensity beton proyek. Ubah angka sesuai desain pilot.
Simulator D – Indonesia readiness score
Indeks ini adalah alat diagnosis awal, bukan indeks resmi. Bobot dibuat sama agar mudah dipahami dan dapat disesuaikan dalam project research.
Skor kesiapan
Implikasi bagi pembiayaan hijau: benchmark sebagai MRV infrastructure
Benchmark embodied carbon beton memiliki nilai keuangan karena mengurangi information risk. Ia membuat klaim material rendah karbon lebih terukur, memudahkan kesesuaian dengan taksonomi berkelanjutan, dan dapat diterjemahkan menjadi indikator dampak untuk obligasi hijau, pinjaman hijau, atau sustainability-linked financing.
Use-of-proceeds financing
Green bond dan green loan dapat mengalokasikan dana pada proyek dengan pengurangan embodied carbon beton yang terukur terhadap benchmark pasar.
Sustainability-linked financing
Benchmark memungkinkan KPI seperti: share concrete volume below benchmark, carbon intensity per m³, atau disclosure coverage berbasis EPD.
Transition finance untuk industri semen
Investasi pengurangan clinker factor, penggunaan bahan bakar alternatif, atau process optimisation lebih mudah dinilai jika demand-side benchmark hadir.
Taxonomy alignment
Kerangka OJK TKBI, Green Bond Principles, Green Loan Principles, dan Climate Bonds Cement Criteria dapat menggunakan benchmark sebagai bukti kinerja.
Simulator E – Potensi interest saving pembiayaan hijau
Hasil keuangan ilustratif
Gunakan kalkulator untuk melihat bagaimana benchmark karbon dapat diterjemahkan menjadi percakapan bankability.
Rancangan project research Indonesia
Indonesia Concrete Carbon Baseline
Kumpulkan EPD, LCA, mix design, volume, binder, SCM, dan intensitas emisi beton domestik.
Procurement Pilot
Masukkan threshold embodied carbon ke proyek publik terpilih dan bandingkan dengan proyek non-pilot.
DID Evaluation
Uji apakah pilot meningkatkan share beton rendah karbon dan menurunkan intensitas karbon proyek.
Green Finance Linkage
Bangun taxonomy-aligned financing framework dan KPI pembiayaan berbasis benchmark.
Usulan struktur data panel untuk DID
| Unit | Periode | Treatment | Outcome utama | Kontrol |
|---|---|---|---|---|
| Paket procurement / proyek | Bulanan atau kuartalan | 1 jika benchmark diterapkan | kgCO₂e/m³; % volume low-carbon concrete | jenis proyek, lokasi, nilai kontrak, kelas beton |
| Instansi / daerah | Tahunan | 1 jika mulai menerapkan dokumen pengadaan berbasis benchmark | % tender dengan kriteria karbon | belanja konstruksi, kapasitas e-procurement |
| Supplier / produsen | Tahunan | exposure pada pasar procurement rendah karbon | jumlah produk terverifikasi; EPD adoption | kapasitas produksi, jenis semen, ekspor |
Usulan indikator untuk pembiayaan hijau
Rujukan utama untuk working paper
- CapitaLand Development & Climate Group. 2026. Concrete Data for Concrete Action: Singapore’s First Market-Wide Carbon Benchmark for Concrete.
- Singapore Green Building Council. Singapore Building Carbon Calculator and Carbon in the Built Environment.
- Building and Construction Authority Singapore. Green Mark 2021: Whole Life Carbon Technical Guide.
- Global Cement and Concrete Association. 2025. Global Low Carbon Ratings for Cement and Concrete.
- LKPP Republik Indonesia. 2024. Keputusan Deputi I Nomor 3 Tahun 2024 tentang Model Dokumen Pemilihan Pengadaan Berkelanjutan untuk Pekerjaan Konstruksi.
- Badan Pusat Statistik. 2024. Indikator Konstruksi Triwulan III 2024; Konstruksi Dalam Angka 2024.
- Kementerian Perindustrian. 2024-2025. Publikasi mengenai peta jalan dekarbonisasi industri semen dan sektor prioritas dekarbonisasi industri.
- Otoritas Jasa Keuangan. 2026. Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia Versi 3.
- Climate Bonds Initiative. 2023. Cement Criteria.
- ICMA. 2025. Green Bond Principles.
- LMA/APLMA/LSTA. 2025. Green Loan Principles and Guidance.
- Callaway, B., & Sant’Anna, P. H. C. 2021. Difference-in-Differences with Multiple Time Periods. Journal of Econometrics.
- Goodman-Bacon, A. 2021. Difference-in-Differences with Variation in Treatment Timing. Journal of Econometrics.
- Sun, L., & Abraham, S. 2021. Estimating Dynamic Treatment Effects in Event Studies with Heterogeneous Treatment Effects. Journal of Econometrics.
- Roth, J., Sant’Anna, P. H. C., Bilinski, A., & Poe, J. 2023. What’s Trending in Difference-in-Differences? Journal of Econometrics.