Rezim Krisis → QE Lebih Relevan
Rezim Normal → BI Rate Lebih Relevan
HTML ini menjelaskan alur pemikiran mengapa efektivitas kebijakan moneter Indonesia bersifat regime-dependent. Ketika sistem menjauh dari keseimbangan, QE melalui SUN menjadi instrumen utama. Ketika sistem kembali normal, BI Rate lebih relevan sebagai jangkar inflasi dan ekspektasi.
1. Logika Inti Penentuan Rezim
Penentuan apakah QE atau BI Rate lebih relevan tidak dilakukan secara normatif, tetapi berdasarkan posisi sistem terhadap keseimbangan jangka panjang. Dalam pendekatan TVECM, indikatornya adalah Error Correction Term atau ECT.
2A. Rezim Krisis → QE Lebih Relevan
Rezim krisis terjadi ketika deviasi dari keseimbangan besar. Dalam kondisi ini, penurunan suku bunga tidak cukup karena pasar berada dalam tekanan likuiditas, risiko meningkat, dan transmisi kredit melemah.
2B. Rezim Normal → BI Rate Lebih Relevan
Rezim normal terjadi ketika sistem relatif dekat dengan keseimbangan. Dalam kondisi ini, transmisi suku bunga masih berjalan sehingga BI Rate dapat digunakan untuk mengarahkan ekspektasi inflasi, konsumsi, investasi, dan stabilitas harga.
3. Kalkulator Rezim
4. Hasil Pemilihan Instrumen
Relevansi QE
Relevansi BI Rate
Kompresi Yield SUN
5. New Trinity Meter
6. Chart Relevansi Instrumen
7. Chart ECT dan Threshold
8. Interpretasi Otomatis
9. Ringkasan Akademik
| Kondisi | Indikator | Instrumen Lebih Relevan | Alasan Ekonometrika | Makna New Monetary Trinity |
|---|---|---|---|---|
| Rezim Krisis | ECT ≤ -6.03, tekanan pasar tinggi, yield SUN naik, likuiditas ketat | QE | Interest rate channel melemah; kanal neraca dan portofolio lebih cepat bekerja | QE menjaga stabilitas harga, pasar keuangan, dan fiskal secara simultan |
| Rezim Normal | ECT > -6.03, deviasi kecil, inflasi relatif terkendali | BI Rate | Transmisi suku bunga masih efektif untuk mengelola inflasi dan ekspektasi | BI Rate menjaga stabilitas harga; QE menjadi pelengkap likuiditas |