Reviu Terstruktur Naskah ABAC-05-2026-0171.R1
Dashboard review kedua (R1) yang menggabungkan isi naskah, verifikasi tanggapan penulis, evaluasi per bagian, koreksi spesifik, serta komentar reviewer dalam dua bahasa.
Fokus Reviu
Memeriksa apakah revisi benar-benar menyelesaikan catatan putaran pertama, akurat secara teori–metode–hasil, serta proporsional terhadap bukti empiris.
Ikhtisar Model dan Kontribusi
Model utama: EMA → SMA → CA → EP; ESG → CA → EP; DAC memoderasi SMA → CA.
Isi Naskah
Naskah mengklaim bahwa praktik akuntansi lingkungan, strategis, ESG, dan digital membentuk sistem kapabilitas terintegrasi. Competitive Advantage ditempatkan sebagai mekanisme utama yang mentransformasikan kapabilitas menjadi Economic Performance.
Penilaian Reviewer
Kerangka integratif menarik dan lebih kuat dibanding versi direct-effect sederhana. Namun, integrasi beberapa konstruk belum otomatis merupakan novelty teoritis. Klaim kebaruan harus dibuktikan melalui sintesis literatur yang lebih sistematis dan spesifik.
Koreksi yang Seharusnya
- Nyatakan novelty sebagai mechanism-based integration, bukan seolah teori baru.
- Bedakan kontribusi konseptual, empiris, dan kontekstual.
- Hindari klaim makroekonomi karena unit analisis adalah perusahaan.
Risiko Utama
- Overclaim terhadap “economic performance” tingkat nasional.
- SMA disebut higher-order construct tetapi pelaporannya belum mendukung.
- Data ESG ordinal diperlakukan seperti skor interval.
Abstrak
Panduan: masalah, tujuan, metode, sampel, temuan utama, mediasi/moderasi, kontribusi, dan kata kunci.
Ringkasan Isi Abstrak
Evaluasi Berdasarkan Panduan
Versi Koreksi yang Disarankan
Pendahuluan
Panduan: konteks → masalah ilmiah → sintesis studi terdahulu → gap → tujuan → kontribusi.
Kekuatan
- Konteks keberlanjutan, ESG, dan digitalisasi dijelaskan.
- Research gap diarahkan pada keterpisahan EMA, SMA, ESG, dan DAC.
- Tujuan serta kontribusi dinyatakan eksplisit.
Kelemahan
- Dua paragraf berurutan mengulang pengembangan kerangka yang sama.
- Istilah “direct-effect bias” dan “capability transformation” terlalu sering diulang.
- Beberapa sitasi ditulis dengan format tidak akademik, misalnya penjelasan deskriptif setelah sitasi.
Koreksi Struktur
- Paragraf 1: evolusi management accounting.
- Paragraf 2: posisi EMA dan SMA.
- Paragraf 3: ESG dan digital capability.
- Paragraf 4: sintesis bukti campuran dan gap.
- Paragraf 5: tujuan, model, dan tiga kontribusi.
Kalimat yang Perlu Dilunakkan
Ganti klaim bahwa studi “resolves” direct-effect bias menjadi “provides evidence consistent with a mechanism-based explanation.” Ini lebih proporsional terhadap satu studi observasional.
Literatur, Teori, dan Hipotesis
RBV, Dynamic Capability Theory, capability transformation, mediasi, dan moderasi.
H1
EMA → SMA. Logis bila EMA diposisikan sebagai operational information capability.
H2
SMA → CA. Konsisten dengan RBV dan strategic positioning.
H3
ESG → CA. Didukung legitimacy, trust, reputation, dan differentiation.
H4
CA → EP. Kuat pada level perusahaan, tetapi jangan diperluas menjadi makroekonomi.
H5–H6
CA sebagai mediator. Tepat, tetapi full mediation tidak berarti satu-satunya mekanisme di dunia nyata.
H7
DAC memoderasi SMA → CA. Konsep complementarity relevan.
Masalah Teoritis yang Harus Dikoreksi
- EMA sebagai “lower-order capability” dan SMA sebagai “higher-order capability” perlu definisi operasional yang lebih ketat.
- Jika SMA benar-benar second-order, dimensi first-order harus dijelaskan dan diuji.
- DAC disebut higher-order dynamic capability, tetapi diukur reflektif dengan tiga indikator umum; klaim level konstruk perlu konsisten.
Metodologi
Desain tiga gelombang, sumber data, konstruk, sampling, PLS-SEM, mediasi, moderasi, dan robustness.
Isi Metode
- Sampling frame: 226 perusahaan SET ESG Ratings 2024.
- Respon awal: 178; sampel final: 165.
- T1: EMA, SMA, DAC; T2: CA; T3: EP.
- PLS-SEM dengan SmartPLS 4 dan bootstrap 5.000.
- Robustness: CMB, non-response, PLSpredict, MGA, Gaussian copula.
Kekuatan
- Multi-source dan temporal separation mengurangi common method bias.
- Penggunaan data arsip untuk ESG dan EP meningkatkan objektivitas.
- Justifikasi PLS-SEM lebih lengkap daripada versi awal.
Koreksi Metodologis Wajib
Hasil dan Kelayakan Model
Reliabilitas, validitas, direct effects, indirect effects, moderation, prediction, dan robustness.
Hasil Utama
- EMA → SMA: β=0.52, p<0.001.
- SMA → CA: β=0.41, p<0.001.
- ESG → CA: β=0.35, p<0.001.
- CA → EP: β=0.47, p<0.001.
- SMA → CA → EP: β=0.193, p<0.001.
- ESG → CA → EP: β=0.165, p<0.001.
- SMA×DAC → CA: β=0.22, f²=0.08.
Interpretasi Reviewer
Temuan mendukung mekanisme mediasi dan moderasi. Namun, pelaporan hasil perlu lebih lengkap agar dapat direplikasi dan diverifikasi.
Koreksi yang Harus Ditambahkan
- Laporkan inner VIF untuk setiap konstruk prediktor.
- Laporkan confidence interval semua jalur, bukan hanya mediasi.
- Tampilkan simple slope plot moderasi DAC rendah–sedang–tinggi.
- Jelaskan apakah interaction term menggunakan product indicator atau two-stage dan mengapa.
- PLSpredict seharusnya disajikan pada level indikator, bukan hanya konstruk agregat.
- MGA memerlukan penjelasan pembentukan kelompok serta MICOM sebelum membandingkan jalur.
- SRMR/NFI/RMS_theta jangan diperlakukan sebagai bukti utama “good fit” dalam PLS-SEM.
Koreksi Narasi Mediasi
Gunakan formulasi: “The significant indirect effects, combined with non-significant direct effects in the specified model, are consistent with indirect-only mediation.” Formulasi ini lebih tepat dan tidak menyiratkan bahwa CA adalah satu-satunya mekanisme universal.
Pembahasan dan Kontribusi
Makna temuan, perbandingan literatur, teori, implikasi, dan proporsionalitas klaim.
Kekuatan
- Masing-masing hipotesis dibahas.
- Hasil dihubungkan dengan RBV dan dynamic capability.
- Efek moderasi kecil sudah diinterpretasikan lebih hati-hati.
Kelemahan
- Banyak pengulangan antara discussion dan theoretical contributions.
- Frasa “resolves direct-effect bias” terlalu kuat.
- Penjelasan alasan hasil sejalan/berbeda masih terbatas.
Format Pembahasan yang Disarankan
- Nyatakan hasil.
- Jelaskan mekanismenya.
- Bandingkan dengan studi terdahulu.
- Terangkan alasan konteks Thailand.
- Nyatakan implikasi teoretis secara proporsional.
Level Analisis
Hapus atau lunakkan klaim bahwa firm-level competitive advantage secara langsung menjelaskan national economic performance. Data hanya mendukung firm-level economic performance.
Kesimpulan, Keterbatasan, dan Riset Lanjutan
Kesimpulan harus menjawab tujuan, mensintesis hasil, menyatakan kontribusi, dan membatasi generalisasi.
Yang Sudah Sesuai
- Menjawab hubungan utama.
- Menyatakan peran mediasi CA dan moderasi DAC.
- Mengakui desain observasional dan konteks Thailand.
Yang Perlu Diperbaiki
- Kesimpulan mengulang pembahasan terlalu panjang.
- Gunakan istilah “firm-level economic performance” secara konsisten.
- Hindari klaim “provides empirical support” yang terlalu luas tanpa membatasi konteks.
Versi Kesimpulan Ringkas yang Disarankan
Response to Reviewers
Menilai apakah 15 butir revisi benar-benar tercermin dalam manuskrip.
Revisi Sebelum dan Sesudah
Menampilkan perubahan dari komentar review pertama ke komentar review kedua (R1), agar perkembangan evaluasi terlihat jelas tanpa pengulangan.
1. Originality
2. Relationship to Literature
3. Methodology
4. Results
5. Practicality and/or Research Implications
6. Quality of Communication
7. Abstract
Komentar Reviewer Dua Bahasa
Versi ringkas, langsung, spesifik, dan tidak mengulang komentar putaran pertama.
1. Originality
The manuscript presents a clearer contribution by organizing established constructs into a sequential capability process: EMA as an operational capability, SMA as a strategic capability, Competitive Advantage as the mediating mechanism, and DAC as an enabling condition. However, the originality remains integrative and context-specific, as the study rearranges and empirically tests established ideas rather than introducing a new theory.
Manuskrip menunjukkan kontribusi yang lebih jelas dengan menyusun konstruk-konstruk yang telah mapan ke dalam proses kapabilitas yang berurutan: EMA sebagai kapabilitas operasional, SMA sebagai kapabilitas strategis, Competitive Advantage sebagai mekanisme mediasi, dan DAC sebagai kondisi pendukung. Namun, orisinalitasnya tetap bersifat integratif dan kontekstual karena penelitian ini menyusun ulang serta menguji secara empiris gagasan yang telah ada, bukan memperkenalkan teori baru.
2. Relationship to Literature
The literature review covers the main fields relevant to the proposed model, but several theoretical claims are not sufficiently traceable to specific evidence. The discussion of direct, indirect, partial, full, and insignificant effects does not clearly identify which studies support each pattern. Citation inconsistencies also remain, including mismatched publication years, sources cited in the text but not clearly listed in the references, and non-standard expressions such as “ESG competitiveness research.” Overall, the literature base is relevant, but citation accuracy and evidence mapping require careful correction.
Kajian literatur telah mencakup bidang utama yang relevan dengan model, tetapi sejumlah klaim teoretis belum dapat ditelusuri secara jelas pada bukti tertentu. Pembahasan mengenai efek langsung, tidak langsung, parsial, penuh, dan tidak signifikan belum menunjukkan secara tegas studi mana yang mendukung setiap pola. Masih terdapat ketidakkonsistenan sitasi, termasuk perbedaan tahun publikasi, sumber yang dikutip dalam teks tetapi tidak tercantum jelas dalam daftar pustaka, serta ungkapan tidak baku seperti “ESG competitiveness research.” Secara umum, dasar literaturnya relevan, tetapi akurasi sitasi dan pemetaan bukti perlu diperbaiki secara cermat.
3. Methodology
SMA is presented as a second-order construct, but its lower-order dimensions are not reported. The three-wave design does not clearly show timing, respondent matching, or attrition. MGA is reported without measurement invariance testing, and the Gaussian copula analysis lacks sufficient diagnostic detail. These gaps limit methodological transparency.
SMA dinyatakan sebagai konstruk orde kedua, tetapi dimensi orde pertamanya tidak dilaporkan. Desain tiga gelombang belum menjelaskan waktu, pencocokan responden, dan attrition. MGA disajikan tanpa uji invariansi pengukuran, sedangkan analisis Gaussian copula belum dilengkapi detail diagnostik yang memadai. Kekurangan tersebut membatasi transparansi metodologis.
4. Results
Table 4.4 incorrectly describes H1–H6 as direct relationships, although H5 and H6 are mediation hypotheses. The reported total effect for SMA → EP is also inconsistent with the stated direct effect (0.061) and indirect effect (0.193). The mediation result is repeated and interpreted too strongly as “full mediation”; the evidence is more consistent with indirect-only mediation in the specified model. The moderation analysis lacks a simple-slope figure, and the conclusion overstates the findings through claims such as “entirely dependent” and “resolves” direct-effect bias.
Tabel 4.4 keliru menyebut H1–H6 sebagai hubungan langsung, padahal H5 dan H6 merupakan hipotesis mediasi. Nilai total effect SMA → EP juga tidak konsisten dengan direct effect sebesar 0,061 dan indirect effect sebesar 0,193. Hasil mediasi diulang dan ditafsirkan terlalu kuat sebagai “full mediation”; bukti yang tersedia lebih sesuai dengan indirect-only mediation dalam model yang diuji. Analisis moderasi belum dilengkapi grafik simple slope, sedangkan kesimpulan melebih-lebihkan temuan melalui pernyataan seperti “entirely dependent” dan “resolves” direct-effect bias.
5. Practicality and/or Research Implications
The implications exceed the evidence tested. The study does not compare specific SMA tools, ESG practices, or digital technologies, so their claimed effectiveness should be interpreted cautiously. The policy recommendations are also broader than the firm-level model supports. Future research should remain focused on the observational design, perceptual measurement of Competitive Advantage, the Thai context, and alternative roles of Digital Accounting Capability.
Implikasi yang disampaikan melampaui bukti yang diuji. Penelitian ini tidak membandingkan alat SMA, praktik ESG, atau teknologi digital tertentu, sehingga klaim efektivitasnya perlu ditafsirkan secara hati-hati. Rekomendasi kebijakan juga lebih luas daripada yang didukung oleh model tingkat perusahaan. Penelitian lanjutan sebaiknya tetap berfokus pada desain observasional, pengukuran perseptual Competitive Advantage, konteks Thailand, dan alternatif peran Digital Accounting Capability.
6. Quality of Communication
Several arguments are repeated across the Introduction, Literature Review, Discussion, and Conclusion, reducing the manuscript’s overall impact. Long paragraphs and excessive use of acronyms interrupt readability. In addition, non-standard citation expressions such as “ESG competitiveness research” should be corrected. Each section should provide new information rather than restating earlier arguments.
Beberapa argumen diulang pada bagian Pendahuluan, Kajian Literatur, Pembahasan, dan Kesimpulan sehingga mengurangi kekuatan naskah secara keseluruhan. Paragraf yang terlalu panjang serta penggunaan singkatan yang berlebihan mengganggu keterbacaan. Selain itu, bentuk sitasi tidak baku seperti “ESG competitiveness research” perlu diperbaiki. Setiap bagian sebaiknya memberikan informasi baru, bukan mengulang pembahasan sebelumnya.
7. Abstract
The abstract adequately summarizes the study, but it is too dense and contains excessive abbreviations (EMA, SMA, ESG, CA, DAC, EP, RBV, and PLS-SEM). The phrase “strong support for a mechanism-based explanation of value creation” overstates what an observational design can establish, while the small DAC moderation effect is not acknowledged. These issues reduce readability and make the contribution appear stronger than the evidence supports.
Abstrak telah merangkum penelitian secara memadai, tetapi masih terlalu padat dan menggunakan terlalu banyak singkatan (EMA, SMA, ESG, CA, DAC, EP, RBV, dan PLS-SEM). Frasa “strong support for a mechanism-based explanation of value creation” melebih-lebihkan kekuatan bukti dari desain observasional, sedangkan kecilnya efek moderasi DAC tidak disebutkan. Hal-hal tersebut mengurangi keterbacaan dan membuat kontribusi tampak lebih kuat daripada bukti yang tersedia.
Daftar Singkatan
Setiap singkatan perlu ditulis lengkap saat pertama kali muncul.
| Singkatan | Kepanjangan | Makna |
|---|---|---|
| EMA | Environmental Management Accounting | Akuntansi Manajemen Lingkungan |
| SMA | Strategic Management Accounting | Akuntansi Manajemen Strategis |
| ESG | Environmental, Social, and Governance | Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola |
| DAC | Digital Accounting Capability | Kapabilitas Akuntansi Digital |
| CA | Competitive Advantage | Keunggulan Bersaing |
| EP | Economic Performance | Kinerja Ekonomi tingkat perusahaan |
| RBV | Resource-Based View | Pandangan Berbasis Sumber Daya |
| PLS-SEM | Partial Least Squares Structural Equation Modeling | SEM berbasis Partial Least Squares |
| CB-SEM | Covariance-Based Structural Equation Modeling | SEM berbasis kovarians |
| AVE | Average Variance Extracted | Rata-rata varians terekstraksi |
| HTMT | Heterotrait–Monotrait Ratio | Ukuran validitas diskriminan |
| VIF | Variance Inflation Factor | Ukuran kolinearitas |
| MGA | Multi-Group Analysis | Analisis multikelompok |
| MICOM | Measurement Invariance of Composite Models | Uji invariansi pengukuran komposit |
| SRMR | Standardized Root Mean Square Residual | Ukuran residual model |
| RMSE | Root Mean Square Error | Akar rata-rata kuadrat kesalahan |
Rekomendasi dan Komentar
Rangkuman siap pakai untuk editor dan penulis.
Rekomendasi Sementara: Major Revision
Naskah telah membaik, tetapi masih terdapat isu substansial pada spesifikasi konstruk SMA orde kedua, dokumentasi desain tiga gelombang, konsistensi hasil statistik, prosedur robustness, akurasi sitasi, dan proporsionalitas klaim teoretis.