Kalkulator Simulasi QE dalam Kerangka New Monetary Trinity

Simulasi QE dan New Monetary Trinity Indonesia
Disertasi QE Indonesia · ARDL–TVECM–BVECM–TVP-VECM

Kalkulator Simulasi QE dalam Kerangka New Monetary Trinity

Halaman ini menjelaskan bagaimana temuan empiris penelitian menjawab pertanyaan penelitian dan menghasilkan simpulan umum bahwa Quantitative Easing di Indonesia bekerja terutama melalui neraca bank sentral, pasar SUN, likuiditas, dan stabilisasi pasar keuangan, bukan melalui kanal suku bunga konvensional semata.

SUN sebagai instrumen QE IHSG sebagai kanal portofolio REER sebagai buffer eksternal BI Rate sebagai respons inflasi ECT sebagai indikator rezim

1. Simpul Besar Penelitian

Simpulan umum penelitian dibangun dari rangkaian hubungan yang saling menguatkan. QE di Indonesia tidak terutama bekerja melalui pemotongan suku bunga, tetapi melalui pembelian SUN, penambahan likuiditas, penurunan yield, dan perbaikan ekspektasi pasar keuangan.

QESUNLikuiditasStabilitas Pasar Keuangan
QEYield SUN TurunRuang FiskalKeberlanjutan Fiskal
QEPortfolio RebalancingIHSGStabilitas Keuangan
BI RateInflasiTaylor Rule
Penegasan: BI Rate tetap relevan untuk merespons inflasi, tetapi bukan kanal utama transmisi QE. Temuan ini menjelaskan mengapa hasil empiris menunjukkan QE lebih kuat pada SUN, IHSG, likuiditas, dan stabilitas pasar dibandingkan pada BI Rate.

2. Jawaban terhadap Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan 1: Bagaimana QE memengaruhi makroekonomi?

QE memengaruhi inflasi dalam jangka pendek melalui tambahan likuiditas, tetapi tidak menciptakan tekanan inflasi permanen. PDB dan BI Rate tidak merespons secara kuat, sehingga QE lebih tepat dibaca sebagai instrumen stabilisasi krisis, bukan mesin pertumbuhan jangka panjang.

SUN ↑ → Likuiditas ↑ → Permintaan Agregat ↑ → Inflasi Jangka Pendek ↑

Pertanyaan 2: Bagaimana QE memengaruhi pasar keuangan?

Pengaruh paling jelas terlihat pada pasar keuangan melalui kanal portofolio. Ketika pembelian SUN menekan yield, investor melakukan rebalancing ke aset berisiko seperti saham, sehingga IHSG menjadi kanal stabilisasi penting.

Yield SUN ↓ → Rebalancing Portofolio → IHSG ↑ → Stabilitas Keuangan ↑

Pertanyaan 3: Apakah QE mendukung New Monetary Trinity?

Ya, terutama saat krisis. QE mendukung stabilitas harga melalui pengelolaan ekspektasi, stabilitas keuangan melalui IHSG dan likuiditas, serta keberlanjutan fiskal melalui penurunan biaya pembiayaan pemerintah.

3. Rumus Inti yang Digunakan

Simulasi di bawah memakai logika sederhana dari rumus dan hasil penelitian, bukan menggantikan estimasi ARDL/TVECM penuh. Tujuannya adalah membantu membaca arah transmisi QE secara intuitif.

ECTt = β’Yt-1
Rezim Krisis: ECT ≤ θ*, dengan θ* = -6.03
Rezim Normal: ECT > θ*
Stabilitas Keuangan ≈ f(Likuiditas, IHSG, REER, SUN)
New Trinity Index ≈ rata-rata(Stabilitas Harga, Stabilitas Keuangan, Keberlanjutan Fiskal)
Makna: bila ECT melewati ambang krisis, maka suku bunga saja tidak cukup. QE melalui SUN perlu diperkuat sebagai instrumen neraca untuk menahan tekanan pasar dan fiskal.

4. Kalkulator Simulasi QE

Gunakan panel ini untuk mensimulasikan bagaimana perubahan intensitas QE, yield SUN, BI Rate, IHSG, REER, inflasi, PDB, dan ECT memengaruhi pembacaan stabilitas dalam kerangka New Monetary Trinity.

Input Kebijakan dan Pasar

60%

Input Stabilitas Makro-Keuangan

Hasil Simulasi

Skor bersifat indikatif 0–100 untuk membantu membaca arah transmisi.

Rezim Normal
ECT masih di atas threshold

Kompresi Yield SUN

0.90 poin

Indeks Stabilitas Harga

0/100

Indeks Stabilitas Keuangan

0/100

Indeks Keberlanjutan Fiskal

0/100

5. Interpretasi Otomatis

KomponenMakna EkonometrikaImplikasi Kebijakan
ECT dan ThresholdMenentukan apakah sistem berada pada deviasi besar dari keseimbangan jangka panjang.Jika ECT ≤ -6.03, QE perlu diperlakukan sebagai instrumen stabilisasi krisis.
SUN dan YieldMenangkap kanal neraca dan portofolio dari QE.Kompresi yield menurunkan biaya utang dan membuka ruang fiskal.
IHSGMenangkap respons pasar aset dan kepercayaan investor.IHSG menjadi indikator cepat efektivitas QE terhadap stabilitas keuangan.
REERMenangkap tekanan eksternal dan stabilitas nilai tukar riil.Jika REER melemah, QE perlu dikombinasikan dengan stabilisasi valas dan makroprudensial.
BI RateRespons terhadap inflasi dalam kerangka Taylor Rule.Tetap penting, tetapi bukan kanal utama QE ketika krisis.

6. Kesimpulan Naratif

Kesimpulan penelitian tidak muncul dari satu model saja, melainkan dari simpul hubungan antar model. ARDL menunjukkan hubungan jangka pendek dan jangka panjang; TVECM menunjukkan perbedaan rezim krisis dan normal; BVECM memvalidasi robustnes hasil; TVP-VECM menunjukkan bahwa efektivitas QE berubah mengikuti waktu.

ARDL → hubungan dasar QE dengan inflasi, PDB, BI, REER, IHSG
TVECM → QE lebih kuat saat ECT memasuki rezim krisis
BVECM → hasil TVECM tetap konsisten secara Bayesian
TVP-VECM → efektivitas QE paling kuat pada 2020–2021 dan melemah saat normalisasi
Simpulan umum: QE di Indonesia berperan penting menjaga stabilitas makroekonomi, tetapi tidak bekerja seperti kebijakan moneter konvensional. Jalur utamanya adalah pembelian SUN, likuiditas, penurunan yield, portfolio rebalancing, dan stabilisasi pasar keuangan. Karena itu, QE perlu ditempatkan sebagai instrumen adaptif dalam New Monetary Trinity, bukan sebagai pengganti permanen BI Rate.