Benchmark Embodied Carbon Beton Indonesia: Dari Transparansi Material ke Green Procurement dan Pembiayaan Hijau

Working Paper – Benchmark Embodied Carbon Beton Indonesia
EC
Working Paper Interaktif Embodied Carbon Beton – Procurement – Green Finance
Working Paper / Project-Scale Research Blueprint

Benchmark Embodied Carbon Beton Indonesia: Dari Transparansi Material ke Green Procurement dan Pembiayaan Hijau

Paper ini menjawab tiga pertanyaan: mengapa Indonesia perlu benchmark embodied carbon beton, bagaimana benchmark tersebut dapat menjadi instrumen procurement, dan sejauh mana kesiapan pasar serta kebijakan Indonesia untuk mengembangkannya. Bagian empiris menggunakan desain Difference-in-Differences (DID) untuk agenda penelitian skala proyek, dilengkapi hasil berbasis bukti sumber resmi dan simulator kebijakan interaktif.

68%
cakupan pasar benchmark beton Singapore
329
kgCO₂e/m³ intensitas rata-rata beton Singapore 2024
10,06%
kontribusi konstruksi pada PDB Indonesia, Triwulan III 2024
DID
kerangka kausal untuk menguji dampak benchmark dalam procurement
Abstract & executive summary

Abstrak

Beton merupakan material strategis bagi pembangunan infrastruktur, tetapi juga terkait erat dengan emisi proses produksi semen, intensitas binder, desain campuran, dan rantai pasok agregat. Munculnya market-wide embodied carbon benchmark di Singapore memperlihatkan bahwa dekarbonisasi material dapat dipercepat melalui data yang transparan, comparable, dan dapat diterjemahkan ke dalam procurement. Paper ini mengusulkan arsitektur penelitian Indonesia yang menghubungkan benchmark karbon beton dengan pengadaan berkelanjutan, pasar produk rendah karbon, serta taksonomi pembiayaan hijau. Secara metodologis, paper ini merumuskan model Difference-in-Differences berbasis implementasi bertahap kebijakan procurement rendah karbon di tingkat instansi, proyek, atau wilayah. Karena Indonesia belum memiliki benchmark embodied carbon beton nasional yang market-wide, hasil yang disajikan terdiri atas: (i) bukti deskriptif komparatif dari Singapore dan kerangka kebijakan Indonesia; (ii) skenario empiris berbasis DID sebagai desain penelitian; dan (iii) simulator untuk mengukur potensi pengurangan emisi, pass/fail procurement, readiness score, dan implikasi green financing.

Embodied carbon Concrete benchmark Green procurement Difference-in-Differences Green finance Indonesia
Posisi paper: dokumen ini dirancang sebagai working paper empiris yang siap dikembangkan menjadi project research. Estimasi DID di dalamnya merupakan rancangan kausal dan simulator ilustratif, bukan klaim kausal final atas Indonesia, karena kebijakan benchmark nasional belum berjalan sebagai treatment yang dapat diobservasi pasca-implementasi.
1. Introduction

Mengapa Indonesia memerlukan benchmark embodied carbon beton?

Dekarbonisasi sektor konstruksi bergerak dari fokus pada energi operasional bangunan menuju whole-life carbon, khususnya embodied carbon yang melekat pada material sejak ekstraksi bahan baku, produksi, hingga material ditempatkan pada proyek. Beton menjadi prioritas karena merupakan material utama pembangunan infrastruktur dan intensitas karbonnya sangat dipengaruhi oleh kadar semen, tipe binder, SCM, logistik bahan baku, dan spesifikasi mutu beton.

Singapore pada 2026 memperkenalkan benchmark pasar embodied carbon beton berbasis data 2024 yang mencakup sekitar 68% pasar ready-mix dan menghasilkan intensitas rata-rata 329 kgCO₂e/m³. Benchmark tersebut tidak berhenti sebagai laporan teknis, tetapi dirancang menjadi rujukan bersama bagi developer, supplier, regulator, dan financier. Dengan demikian, benchmark berfungsi sebagai market infrastructure: ia menciptakan bahasa pengukuran yang seragam agar procurement dapat membedakan material biasa dari material rendah karbon.

Indonesia memiliki relevansi tinggi untuk mengadopsi kerangka ini. BPS mencatat kontribusi konstruksi terhadap PDB Indonesia sebesar 10,06% pada Triwulan III 2024. Di saat yang sama, LKPP telah mengeluarkan model dokumen pemilihan pengadaan berkelanjutan pekerjaan konstruksi yang memungkinkan bukti sertifikasi atau label lingkungan untuk material konstruksi diunggah dalam dokumen penawaran. Kemenperin juga menempatkan semen sebagai salah satu prioritas dekarbonisasi industri. Ini menunjukkan bahwa fondasi kebijakan sudah hadir, tetapi belum terintegrasi dengan benchmark karbon beton yang market-wide dan comparable.

Kesenjangan tersebut penting. Tanpa benchmark, procurement cenderung hanya mengakui klaim hijau secara administratif, bukan menilai kinerja karbon dalam satuan teknis yang sebanding. Akibatnya, pembeli proyek tidak memiliki threshold objektif untuk menentukan apakah suatu beton benar-benar lebih rendah karbon dibanding pasar. Tanpa data terstandardisasi, lembaga keuangan juga kesulitan menilai apakah proyek, produsen beton, atau investasi pada pabrik semen memenuhi logika pembiayaan hijau yang dapat diverifikasi.

Problem 1

Data emisi material belum menjadi bahasa procurement

Pengadaan dapat mensyaratkan label lingkungan, tetapi belum selalu mampu membedakan intensitas karbon material secara presisi dalam kgCO₂e/m³.

Problem 2

Pasar rendah karbon memerlukan benchmark pembanding

Supplier membutuhkan sinyal permintaan yang jelas, sedangkan pembeli membutuhkan threshold yang dapat diuji, diaudit, dan dipakai berulang.

Problem 3

Green finance membutuhkan MRV yang kuat

Taksonomi, green bond, dan green loan memerlukan kerangka pengukuran, pelaporan, dan verifikasi agar klaim dekarbonisasi lebih kredibel.

Sumber utama: Concrete Data for Concrete Action Benchmark Singapore (CapitaLand Development & Climate Group, 2026); BPS Konstruksi Dalam Angka dan Indikator Konstruksi 2024; LKPP Keputusan Deputi I No. 3 Tahun 2024; Kemenperin, agenda dekarbonisasi industri semen.
2. Research questions & hypotheses

Pertanyaan penelitian dan hipotesis kerja

RQ1

Mengapa benchmark diperlukan?

Apakah benchmark embodied carbon beton meningkatkan transparansi, comparability, dan kemampuan pemilihan material rendah karbon?

RQ2

Bagaimana benchmark bekerja dalam procurement?

Apakah integrasi benchmark ke dokumen pengadaan, sertifikasi, dan carbon calculator dapat mengubah spesifikasi proyek?

RQ3

Seberapa siap Indonesia?

Apakah kesiapan data, pasar semen-beton, kebijakan pengadaan, dan kerangka keuangan sudah cukup untuk membangun benchmark nasional?

RQ4

Apa implikasinya bagi green finance?

Apakah benchmark dapat menjadi MRV infrastructure untuk green bond, green loan, sustainability-linked loan, dan pembiayaan transisi semen?

Hipotesis

KodeHipotesisIndikator observasiStatus bukti dalam paper
H1Benchmark pasar embodied carbon meningkatkan transparansi dan comparability beton.cakupan pasar, benchmark kgCO₂e/m³, grading per strength class, availability of low-carbon options.Didukung bukti deskriptif Singapore
H2Benchmark yang diintegrasikan dalam procurement mempercepat adopsi low-carbon concrete.threshold pengadaan, share package with carbon criteria, share low-carbon concrete, disclosure rate.Diuji melalui desain DID
H3Indonesia memiliki kesiapan awal, tetapi masih ada gap pada database produk, EPD, dan baseline nasional.kebijakan LKPP, roadmap Kemenperin, data sektor konstruksi, ecolabel/EPD, calculator readiness.Didukung audit kebijakan
H4Benchmark embodied carbon meningkatkan bankability pembiayaan hijau.taxonomy alignment, green loan/bond eligibility, KPI for SLL, interest savings scenario.Implikasi konseptual + simulator
3. Method

Metode: Difference-in-Differences untuk menguji efek benchmark pada procurement

Karena Indonesia belum memiliki benchmark nasional yang telah diterapkan secara luas, strategi empiris terbaik adalah membangun pilot policy evaluation. Treatment dapat berupa instansi, proyek, atau wilayah yang mulai menerapkan persyaratan benchmark karbon beton dalam procurement, dibandingkan unit sejenis yang belum menerapkannya. DID memungkinkan estimasi perubahan outcome setelah treatment dengan mengontrol tren bersama antar-unit.

1

Bangun baseline

Susun database beton Indonesia: volume, mutu, binder, SCM, eco-label/EPD, dan intensitas karbon.

2

Definisikan treatment

Treated = proyek/instansi/wilayah yang mengadopsi threshold benchmark dalam pengadaan.

3

Ukur outcome

Outcome = carbon intensity, share low-carbon concrete, disclosure rate, biaya procurement, dan indikator financing.

4

Estimasi kausal

Gunakan DID, event study, dan estimator modern untuk staggered adoption.

3.1 Model DID dasar

\[ Y_{it} = \alpha_i + \lambda_t + \beta (Treat_i \times Post_t) + \gamma’X_{it} + \varepsilon_{it} \] Keterangan: \(Y_{it}\) outcome proyek/unit i pada waktu t; \(\alpha_i\) fixed effect unit; \(\lambda_t\) fixed effect waktu; \(Treat_i\) indikator kelompok treatment; \(Post_t\) periode pasca-adopsi benchmark; \(\beta\) efek rata-rata kebijakan.

Dalam konteks riset ini, \(Y_{it}\) dapat didefinisikan sebagai: (i) embodied carbon intensity beton proyek, (ii) persentase volume beton yang memenuhi threshold rendah karbon, (iii) probabilitas paket tender memuat kriteria karbon material, atau (iv) biaya modal/pembiayaan yang terkait dengan label hijau proyek.

3.2 Spesifikasi event study

\[ Y_{it} = \alpha_i + \lambda_t + \sum_{k \neq -1} \beta_k \cdot 1\{t-G_i=k\} + \gamma’X_{it} + \varepsilon_{it} \] \(G_i\) adalah tahun treatment pertama. Koefisien \(\beta_k\) mengukur dinamika sebelum dan sesudah kebijakan. Pre-trend yang relatif datar memperkuat plausibilitas asumsi parallel trends.

Untuk adopsi bertahap antar-instansi atau daerah, paper ini merekomendasikan estimator Callaway & Sant’Anna (2021) untuk menghitung group-time average treatment effects, serta kehati-hatian terhadap TWFE konvensional sesuai peringatan Goodman-Bacon (2021) dan Sun & Abraham (2021).

3.3 Model empiris yang direkomendasikan

OutcomeDefinisiSumber dataEkspektasi tanda
CarbonIntensitykgCO₂e/m³ concrete mix yang digunakan proyekEPD, LCA, dokumen proyek, benchmark nasionalNegatif
LowCarbonShare% volume beton yang berada di bawah threshold benchmarktender, RAB, material submissionPositif
DisclosureRate% paket procurement yang memuat data karbon materialLPSE/e-procurement, dokumen penawaranPositif
GreenFinanceFlagindikator proyek/issuer masuk pembiayaan hijau atau taxonomic alignmentOJK TKBI, green bond/loan disclosure, bank/issuer reportPositif
FinancingSpreadspread bunga / cost of debt proyek atau emiten terkaitterm sheet, bond prospectus, laporan keuanganNegatif

3.4 Sumber metodologis

Kerangka DID modern

Callaway & Sant’Anna (2021) untuk multiple periods dan staggered adoption; Roth et al. (2023) untuk sintesis rekomendasi praktik.

Risiko TWFE konvensional

Goodman-Bacon (2021) dan Sun & Abraham (2021) menunjukkan potensi bias ketika timing treatment bervariasi dan efeknya heterogen.

4. Results & discussion

Hasil analitis: benchmark, procurement, kesiapan Indonesia, dan jalur pembiayaan hijau

Result 1 – Benchmark pasar menghasilkan baseline yang actionable

Benchmark Singapore menunjukkan bahwa pasar beton dapat dipetakan secara terukur menurut kelas kekuatan. Laporan 2026 menggunakan data beton yang dipasok pada 2024 dan menyajikan minimum, maksimum, rata-rata tertimbang volume, serta standar deviasi embodied carbon untuk enam strength class. Secara agregat, volume beton 11,4 juta m³ pada 2024 berkaitan dengan 3,7 MtCO₂e embodied carbon, atau rata-rata 329 kgCO₂e/m³. Temuan ini penting karena benchmark tidak hanya menyajikan satu angka nasional, tetapi memisahkan beton berdasarkan fungsi teknisnya.

Strength classPorsi volumeRata-rata kgCO₂e/m³MinimumMaksimumMakna kebijakan
C16/207%283122343Low-strength concrete tetap membutuhkan benchmark agar pemilihan tidak semata berbasis harga.
C25/304%311129418Gap minimum-maksimum menunjukkan ruang dekarbonisasi dalam mix design.
C32/4055%289153467Kelas paling dominan; intervensi pada kelas ini dapat memberi dampak sistemik.
C40/5017%405177513Kelas struktural tinggi perlu threshold berbeda agar tidak salah membandingkan.
C50/6012%425209555Pengurangan karbon harus diseimbangkan dengan spesifikasi performa.
C70/855%477209589Benchmark sangat penting untuk high-strength concrete dan proyek kompleks.
Diskusi: Indonesia sebaiknya tidak memulai dari satu target nasional tunggal untuk semua beton. Arsitektur benchmark perlu berbasis strength class, karena membandingkan beton C25/30 dengan C70/85 tanpa pemisahan akan menimbulkan keputusan procurement yang salah.

Result 2 – Benchmark menjadi instrumen procurement jika diterjemahkan ke threshold dan dokumen pemilihan

Singapore menghubungkan benchmark dengan ekosistem pengukuran yang lebih luas, termasuk Singapore Building Carbon Calculator dan Green Mark 2021 Whole Life Carbon. Dalam panduan teknis Green Mark 2021, proyek yang menunjukkan pengurangan lebih dari 30% dari reference embodied carbon untuk material tertentu dapat memperoleh skor lebih tinggi. Di Indonesia, Keputusan Deputi I LKPP No. 3 Tahun 2024 telah membuka ruang pengadaan berkelanjutan melalui bukti sertifikasi/referensi label lingkungan material konstruksi dalam dokumen penawaran. Namun, agar procurement menjadi lebih tajam, label tersebut perlu dihubungkan dengan angka benchmark karbon yang kuantitatif.

Procurement 1

Dari label ke threshold

Dokumen pengadaan tidak hanya meminta label hijau, tetapi mensyaratkan intensitas karbon maksimum per strength class.

Procurement 2

Dari klaim ke verifikasi

EPD, LCA, atau deklarasi produk terverifikasi menjadi bukti teknis untuk menilai compliance.

Procurement 3

Dari pilot ke skala nasional

Pilot pada proyek infrastruktur publik dapat menghasilkan panel data untuk estimasi DID.

Diskusi: Benchmark bukan pengganti procurement, melainkan decision rule di dalam procurement. Ia membuat pembeli dapat menulis kalimat operasional: “untuk kelas C32/40, produk yang diajukan harus berada di bawah ambang X kgCO₂e/m³ atau menunjukkan pengurangan Y% dari benchmark.”

Result 3 – Indonesia memiliki modal awal, tetapi belum memiliki market-wide benchmark

Kesiapan Indonesia dapat dibaca dari empat sisi. Pertama, ukuran sektor konstruksi cukup besar untuk membenarkan intervensi kebijakan. Kedua, procurement berkelanjutan sudah memiliki dasar dokumen operasional. Ketiga, Kemenperin sedang mendorong peta jalan dekarbonisasi industri, termasuk semen. Keempat, OJK telah memperluas Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia ke sektor Construction and Real Estate, yang secara konseptual dapat menjadi pintu masuk penyelarasan pembiayaan proyek hijau. Gap yang tersisa adalah belum adanya benchmark embodied carbon beton nasional yang berbasis data pasar, belum luasnya database produk terverifikasi, dan belum adanya indikator procurement nasional yang merekam carbon intensity material.

Dimensi kesiapanBukti tersediaGap yang tersisaPrioritas project research
Skala pasarSektor konstruksi signifikan dalam PDB.Belum ada baseline beton nasional berbasis strength class.Pemetaan supply-demand dan carbon intensity.
PengadaanLKPP telah menyiapkan model pengadaan berkelanjutan.Kriteria karbon belum terstandardisasi sebagai threshold teknis.Pilot procurement benchmark.
IndustriAgenda dekarbonisasi semen mulai dibangun.Keterhubungan semen-beton-proyek masih fragmented.Database produk, mix design, SCM, EPD.
PembiayaanTKBI dan standar global sustainable finance berkembang.MRV material belum menjadi KPI umum pembiayaan proyek.Framework green finance berbasis benchmark.
Diskusi: Indonesia bukan berada pada posisi “belum siap”, melainkan “siap sebagian tetapi membutuhkan infrastruktur data”. Kelembagaan awal sudah ada; yang belum lengkap adalah market measurement system yang mengubah kebijakan umum menjadi keputusan teknis per m³ beton.

Result 4 – Benchmark meningkatkan kualitas pembiayaan hijau

Pembiayaan hijau memerlukan tiga elemen: penggunaan dana yang jelas, indikator dampak yang terukur, dan verifikasi yang dapat diaudit. Benchmark embodied carbon beton dapat memperkuat ketiganya. Untuk green bond atau green loan, benchmark menyediakan dasar untuk menyatakan bahwa proyek menggunakan material dengan intensitas karbon di bawah baseline pasar. Untuk sustainability-linked loan, benchmark dapat diterjemahkan menjadi KPI, misalnya persentase volume beton proyek yang berada di bawah ambang karbon tertentu atau penurunan rata-rata kgCO₂e/m³ per tahun. Untuk transition finance sektor semen, benchmark membantu menghubungkan investasi di klinker reduction, SCM, fuel switching, atau digital process control dengan permintaan material rendah karbon di hilir.

Finance 1

Green bond

Benchmark menjadi bukti use-of-proceeds dan impact reporting pada proyek bangunan/infrastruktur rendah karbon.

Finance 2

Green loan

Bank dapat menilai eligibility proyek berdasarkan threshold material dan dokumen verifikasi.

Finance 3

SLL

KPI dapat dirumuskan sebagai penurunan embodied carbon beton atau peningkatan share low-carbon concrete.

Finance 4

Transition finance

Produsen semen/beton dapat menghubungkan capex dekarbonisasi dengan permintaan pasar terukur.

Diskusi: Implikasi paling besar bukan hanya potensi bunga lebih murah, tetapi penurunan risiko informasi. Benchmark mengurangi asimetri antara pembeli, pemasok, dan pemberi dana karena semua pihak menilai proyek dengan satuan karbon yang sama.
5. Interactive calculators & simulators

Kalkulator dan simulator kebijakan

Semua alat berikut bersifat edukatif dan skenario awal untuk merancang penelitian atau proposal proyek. Nilai default dapat diubah langsung.

Simulator A – Carbon saving benchmark beton

Ringkasan hasil

Pilih input lalu hitung untuk melihat potensi pengurangan emisi embodied carbon.

baseline kgCO₂e/m³
target kgCO₂e/m³
baseline tCO₂e
emisi dihindari tCO₂e

Simulator B – Procurement pass/fail threshold

Keputusan procurement

Masukkan intensitas produk untuk menilai apakah memenuhi benchmark procurement.

benchmark
ambang lulus
status
gap vs threshold

Simulator C – DID estimator sederhana untuk evaluasi pilot procurement

Estimasi ilustratif

Nilai default menggambarkan skenario carbon intensity beton proyek. Ubah angka sesuai desain pilot.

Δ treatment
Δ control
DID effect
interpretasi

Simulator D – Indonesia readiness score

Indeks ini adalah alat diagnosis awal, bukan indeks resmi. Bobot dibuat sama agar mudah dipahami dan dapat disesuaikan dalam project research.

Data & EPD35
Procurement policy58
Industry transition60
Finance taxonomy70
R&D & pilot projects62

Skor kesiapan

readiness score /100
status

6. Green finance implications

Implikasi bagi pembiayaan hijau: benchmark sebagai MRV infrastructure

Benchmark embodied carbon beton memiliki nilai keuangan karena mengurangi information risk. Ia membuat klaim material rendah karbon lebih terukur, memudahkan kesesuaian dengan taksonomi berkelanjutan, dan dapat diterjemahkan menjadi indikator dampak untuk obligasi hijau, pinjaman hijau, atau sustainability-linked financing.

Pathway A

Use-of-proceeds financing

Green bond dan green loan dapat mengalokasikan dana pada proyek dengan pengurangan embodied carbon beton yang terukur terhadap benchmark pasar.

Pathway B

Sustainability-linked financing

Benchmark memungkinkan KPI seperti: share concrete volume below benchmark, carbon intensity per m³, atau disclosure coverage berbasis EPD.

Pathway C

Transition finance untuk industri semen

Investasi pengurangan clinker factor, penggunaan bahan bakar alternatif, atau process optimisation lebih mudah dinilai jika demand-side benchmark hadir.

Pathway D

Taxonomy alignment

Kerangka OJK TKBI, Green Bond Principles, Green Loan Principles, dan Climate Bonds Cement Criteria dapat menggunakan benchmark sebagai bukti kinerja.

Simulator E – Potensi interest saving pembiayaan hijau

Hasil keuangan ilustratif

Gunakan kalkulator untuk melihat bagaimana benchmark karbon dapat diterjemahkan menjadi percakapan bankability.

utang proyek Rp miliar
potensi saving Rp miliar
Rp ribu per tCO₂e
sinyal pembiayaan
Catatan kehati-hatian: penghematan spread tidak otomatis muncul hanya karena proyek memiliki benchmark. Ia bergantung pada struktur transaksi, kebijakan bank/investor, taxonomic alignment, credit risk, dan kualitas verifikasi dampak. Simulator ini memperlihatkan financial logic, bukan menawarkan estimasi pasar yang final.
7. Recommended project architecture

Rancangan project research Indonesia

A

Indonesia Concrete Carbon Baseline

Kumpulkan EPD, LCA, mix design, volume, binder, SCM, dan intensitas emisi beton domestik.

B

Procurement Pilot

Masukkan threshold embodied carbon ke proyek publik terpilih dan bandingkan dengan proyek non-pilot.

C

DID Evaluation

Uji apakah pilot meningkatkan share beton rendah karbon dan menurunkan intensitas karbon proyek.

D

Green Finance Linkage

Bangun taxonomy-aligned financing framework dan KPI pembiayaan berbasis benchmark.

Usulan struktur data panel untuk DID
UnitPeriodeTreatmentOutcome utamaKontrol
Paket procurement / proyekBulanan atau kuartalan1 jika benchmark diterapkankgCO₂e/m³; % volume low-carbon concretejenis proyek, lokasi, nilai kontrak, kelas beton
Instansi / daerahTahunan1 jika mulai menerapkan dokumen pengadaan berbasis benchmark% tender dengan kriteria karbonbelanja konstruksi, kapasitas e-procurement
Supplier / produsenTahunanexposure pada pasar procurement rendah karbonjumlah produk terverifikasi; EPD adoptionkapasitas produksi, jenis semen, ekspor
Usulan indikator untuk pembiayaan hijau
Use-of-proceeds aligned Green loan eligibility Carbon KPI for SLL Verified EPD coverage Embodied carbon reduction Taxonomy alignment
8. References & source backbone

Rujukan utama untuk working paper

  1. CapitaLand Development & Climate Group. 2026. Concrete Data for Concrete Action: Singapore’s First Market-Wide Carbon Benchmark for Concrete.
  2. Singapore Green Building Council. Singapore Building Carbon Calculator and Carbon in the Built Environment.
  3. Building and Construction Authority Singapore. Green Mark 2021: Whole Life Carbon Technical Guide.
  4. Global Cement and Concrete Association. 2025. Global Low Carbon Ratings for Cement and Concrete.
  5. LKPP Republik Indonesia. 2024. Keputusan Deputi I Nomor 3 Tahun 2024 tentang Model Dokumen Pemilihan Pengadaan Berkelanjutan untuk Pekerjaan Konstruksi.
  6. Badan Pusat Statistik. 2024. Indikator Konstruksi Triwulan III 2024; Konstruksi Dalam Angka 2024.
  7. Kementerian Perindustrian. 2024-2025. Publikasi mengenai peta jalan dekarbonisasi industri semen dan sektor prioritas dekarbonisasi industri.
  8. Otoritas Jasa Keuangan. 2026. Taksonomi untuk Keuangan Berkelanjutan Indonesia Versi 3.
  9. Climate Bonds Initiative. 2023. Cement Criteria.
  10. ICMA. 2025. Green Bond Principles.
  11. LMA/APLMA/LSTA. 2025. Green Loan Principles and Guidance.
  12. Callaway, B., & Sant’Anna, P. H. C. 2021. Difference-in-Differences with Multiple Time Periods. Journal of Econometrics.
  13. Goodman-Bacon, A. 2021. Difference-in-Differences with Variation in Treatment Timing. Journal of Econometrics.
  14. Sun, L., & Abraham, S. 2021. Estimating Dynamic Treatment Effects in Event Studies with Heterogeneous Treatment Effects. Journal of Econometrics.
  15. Roth, J., Sant’Anna, P. H. C., Bilinski, A., & Poe, J. 2023. What’s Trending in Difference-in-Differences? Journal of Econometrics.
Working paper interaktif – dirancang untuk pengembangan policy paper, pilot research, dan project-scale study mengenai benchmark embodied carbon beton Indonesia.