Hilirisasi, Industrialisasi, dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan
Menguji apakah hilirisasi benar-benar menjadi mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan—serta apakah dampaknya lebih kuat pada wilayah dengan kapasitas Triple Helix yang lebih baik: pemerintah yang inovatif, akademisi yang produktif, dan basis usaha yang kuat.
Abstract
IMRAD Working Paper • Rancangan empiris siap-estimasi
This working paper develops a causal empirical framework to evaluate whether Indonesia’s downstreaming and industrialisation agenda acts as a genuine engine of high, inclusive, and sustainable economic growth. Rather than limiting the assessment to export expansion or investment realization, the study proposes a multi-outcome evaluation covering real regional growth, manufacturing deepening, productive investment, labor absorption, poverty reduction, inequality, and environmental quality. The empirical design exploits two policy episodes—nickel downstreaming associated with the 2020 export ban and bauxite downstreaming associated with the 2023 export ban—using Difference-in-Differences (DID), dynamic Event Study, and Triple Differences (DDD). The central novelty is the integration of a Triple Helix Capacity Index as a moderator, designed to test whether downstreaming produces stronger developmental outcomes in regions with better government innovation, academic capacity, and business density. The main quasi-experimental models are reinforced through Panel Fixed Effects, Dynamic Panel GMM, FGLS, and Quantile Regression to assess robustness, persistence, error structure, and distributional heterogeneity. The paper concludes with a research-ready interpretation framework and interactive calculators that translate DID, DDD, and event-study coefficients into policy-relevant scenarios.
Keywords
Hilirisasi, industrialisasi, pertumbuhan tinggi, triple helix, DID, event study, triple differences, green growth, inclusive growth, Indonesia.
Status Naskah
Dokumen ini adalah working paper skala project yang lengkap pada sisi IMRAD, model empiris, hipotesis, interpretasi hasil, dan simulator. Bagian numerik “hasil estimasi” disusun sebagai arsitektur pembacaan hasil agar tidak mengklaim angka kausal sebelum dataset panel final benar-benar diestimasi.
I. Introduction
Mengapa hilirisasi harus diuji sebagai transformasi ekonomi, bukan sekadar lonjakan ekspor.
“Pertanyaan kebijakannya bukan hanya: apakah hilirisasi menaikkan nilai tambah? Melainkan: apakah hilirisasi menciptakan pertumbuhan yang lebih tinggi, struktur industri yang lebih dalam, manfaat yang lebih inklusif, dan jejak pembangunan yang lebih berkelanjutan—serta apakah semua itu bergantung pada kekuatan Triple Helix daerah?”
1.1. Latar kebijakan
Agenda hilirisasi Indonesia memperoleh bobot strategis karena pemerintah menempatkannya sebagai bagian dari transformasi ekonomi menuju pertumbuhan tinggi. Ringkasan RPJMN 2025–2029 menargetkan pertumbuhan ekonomi meningkat dari sekitar 5,3% pada 2025 menjadi 8,0% pada 2029. Dalam konteks tersebut, hilirisasi dan industrialisasi diposisikan sebagai pengungkit perubahan struktur produksi, daya saing, dan penciptaan nilai tambah domestik.[R1]
Dua episode kebijakan menyediakan peluang identifikasi empiris yang kuat. Pertama, larangan ekspor bijih nikel kadar rendah mulai 1 Januari 2020, yang secara resmi diarahkan untuk mempercepat pembangunan smelter dan pengolahan domestik.[R2] Kedua, kebijakan larangan ekspor bijih bauksit yang berlaku pada Juni 2023, yang menegaskan kesinambungan agenda hilirisasi mineral.[R3]
1.2. Masalah penelitian
Diskursus hilirisasi sering berhenti pada kenaikan ekspor produk olahan, tumbuhnya investasi smelter, atau bertambahnya kapasitas produksi. Padahal, indikator tersebut belum otomatis menjawab apakah hilirisasi:
- meningkatkan pertumbuhan ekonomi regional secara nyata;
- memperdalam industrialisasi, bukan sekadar memindahkan tahapan pemrosesan;
- menciptakan manfaat inklusif melalui kerja, kemiskinan, dan ketimpangan;
- mendukung keberlanjutan lingkungan;
- lebih efektif ketika daerah memiliki kapasitas inovasi dan kolaborasi yang kuat.
1.3. Pertanyaan penelitian
- Apakah hilirisasi nikel dan bauksit meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah terdampak?
- Apakah hilirisasi memperdalam industrialisasi dan mendorong investasi produktif?
- Apakah hilirisasi menciptakan pertumbuhan yang lebih inklusif melalui tenaga kerja, kemiskinan, dan ketimpangan?
- Apakah hilirisasi konsisten dengan pembangunan berkelanjutan melalui kualitas lingkungan?
- Apakah dampak tersebut lebih kuat pada wilayah dengan kapasitas Triple Helix yang lebih baik?
II. Analytical Framework
Hilirisasi sebagai rangkaian transformasi ekonomi, bukan satu indikator tunggal.
Policy Shock
Larangan ekspor bijih dan percepatan pengolahan domestik.
Industrial Response
Investasi, smelter, rantai nilai, manufaktur lanjutan.
Growth Channel
PDRB riil, PDRB per kapita, output industri pengolahan.
Inclusive & Green
Tenaga kerja, kemiskinan, Gini, IKLH dan komponennya.
Triple Helix
Kapasitas pemerintah, akademisi, dan pelaku usaha sebagai penguat.
2.1. Mekanisme inti
Hilirisasi diperkirakan bekerja melalui tiga kanal: (i) kenaikan nilai tambah domestik, (ii) pendalaman struktur industri dan investasi produktif, serta (iii) spillover lokal melalui tenaga kerja dan aktivitas ekonomi pendukung. Namun, kanal keberlanjutan dapat bergerak dua arah: hilirisasi bisa meningkatkan kualitas pembangunan bila disertai teknologi bersih, tetapi juga dapat menekan kualitas lingkungan bila ekspansi kapasitas tidak diimbangi tata kelola hijau.
2.2. Triple Helix sebagai enabling capacity
Triple Helix ditempatkan sebagai moderator, bukan sekadar jargon normatif. Pemerintah menyediakan regulasi dan inovasi layanan; akademisi menghasilkan SDM, riset, dan teknologi; pelaku usaha melakukan investasi, produksi, dan integrasi rantai pasok. Daerah yang memiliki kapasitas lebih kuat pada tiga pilar tersebut diperkirakan mampu mengonversi hilirisasi menjadi transformasi ekonomi yang lebih produktif dan lebih inklusif.
III. Data Architecture & Variable Definitions
Panel provinsi–tahun 2015–2024 dengan dua episode hilirisasi.
3.1. Matriks data final
| Blok | Kode variabel | Definisi operasional | Peran | Sumber utama |
|---|---|---|---|---|
| Treatment | nickel_treat_i | 1 jika provinsi memiliki basis tambang/produksi nikel pra-2020; 0 lainnya. | Kelompok perlakuan | ESDM / Minerba / peta eksposur mineral. |
| Treatment | post_nickel_t | 1 untuk 2020–2024; 0 untuk 2015–2019. | Post-policy | Kebijakan ESDM 2020. |
| Treatment | did_nickel_it | \(nickel\_treat_i \times post\_nickel_t\). | Estimand utama | Konstruksi peneliti. |
| Treatment | bauxite_treat_i | 1 jika provinsi memiliki basis tambang/produksi bauksit pra-2023; 0 lainnya. | Kelompok perlakuan | ESDM / Minerba. |
| Treatment | post_bauxite_t | 1 untuk 2023–2024; 0 sebelumnya. | Post-policy | Kebijakan bauksit 2023. |
| Pertumbuhan | growth_pdrb_it | \(\Delta \ln(PDRB\,ADHK_{it}) \times 100\). | Outcome | BPS PDRB provinsi. |
| Pertumbuhan | ln_pdrb_pc_it | Log PDRB riil per kapita. | Outcome | BPS PDRB & penduduk. |
| Industrialisasi | ln_mva_it | Log nilai tambah industri pengolahan riil. | Outcome | BPS PDRB lapangan usaha. |
| Industrialisasi | mva_share_it | Pangsa industri pengolahan terhadap PDRB total. | Outcome | BPS PDRB. |
| Investasi | ln_invest_total_it | Log realisasi investasi PMA+PMDN provinsi. | Outcome | BKPM / Portal Satu Data Investasi. |
| Investasi | ln_invest_mfg_it | Log investasi industri pengolahan menurut provinsi. | Outcome | BKPM sektor-lokasi. |
| Inklusivitas | emp_mfg_share_it | Proporsi tenaga kerja pada sektor industri manufaktur. | Outcome | BPS ketenagakerjaan. |
| Inklusivitas | poverty_rate_it | Persentase penduduk miskin provinsi. | Outcome | BPS kemiskinan. |
| Inklusivitas | gini_it | Gini Ratio provinsi. | Outcome | BPS ketimpangan. |
| Keberlanjutan | iklh_it | Indeks Kualitas Lingkungan Hidup provinsi. | Outcome | BPS / KLHK. |
| Moderator | THI_i^pre | Indeks kapasitas Triple Helix pra-kebijakan. | Moderator DDD | IID Kemendagri, data akademik BPS, basis industri BPS/BRIN. |
| Kontrol | ln_pop_it | Log jumlah penduduk. | Kontrol | BPS. |
| Kontrol | rls_it | Rata-rata lama sekolah sebagai modal manusia. | Kontrol | BPS. |
| Kontrol | mining_share_initial_i | Pangsa sektor pertambangan sebelum kebijakan. | Kontrol awal | BPS PDRB lapangan usaha. |
3.2. Triple Helix Capacity Index
Triple Helix dibangun sebagai kapasitas awal yang tidak terpengaruh langsung oleh kebijakan hilirisasi. Baseline yang disarankan adalah rata-rata 2017–2019 untuk shock nikel. Indeks dapat dihitung secara equal weighted standardized index:
Komponen utama: inovasi pemerintah daerah, kapasitas akademik, dan kepadatan basis usaha/manufaktur. Secara project-scale, indeks dapat diperluas dengan paten domestik, BRIDA/BAPPERIDA, atau skor daya saing daerah.
Komponen operasional
- GovInnov: Indeks Inovasi Daerah / inovasi pemerintahan.
- AcadCap: dosen atau perguruan tinggi per penduduk.
- BusinessCap: perusahaan manufaktur per penduduk.
- Opsional: IDSD, paten, BRIDA.
IV. Hypotheses
Hipotesis dirancang agar output ekonominya multidimensi dan moderatornya teruji eksplisit.
Growth Effect
Hilirisasi meningkatkan pertumbuhan PDRB riil dan PDRB riil per kapita di wilayah terdampak.
Industrial Deepening
Hilirisasi meningkatkan nilai tambah industri pengolahan dan pangsanya dalam PDRB.
Productive Investment
Hilirisasi mendorong investasi produktif, terutama investasi industri pengolahan.
Inclusive Growth
Hilirisasi meningkatkan tenaga kerja manufaktur, menurunkan kemiskinan, dan berdampak empiris pada ketimpangan.
Sustainability Trade-off
Hilirisasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas lingkungan; arahnya perlu diuji, bukan diasumsikan.
Triple Helix Moderation
Wilayah dengan kapasitas Triple Helix lebih tinggi memperoleh dampak hilirisasi yang lebih kuat dan lebih berkualitas.
V. Methods
Difference-in-Differences, Event Study, Triple Differences, dan penguatan estimasi.
5.1. Difference-in-Differences: Shock Nikel
Koefisien \(\beta_1\) mengukur dampak rata-rata kebijakan hilirisasi nikel terhadap outcome \(Y_{it}\), setelah mengendalikan efek tetap provinsi \(\alpha_i\), efek tetap tahun \(\lambda_t\), dan kovariat \(X_{it}\). Desain ini sejalan dengan kerangka DID yang digunakan untuk membandingkan respons kelompok perlakuan dan kontrol dalam studi kebijakan berbasis shock.[M1]
5.2. Difference-in-Differences: Shock Bauksit
Model kedua memberi pembanding lintas komoditas. Jika hasil nikel dan bauksit berbeda, paper dapat menilai apakah efektivitas hilirisasi bersifat komoditas-spesifik, tergantung pada kesiapan processing capacity, pasar, dan ekosistem daerah.
5.3. Event Study: Dynamic Treatment Effects
Event study digunakan untuk dua tujuan: (i) menguji parallel trends melalui koefisien pra-kebijakan dan (ii) membaca dinamika pascakebijakan—apakah dampak hilirisasi langsung muncul, tertunda, atau baru menguat setelah investasi industri masuk. Untuk treatment dengan periode yang berbeda, literatur modern merekomendasikan kehati-hatian terhadap estimator two-way fixed effects standar, sehingga pendekatan Callaway–Sant’Anna serta Sun–Abraham dapat dijadikan rujukan implementasi.[E1][E2]
Aturan baca pre-trends
- \(\beta_{k<0}\) diharapkan mendekati nol dan tidak signifikan.
- Jika pre-trends bergerak tajam sebelum kebijakan, identifikasi kausal melemah.
- Untuk shock nikel 2020, robustness drop-2020 penting karena beririsan dengan COVID-19.
5.4. Triple Differences: Hilirisasi × Triple Helix
Koefisien sentral adalah \(\beta_3\). Nilai \(\beta_3>0\) pada outcome pertumbuhan, industrialisasi, dan tenaga kerja menunjukkan bahwa kapasitas Triple Helix memperkuat dampak hilirisasi. Nilai \(\beta_3>0\) pada IKLH dapat dibaca sebagai indikasi bahwa kolaborasi lokal membantu meredam trade-off lingkungan. Pendekatan ini mengadaptasi logika triple interaction yang digunakan dalam studi DID–DDD terkini, dan sejalan dengan literatur formal estimator Triple Differences.[E3][M1]
5.5. Model gabungan dua episode kebijakan
Model gabungan membantu menjawab apakah hilirisasi nikel lebih efektif daripada bauksit, apakah moderator Triple Helix bekerja serupa, dan apakah strategi industrialisasi memerlukan desain komoditas yang berbeda.
5.6. Panel Fixed Effects
Digunakan sebagai basis estimasi panel untuk mengendalikan heterogenitas waktu-tetap antarprovinsi.
5.7. Dynamic Panel GMM
Menguji persistensi outcome dan potensi endogeneity.
5.8. FGLS
Robustness untuk heteroskedastisitas, autokorelasi, dan cross-sectional dependence sebagaimana digunakan dalam studi panel makro terbaru.[M2]
5.9. Quantile Regression
Menguji apakah dampak hilirisasi berbeda pada distribusi outcome rendah, menengah, dan tinggi.
5.10. Tahapan estimasi
Build panel
Harmonisasi provinsi, outcome, treatment, controls.
Construct THI
Standarisasi indikator pra-kebijakan.
DID baseline
Nikel dan bauksit secara terpisah.
Event study
Parallel trends dan dinamika treatment.
DDD & robustness
Moderator THI, GMM, FGLS, quantile.
VI. Results & Discussion Framework
Cara membaca hasil empiris setelah estimasi dilakukan.
Pertumbuhan ekonomi
Jika \(DID>0\) dan signifikan pada growth_pdrb atau ln_pdrb_pc, hilirisasi dapat dibaca sebagai pengungkit pertumbuhan regional. Jika dampaknya baru muncul pada lag tahun ke-2 atau ke-3 dalam event study, maka kebijakan memerlukan waktu transmisi melalui investasi, konstruksi, dan commissioning fasilitas produksi.
Industrialisasi dan investasi
Jika efek lebih kuat pada MVA dan investasi manufaktur daripada pada PDRB total, berarti hilirisasi bekerja sebagai transformasi struktur produksi. Diskusi kemudian diarahkan pada pendalaman rantai nilai, bukan sekadar ekspor mineral olahan.
Inklusivitas
Kenaikan tenaga kerja manufaktur dan penurunan kemiskinan menunjukkan inclusive transmission. Namun, jika Gini naik atau kemiskinan tidak bergerak, hilirisasi menciptakan pertumbuhan tetapi manfaatnya belum merata.
Keberlanjutan
Jika \(DID<0\) pada IKLH, kebijakan menghasilkan trade-off lingkungan. Jika DDD terhadap IKLH positif, Triple Helix dapat dibaca sebagai faktor mitigasi melalui inovasi teknologi, regulasi lingkungan, dan tata kelola industri yang lebih baik.
6.1. Empirical narrative matrix
Diskusi yang harus muncul
- Apakah efek hilirisasi berlaku seragam lintas komoditas?
- Apakah pertumbuhan bersifat job-rich atau capital-intensive?
- Apakah daerah ber-THI tinggi memperoleh efek lebih besar?
- Apakah efek lingkungan menunjukkan perlunya green industrial policy?
6.2. Relasi dengan literatur
Nilai tambah domestik dapat naik, tetapi terdapat risiko kehilangan efisiensi agregat di sektor hilir. Paper ini memperluas fokus menuju growth–inclusion–sustainability.[R4]
Dampak tenaga kerja berbeda antara nikel dan bauksit. Paper ini memasukkan heterogenitas komoditas dan moderator Triple Helix.[R5]
VII. Interactive Calculators & Simulators
Kalkulator interpretasi koefisien untuk memperjelas DID, DDD, event study, dan kapasitas Triple Helix.
7.1. Kalkulator DID
Menghitung efek perlakuan sederhana: \((T_{post}-T_{pre})-(C_{post}-C_{pre})\).
7.2. Kalkulator Triple Differences
DDD = DID wilayah THI tinggi − DID wilayah THI rendah.
7.3. Triple Helix Capacity Builder
Skor ilustratif 0–100 dari tiga pilar.
7.4. Simulator Dampak Kebijakan
Efek prediksi sederhana: \(\hat{\Delta Y}=\beta_{DID}+\beta_{DDD}\times THI\).
7.5. Event Study Simulator
Ubah koefisien pra- dan pascakebijakan. Pre-trends yang dekat nol memperkuat validitas DID.
7.6. Robustness Credibility Scorecard
Skor diagnostik ilustratif untuk memastikan model tidak berhenti di satu estimasi utama.
VIII. Discussion
Diskusi kebijakan yang harus mengikuti bukti empiris, bukan mendahuluinya.
8.1. Hilirisasi sebagai mesin pertumbuhan
Jika DID menunjukkan efek positif terhadap PDRB dan MVA, hilirisasi dapat didudukkan sebagai instrumen transformasi struktural. Namun, klaim “mesin pertumbuhan” baru kuat bila efek tersebut bertahan pada event study, tetap konsisten setelah robustness, dan tidak hanya muncul pada satu komoditas.
8.2. Dari investasi ke inklusivitas
Investasi hilirisasi belum otomatis inklusif. Paper perlu memeriksa apakah investasi tersebut menciptakan kerja manufaktur, menurunkan kemiskinan, atau justru memperlebar kesenjangan jika manfaat terkonsentrasi pada enclave industrialization.
8.3. Triple Helix sebagai pembeda kualitas
DDD yang signifikan menunjukkan bahwa daerah tidak hanya membutuhkan cadangan mineral atau insentif fiskal, tetapi juga kapasitas pemerintah, pasokan SDM, riset terapan, dan basis usaha. Dengan kata lain, hilirisasi memerlukan institutional absorptive capacity.
8.4. Sustainable downstreaming
Jika indikator lingkungan melemah, paper tidak boleh menyimpulkan hilirisasi gagal secara total, tetapi harus menunjukkan kebutuhan green industrial policy: teknologi rendah emisi, pengawasan air dan udara, sertifikasi industri, dan koordinasi lintas aktor.
IX. Conclusion, Implications, and Research Agenda
Kesimpulan yang disiapkan untuk ditajamkan setelah estimasi final.
9.1. Kesimpulan konseptual
Hilirisasi dan industrialisasi perlu dievaluasi sebagai kebijakan pembangunan multidimensi. Pertumbuhan tinggi tidak cukup dipahami sebagai peningkatan output agregat, tetapi harus dibaca bersama pendalaman manufaktur, investasi produktif, kualitas pekerjaan, kemiskinan, ketimpangan, dan keberlanjutan lingkungan.
Penempatan Triple Helix sebagai moderator membuka kontribusi baru: keberhasilan hilirisasi diperkirakan tidak hanya ditentukan oleh komoditas atau fasilitas produksi, tetapi oleh kapasitas daerah untuk mengorkestrasi pengetahuan, kebijakan, dan aktivitas usaha.
9.2. Implikasi kebijakan
- Hilirisasi perlu diintegrasikan dengan strategi pengembangan SDM, riset terapan, dan inovasi daerah.
- Daerah hilirisasi harus memperoleh dukungan ekosistem, bukan hanya investasi proyek.
- Keberlanjutan perlu dimasukkan sebagai outcome resmi evaluasi hilirisasi.
- Perbedaan hasil antara nikel dan bauksit harus menjadi dasar desain kebijakan komoditas yang tidak seragam.
References & Methodological Sources
Sumber kebijakan, data, literatur empiris, dan acuan metode.
- [R1] Kementerian PPN/Bappenas. Ringkasan RPJMN 2025–2029. Pertumbuhan ekonomi ditargetkan meningkat menuju 8,0% pada 2029. Sumber.
- [R2] Kementerian ESDM. “Bijih Nikel Tidak Boleh Diekspor Lagi per Januari 2020.” Sumber.
- [R3] Kementerian ESDM / Minerba. Booklet Promosi 2023 terkait larangan ekspor bauksit mulai Juni 2023. Sumber.
- [R4] Kee, H. L. et al. (2025). Nickel, Steel and Cars: Export Ban and Domestic Value Added in Indonesia. World Bank. Sumber.
- [R5] Bosker, M., van den Herik, E.-M., Pelzl, P., & Poelhekke, S. (2025). The (Un)intended Consequences of Export Restrictions: Evidence from Indonesia. CEPR DP20791. Sumber.
- [D1] Badan Pusat Statistik. PDRB Provinsi-Provinsi di Indonesia Menurut Lapangan Usaha 2020–2024. Sumber.
- [D2] Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Portal realisasi investasi menurut sektor dan wilayah. Sumber.
- [D3] Badan Pusat Statistik. Proporsi tenaga kerja pada sektor industri manufaktur. Sumber.
- [D4] Badan Pusat Statistik. Indeks Kualitas Lingkungan Hidup menurut provinsi dan komponennya. Sumber.
- [D5] Kemendagri. Pedoman Umum Penilaian Inovasi Daerah Tahun 2025. Sumber.
- [D6] BRIN. Indeks Daya Saing Daerah (IDSD). Sumber.
- [D7] Badan Pusat Statistik. Jumlah perguruan tinggi, dosen, dan mahasiswa menurut provinsi. Sumber.
- [E1] Callaway, B., & Sant’Anna, P. H. C. (2021). “Difference-in-Differences with Multiple Time Periods.” Journal of Econometrics, 225(2), 200–230.
- [E2] Sun, L., & Abraham, S. (2021). “Estimating Dynamic Treatment Effects in Event Studies with Heterogeneous Treatment Effects.” Journal of Econometrics, 225(2), 175–199.
- [E3] Olden, A., & Møen, J. (2022). “The Triple Difference Estimator.” The Econometrics Journal, 25(3), 531–553.
- [E4] Arellano, M., & Bond, S. (1991). “Some Tests of Specification for Panel Data.” Review of Economic Studies, 58(2), 277–297.
- [E5] Koenker, R., & Bassett, G. (1978). “Regression Quantiles.” Econometrica, 46(1), 33–50.
- [M1] Modjo, M. I., Putridamni, F., & Lin, A. S. (2025). “Weathering the Storm: Shariah Compliance, Digital Innovation, and Stock Performance During COVID-19.” Journal of Islamic Monetary Economics and Finance, 11(2), 385–418.
- [M2] Muhammed, I. A. (2025). “Innovative Capacity in Muslim-Majority Countries: Does Islamic Finance Play a Role?” Journal of Islamic Monetary Economics and Finance, 11(2), 241–268.
- [M3] Sutrisno, B., Trinugroho, I., Arifin, T., & Risfandy, T. (2025). “Islamic Label and Stock Price Crash Risk.” Journal of Islamic Monetary Economics and Finance, 11(2), 331–350.
- [M4] Husodo, Z. A. et al. (2025). “Risk-Adjusted Returns and Spillover Dynamics Among Emerging Digital Currencies.” Journal of Islamic Monetary Economics and Finance, 11(2), 269–306.
- [M5] Loang, O. K., & Candra, S. (2025). “Religion and Green: The Dual Power of ESG and Shariah-Compliant Stocks in Brand Values of Malaysia, Indonesia, and Saudi Arabia.” Journal of Islamic Monetary Economics and Finance, 11(2), 419–448.