Stabilitas Ekonomi Indonesia di Tengah Fragmentasi Perdagangan Global: Peran Diversifikasi Pasar Ekspor, Hilirisasi, dan Trade Openness Adaptif

Working Paper | Adaptive Trade Openness Indonesia
Working Paper • IMRAD • Interactive Research Design

Stabilitas Ekonomi Dinamis Indonesia di Tengah Fragmentasi Perdagangan Global

Perang dagang, proteksionisme, dan fragmentasi geoekonomi tidak hanya mengganggu arus ekspor, tetapi juga dapat merambat ke produksi industri, daya saing nilai tukar, investasi, dan ketahanan makro. Paper ini merumuskan adaptive trade openness: keterbukaan perdagangan yang tetap terintegrasi secara global, tetapi diperkuat oleh diversifikasi pasar ekspor dan hilirisasi agar lebih tahan terhadap shock eksternal.

Research premise. Perdagangan global 2026 tetap bergerak, tetapi makin rapuh akibat meningkatnya hambatan nontarif, trade tensions, dan fragmentasi kebijakan. Dalam konteks Indonesia, strategi respons yang relevan bukanlah isolasi, melainkan keterbukaan yang lebih cerdas: lebih terdiversifikasi, lebih bernilai tambah, dan lebih adaptif terhadap risiko global.
Abstract

Abstrak

Penelitian ini menganalisis dampak fragmentasi perdagangan global terhadap stabilitas ekonomi dinamis Indonesia dengan menempatkan trade policy uncertainty dan geopolitical risk sebagai sumber guncangan eksternal utama. Stabilitas ekonomi dibaca melalui dinamika ekspor, produksi industri, Produk Domestik Bruto, dan real effective exchange rate (REER), sementara ketahanan struktural diukur melalui diversifikasi pasar ekspor, hilirisasi ekspor, dan tingkat keterbukaan perdagangan.

Secara empiris, studi ini menggunakan pendekatan berlapis. Pertama, ARDL/NARDL digunakan untuk menguji hubungan jangka pendek–panjang dan asimetri shock perdagangan. Kedua, TVP-VAR/TVP-VECM digunakan untuk menangkap transmisi yang berubah dari waktu ke waktu. Ketiga, Quantile VAR–Connectedness digunakan untuk memetakan spillover pada kondisi normal dan ekstrem. Melalui desain tersebut, penelitian ini mengusulkan konsep adaptive trade openness, yaitu keterbukaan perdagangan yang tetap mendukung integrasi global, namun diperkuat oleh diversifikasi pasar dan hilirisasi agar mampu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia di tengah perang dagang, proteksionisme, dan fragmentasi geoekonomi.

Trade Policy Uncertainty Geopolitical Risk Export Diversification Downstreaming Adaptive Trade Openness
Executive Lens

Inti Kontribusi

Konseptual

Mendefinisikan ulang keterbukaan perdagangan sebagai keterbukaan yang adaptif, bukan sekadar rasio ekspor-impor terhadap PDB.

Metodologis

Menggabungkan long-run effects, asymmetry, time variation, dan tail connectedness dalam satu arsitektur empiris.

Empiris

Memetakan bagaimana shock global merambat ke ekspor, industri, REER, dan PDB Indonesia.

Kebijakan

Menyusun early-warning logic untuk diversifikasi pasar, hilirisasi, dan mitigasi trade shock.

I. Introduction

Konteks, gap riset, dan posisi argumen

Pendahuluan diarahkan untuk menempatkan fragmentasi perdagangan sebagai guncangan makro-struktural, bukan isu ekspor semata.

1.1. Latar Global: perdagangan tetap tumbuh, tetapi makin rapuh

Lanskap perdagangan global memasuki fase yang semakin kompleks. WTO menilai prospek perdagangan dunia tetap dibayangi oleh tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan; UNCTAD menegaskan bahwa tahun 2026 ditandai oleh kenaikan trade costs, fragmentasi geopolitik, dan dominasi hambatan nontarif dalam membentuk akses pasar. OECD juga memperingatkan bahwa relokalisasi ekstrem bukan otomatis meningkatkan ketahanan; kebijakan tersebut bahkan berpotensi menekan perdagangan dan PDB global tanpa konsisten memperbaiki stabilitas.

Implikasi analitis: perdagangan global tidak sedang berhenti, tetapi sedang berubah dari arena efisiensi menuju arena risiko, regulasi, dan strategi kekuasaan.

1.2. Relevansi Indonesia

Bagi Indonesia, fragmentasi perdagangan global dapat merambat melalui beberapa kanal: penurunan ekspor, gangguan rantai pasok, pelemahan investasi, tekanan nilai tukar riil, dan perlambatan produksi industri. Risiko tersebut menjadi lebih penting ketika struktur ekspor masih bertumpu pada pasar tertentu dan sebagian komoditas masih memiliki kandungan nilai tambah domestik yang perlu diperkuat.

Karena itu, diversifikasi pasar dan hilirisasi tidak sepatutnya dibaca sebagai agenda yang berdiri sendiri. Keduanya perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas ekonomi dinamis di bawah tekanan geoeconomic fragmentation.

1.3. Gap Literatur

Studi perdagangan sering memisahkan trade openness, diversifikasi, dan hilirisasi. Paper ini menyatukannya dalam satu kerangka resiliensi.

1.4. Research Problem

Bagaimana shock TPU dan GPR memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia, dan kapan strategi struktural berhasil menjadi buffer?

1.5. Novelty

Adaptive trade openness diuji sebagai keterbukaan yang nilainya bergantung pada diversifikasi dan hilirisasi.

1.6. Pertanyaan Penelitian

  1. Bagaimana trade policy uncertainty dan geopolitical risk memengaruhi ekspor, produksi industri, PDB, dan REER Indonesia?
  2. Apakah dampak shock perdagangan bersifat asimetris dan berubah dari waktu ke waktu?
  3. Apakah diversifikasi pasar ekspor dan hilirisasi mampu memperlemah dampak negatif fragmentasi perdagangan?
  4. Bagaimana struktur spillover antarvariabel berubah pada kondisi normal, tekanan, dan ekstrem?
  5. Bagaimana konsep adaptive trade openness dapat diterjemahkan menjadi agenda kebijakan menuju Indonesia Maju?
II. Methods

Desain data, hipotesis, dan model ekonometrik

Metode dipilih agar mampu menangkap long-run relation, asymmetry, time-varying transmission, dan connectedness saat tekanan ekstrem.

2.1. Arsitektur Dataset

Blok Variabel Definisi Operasional Frekuensi Sumber
Shock Global TPU Trade Policy Uncertainty Index sebagai proksi perang dagang dan ketidakpastian kebijakan perdagangan. Bulanan; diagregasi triwulanan TPU Index
Shock Global GPR Geopolitical Risk Index sebagai proksi tekanan geopolitik global. Bulanan; diagregasi triwulanan Caldara–Iacoviello GPR
Perdagangan EXP Nilai ekspor nonmigas Indonesia; ditransformasi logaritmik. Bulanan/Triwulanan BPS
Ketahanan Struktur Ekspor DIVMKT Indeks diversifikasi pasar ekspor yang dibentuk dari 1 − HHI tujuan ekspor. Bulanan/Triwulanan BPS/UN Comtrade
Hilirisasi HILIR Rasio ekspor produk olahan terhadap total ekspor dalam rantai komoditas strategis. Bulanan/Triwulanan BPS HS / UN Comtrade
Keterbukaan OPEN Trade openness = (ekspor + impor) / PDB. Triwulanan BPS
Sektor Riil IPI Indeks produksi industri manufaktur; proksi aktivitas sektor riil berfrekuensi tinggi. Bulanan BPS
Makro GDP PDB riil Indonesia. Triwulanan BPS
Daya Saing REER Real Effective Exchange Rate Indonesia. Bulanan/Triwulanan BIS
Kontrol Eksternal COM, USD Harga komoditas global dan broad U.S. dollar index. Bulanan World Bank Pink Sheet; Federal Reserve/FRED

2.2. Definisi Inti Variabel

A. Diversifikasi Pasar Ekspor

\[ HHI_t = \sum_{j=1}^{N} s_{j,t}^{2}, \qquad DIVMKT_t = 1 – HHI_t \]

Interpretasi: semakin tinggi \(DIVMKT_t\), semakin tersebar pasar ekspor Indonesia dan semakin kecil konsentrasi pada sedikit negara tujuan.

B. Indeks Hilirisasi Ekspor

\[ HILIR_t = \frac{\sum_{k=1}^{K} ProcessedExport_{k,t}} {\sum_{k=1}^{K}(RawExport_{k,t}+ProcessedExport_{k,t})} \]

Interpretasi: semakin tinggi \(HILIR_t\), semakin besar pangsa ekspor bernilai tambah dalam rantai komoditas strategis.

C. Trade Openness

\[ OPEN_q = \frac{X_q + M_q}{GDP_q} \]

Interpretasi: keterbukaan perdagangan dianalisis bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai kapasitas integrasi yang harus diimbangi kualitas struktur ekspor.

2.3. Hipotesis Penelitian

H1

TPU menurunkan ekspor, produksi industri, dan output.

H2

GPR memperbesar tekanan eksternal dan volatilitas REER.

H3

Diversifikasi pasar memperlemah dampak negatif TPU.

H4

Diversifikasi mengurangi transmisi shock ke sektor industri.

H5

Hilirisasi memperkuat resiliensi ekspor.

H6

Hilirisasi melemahkan tekanan GPR terhadap aktivitas industri.

H7

Trade openness tidak selalu stabilizing jika struktur ekspor rapuh.

H8

Adaptive openness tercapai saat openness diperkuat diversifikasi dan hilirisasi.

H9

TPU dan GPR menjadi net transmitter saat tekanan ekstrem.

H10

DIVMKT dan HILIR berfungsi sebagai shock absorber dalam jaringan spillover.

2.4. Tahapan Estimasi Empiris

1

Pra-estimasi dan penyelarasan data

Sinkronisasi frekuensi; transformasi log; seasonal adjustment bila diperlukan; uji ADF, PP, KPSS, structural break, dan korelasi awal.

2

ARDL/NARDL

Menguji hubungan jangka pendek–panjang, moderasi diversifikasi/hilirisasi, dan asimetri ketika TPU meningkat versus menurun.

3

TVP-VAR / TVP-VECM

Membaca transmisi shock yang berubah antarperiode: trade war, pandemi, konflik geopolitik, dan episode fragmentasi terbaru.

4

Quantile VAR–Connectedness

Memetakan total connectedness, TO/FROM, dan NET spillovers pada kuantil rendah, median, dan tinggi.

2.5. Model 1 — ARDL dan NARDL

Tujuan: mengestimasi hubungan jangka pendek, jangka panjang, efek moderasi, dan asimetri shock.

A. ARDL dasar

\[ Y_q = \alpha_0 + \sum_{i=1}^{p}\phi_i Y_{q-i} + \sum_{j=0}^{r}\beta_j TPU_{q-j} + \sum_{k=0}^{s}\gamma_k GPR_{q-k} + \sum_{\ell=0}^{m}\delta_\ell DIVMKT_{q-\ell} + \sum_{n=0}^{u}\eta_n HILIR_{q-n} + \sum_{o=0}^{v}\lambda_o OPEN_{q-o} + \theta’Z_q + \varepsilon_q \]

B. Interaction model untuk adaptive openness

\[ \begin{aligned} Y_q = &\ \alpha_0 + \beta_1 TPU_q + \beta_2 GPR_q + \beta_3 DIVMKT_q + \beta_4 HILIR_q + \beta_5 OPEN_q \\ &+ \beta_6(TPU_q \times DIVMKT_q) + \beta_7(TPU_q \times HILIR_q) \\ &+ \beta_8(TPU_q \times OPEN_q) + \beta_9(TPU_q \times OPEN_q \times DIVMKT_q) \\ &+ \beta_{10}(TPU_q \times OPEN_q \times HILIR_q) + \theta’Z_q + \varepsilon_q \end{aligned} \]

Makna kunci: \(\beta_6>0\) dan \(\beta_7>0\) mengindikasikan diversifikasi serta hilirisasi meredam dampak negatif TPU.

2.6. NARDL — Asimetri Shock Perdagangan

TPU dipisahkan menjadi shock positif dan negatif agar kerusakan akibat kenaikan ketidakpastian tidak dipaksa simetris dengan perbaikan saat ketidakpastian turun.

\[ TPU_q^+ = \sum_{i=1}^{q} \max(\Delta TPU_i, 0), \qquad TPU_q^- = \sum_{i=1}^{q} \min(\Delta TPU_i, 0) \]
\[ Y_q = \alpha_0 + \sum_{i=1}^{p}\phi_iY_{q-i} + \sum_{j=0}^{r}\beta_j^+TPU_{q-j}^{+} + \sum_{k=0}^{s}\beta_k^-TPU_{q-k}^{-} + \Gamma’X_q + \varepsilon_q \]

Uji utama: Wald test untuk memeriksa asimetri jangka pendek dan jangka panjang.

2.7. Model 2 — TVP-VAR / TVP-VECM

Tujuan: membaca respons yang berubah dari waktu ke waktu.

\[ Y_t = A_{1,t}Y_{t-1}+A_{2,t}Y_{t-2}+\cdots+A_{p,t}Y_{t-p}+u_t \]

Sistem bulanan yang disarankan: \[ Y_t = [TPU_t,\ GPR_t,\ DIVMKT_t,\ HILIR_t,\ EXP_t,\ REER_t,\ IPI_t]’ \]

Output: time-varying IRF, time-varying FEVD, dan episode comparison.

2.8. Perluasan TVP-VECM

Jika variabel triwulanan berkointegrasi, maka mekanisme koreksi keseimbangan jangka panjang dapat dibaca melalui TVP-VECM.

\[ \Delta Y_q = \Pi_q Y_{q-1} + \sum_{i=1}^{p-1}\Gamma_{i,q}\Delta Y_{q-i} + \varepsilon_q, \qquad \Pi_q=\alpha_q\beta_q’ \]

Interpretasi: \(\alpha_q\) menunjukkan kecepatan koreksi, sedangkan \(\beta_q\) merepresentasikan hubungan jangka panjang yang dapat berubah antarperiode.

2.9. Model 3 — Quantile VAR–Connectedness

Tujuan: memetakan jaringan transmisi shock pada kondisi rendah, normal, dan ekstrem.

\[ Q_{\tau}(Y_t|\mathcal{F}_{t-1}) = c(\tau)+\sum_{p=1}^{P}A_p(\tau)Y_{t-p} \]

Kuantil utama: \(\tau = 0.10,\ 0.50,\ 0.90\).

Total Connectedness Index

\[ TCI(H,\tau)= \frac{\sum_{i\neq j}\tilde{\theta}_{ij}^{g}(H,\tau)} {N}\times 100 \]

Net Spillover

\[ NET_i(\tau)=TO_i(\tau)-FROM_i(\tau) \]

Pembacaan: variabel dengan \(NET>0\) menjadi net transmitter; variabel dengan \(NET<0\) menjadi net receiver. Dalam hipotesis paper ini, TPU dan GPR diperkirakan tampil sebagai transmitter pada kondisi ekstrem, sedangkan EXP dan IPI lebih rentan menjadi receiver.

2.10. Diagnostik dan Robustness

Stationarity

ADF, PP, KPSS, dan structural break test.

ARDL/NARDL

Bounds test, CUSUM/CUSUMSQ, LM, heteroskedasticity, Wald asymmetry.

Dynamic Models

Lag selection, IRF robustness, alternative horizon, quantile robustness.

III. Results

Arsitektur hasil empiris dan bentuk temuan yang diharapkan

Bagian ini menyusun hasil sebagai rancangan analisis yang siap diisi oleh estimasi riil; skenario numerik pada simulator bersifat ilustratif.

3.1. Hasil yang Diharapkan dari ARDL/NARDL

Output Temuan yang Diuji Makna Ekonomi
Long-run coefficient TPU Negatif pada ekspor, GDP, atau IPI Ketidakpastian perdagangan mengurangi stabilitas dan kapasitas ekspor.
Interaction TPU × DIVMKT Positif Diversifikasi pasar menahan pelemahan ekspor.
Interaction TPU × HILIR Positif Ekspor bernilai tambah lebih tahan terhadap tekanan perdagangan.
NARDL positive vs negative TPU Efek shock positif lebih besar Kenaikan ketidakpastian lebih merusak daripada manfaat saat ketidakpastian turun.

3.2. Hasil yang Diharapkan dari TVP-VAR

Episode ATrade warDampak TPU pada ekspor mulai menguat.
Episode BPandemiShock global menyatu dengan gangguan permintaan dan logistik.
Episode CKonflik geopolitikGPR lebih dominan pada REER dan biaya perdagangan.
Episode DFragmentasi baruOpenness diuji: rentan atau adaptif?

Interpretasi utama: jika IRF negatif TPU → EXP/ IPI membesar pada periode tertentu, maka trade fragmentation terbukti memiliki sifat time-varying, bukan dampak konstan.

3.3. Hasil yang Diharapkan dari Quantile Connectedness

Kuantil Ekspektasi TCI Interpretasi
0.10 Tinggi Kondisi tekanan: spillover membesar, shock transmitter lebih dominan.
0.50 Moderate Kondisi normal: hubungan tetap ada tetapi lebih terkendali.
0.90 Dapat meningkat atau stabil Kondisi ekspansif: efek shock lebih tergantung daya dukung struktur ekspor.

3.4. Result Logic untuk Adaptive Trade Openness

Konsep adaptive trade openness memperoleh dukungan empiris bila tiga pola muncul secara simultan:

  1. Openness sendiri tidak selalu menurunkan kerentanan.
  2. Diversifikasi dan hilirisasi secara terpisah meredam dampak TPU/GPR.
  3. Interaksi openness × diversifikasi × hilirisasi menunjukkan signifikansi stabilizing.
Jika pola tersebut terbukti, maka keterbukaan perdagangan perlu dirumuskan bukan sebagai “semakin terbuka semakin baik”, tetapi sebagai “semakin terbuka semakin perlu diperkuat oleh struktur ekspor yang cerdas.”
IV. Discussion

Makna ekonomi, kebijakan, dan kontribusi paper

Diskusi diarahkan agar setiap output model langsung terhubung dengan strategi ekonomi Indonesia.

4.1. Dari Trade Shock ke Stabilitas Ekonomi Dinamis

1
Trade policy uncertainty

Jika berdampak negatif terhadap ekspor dan IPI, maka perang dagang harus dibaca sebagai risiko makro, bukan hanya isu diplomasi dagang.

2
Geopolitical risk

Jika lebih kuat memengaruhi REER dan biaya perdagangan, maka stabilitas eksternal membutuhkan koordinasi perdagangan, industri, dan makro.

3
State-dependent vulnerability

Jika connectedness melonjak pada kuantil rendah, maka kebijakan preventif lebih penting daripada respons sesudah shock meluas.

4.2. Kenapa Diversifikasi dan Hilirisasi Harus Dipadukan

Diversifikasi pasar memperluas tujuan ekspor, sementara hilirisasi memperdalam nilai tambah produk. Yang pertama mengurangi risiko konsentrasi permintaan; yang kedua memperkuat kualitas penawaran.

Diversifikasi

Menurunkan exposure terhadap satu blok perdagangan atau satu mitra utama.

Hilirisasi

Mendorong ekspor yang lebih tahan dari sekadar fluktuasi komoditas mentah.

Dalam kerangka paper ini, keduanya baru menghasilkan daya tahan yang lebih matang ketika berjalan bersama dengan logistics capability, diplomasi perdagangan, dan keterbukaan yang terukur.

4.3. Implikasi Kebijakan I

Early warning perdagangan. TPU, GPR, dan HHI pasar ekspor perlu dipantau bersama sebagai dashboard risiko.

4.4. Implikasi Kebijakan II

Diversifikasi berbasis prioritas. Pasar nontradisional perlu dipilih dengan mempertimbangkan potensi, hambatan nontarif, dan kecocokan produk.

4.5. Implikasi Kebijakan III

Hilirisasi ekspor. Kebijakan nilai tambah harus diukur bukan hanya dari output industri, tetapi juga dari kemampuan meredam external shock.

4.6. Keterbatasan dan Agenda Estimasi Lanjutan

  1. Indeks hilirisasi memerlukan pemetaan HS code yang konsisten antarperiode.
  2. TPU dan GPR merupakan proksi media-based; interpretasinya perlu dilengkapi robustness dengan indikator kebijakan nyata bila tersedia.
  3. Trade openness yang dibangun triwulanan harus diselaraskan dengan data harga konstan atau nominal secara hati-hati.
  4. QVAR–Connectedness mengukur jaringan keterkaitan, sehingga interpretasi kausal harus tetap dibedakan dari causal identification.
Interactive Lab

Kalkulator dan simulator hasil

Seluruh angka dalam simulator bersifat ilustratif untuk membantu pembaca memahami logika model, bukan hasil estimasi final.

Simulator 01

Kalkulator Diversifikasi Pasar Ekspor

Masukkan pangsa ekspor berdasarkan tujuan pasar. Sistem akan menghitung HHI dan indeks diversifikasi \(1-HHI\).

Total Pangsa100.0%
HHI Tujuan0.191
DIVMKT0.809
StatusLebih Tersebar
Struktur ekspor relatif tersebar. Risiko konsentrasi tetap perlu dipantau bila satu pasar utama meningkat tajam.
Simulator 02

Adaptive Trade Openness Resilience Meter

Simulasi ini menunjukkan bagaimana diversifikasi dan hilirisasi dapat menahan vulnerability ketika TPU dan GPR meningkat.

Exposure58.3
Structural Buffer61.6
Adaptive Openness53.3
ZonaWaspada Adaptif
Keterbukaan tetap memberi peluang, tetapi daya tahan harus diperkuat melalui diversifikasi dan hilirisasi.
Simulator 03

Dynamic Multiplier NARDL

Bandingkan jalur penyesuaian ekspor ketika TPU meningkat dan menurun. Diversifikasi serta hilirisasi mengubah kekuatan multiplier.

Pembacaan: garis negatif menggambarkan kerusakan ekspor akibat lonjakan TPU. Semakin tinggi buffer struktural, semakin kecil kedalaman kontraksi dan semakin cepat penyesuaian kembali.
Simulator 04

TVP-VAR Shock Transmission Lab

Pilih rezim global untuk melihat ilustrasi respons ekspor, produksi industri, dan REER terhadap shock TPU.

Rezim trade war memperbesar kontraksi ekspor dan produksi industri, sementara REER menunjukkan tekanan daya saing relatif.
Simulator 05

Quantile VAR–Connectedness Dashboard

Ubah kuantil untuk melihat ilustrasi total connectedness serta siapa transmitter dan receiver utama.

TCI52.0
Top TransmitterTPU
Top ReceiverEXP
Risk StateMedium
Net Transmitters
  • TPU
  • GPR
  • REER
Net Receivers / Shock Absorbers
  • EXP
  • IPI
  • DIVMKT
TPU → EXP
14%
GPR → REER
11%
DIVMKT ↘ Risk
−7%
HILIR ↘ Risk
−6%
V. Conclusion

Kesimpulan kerja dan proposisi kebijakan

5.1. Kesimpulan Utama

Working paper ini menempatkan fragmentasi perdagangan global sebagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia melalui kanal perdagangan, industri, dan daya saing eksternal. Dengan rancangan empiris berlapis, studi ini menguji bukan hanya seberapa besar dampak shock, tetapi juga kapan dampak itu membesar dan struktur apa yang mampu menahannya.

Konsep adaptive trade openness menjadi inti kontribusi: Indonesia tetap perlu terbuka terhadap perdagangan dunia, namun keterbukaan itu harus ditopang oleh diversifikasi pasar, hilirisasi ekspor, dan kemampuan mendeteksi shock secara dini.

5.2. Proposisi Kebijakan

  1. Membangun dashboard risiko perdagangan berbasis TPU, GPR, HHI pasar ekspor, dan ekspor olahan.
  2. Mempercepat diversifikasi pasar nontradisional, namun berbasis kecocokan produk dan hambatan nontarif.
  3. Mengukur keberhasilan hilirisasi dari sisi kemampuan ekspor bernilai tambah meredam shock eksternal.
  4. Menghubungkan kebijakan perdagangan, logistik, industri, dan stabilitas makro dalam satu kerangka koordinasi.
References

Sumber model, data, dan konteks kebijakan

Daftar ini memadukan sumber metodologis primer, sumber data resmi, dan publikasi kebijakan yang menopang narasi paper.

Caldara et al. — Trade Policy Uncertainty Index

Indeks bulanan trade policy uncertainty berbasis frekuensi pemberitaan mengenai kebijakan perdagangan dan ketidakpastian.

Caldara & Iacoviello — Geopolitical Risk Index

Indeks risiko geopolitik global yang lazim digunakan untuk membaca shock perang dan tensi geopolitik.

WTO — Global Trade Outlook and Statistics 2026

Konteks resmi mengenai outlook perdagangan global, risiko tarif, serta tekanan eksternal yang membayangi 2026.

UNCTAD — Global Trade Update January 2026

Tren fragmentasi, trade costs, dan perubahan pola perdagangan global pada 2026.

UNCTAD — Invisible Barriers and Non-Tariff Measures

Menegaskan pentingnya hambatan nontarif dalam menentukan biaya dan akses perdagangan modern.

OECD — Supply Chain Resilience Review 2025

Argumen bahwa ketahanan rantai pasok lebih kuat dibangun melalui kebijakan adaptif daripada isolasi ekstrem.

BPS — Ekspor Nonmigas Menurut Negara Tujuan

Sumber utama penyusunan indeks diversifikasi pasar ekspor Indonesia.

BPS — Indeks Produksi Industri Bulanan

Proxy aktivitas sektor riil berfrekuensi tinggi.

BIS — Real Effective Exchange Rate Indonesia

Sumber REER sebagai indikator daya saing eksternal.

Bank Indonesia — Economic & Market Data

Neraca pembayaran, investasi langsung, current account, dan cadangan devisa.

UN Comtrade Database

Basis data perdagangan global terperinci untuk validasi HS dan pembangunan indikator hilirisasi.

World Bank — Commodity Markets and Pink Sheet

Sumber harga komoditas bulanan sebagai kontrol eksternal.

Federal Reserve / FRED — Broad Dollar Index

Kontrol global terhadap tekanan dolar AS.

Pesaran, Shin & Smith (2001) — ARDL Bounds Testing

Fondasi metode ARDL untuk hubungan level jangka panjang dengan kombinasi integrasi I(0)/I(1).

Shin, Yu & Greenwood-Nimmo (2014) — NARDL

Model nonlinear ARDL untuk menangkap asimetri shock positif dan negatif.

Primiceri (2005) — TVP-VAR

Kerangka time-varying coefficients dan stochastic volatility untuk VAR yang berubah antarwaktu.

Diebold & Yilmaz (2014) — Connectedness

Pengukuran spillover melalui variance decomposition dan struktur jaringan.

Ando, Greenwood-Nimmo & Shin (2022) — Quantile Connectedness

Perluasan connectedness ke state ekstrem dan tail behavior.

Appendix

Checklist eksekusi empirical project

A.1. Checklist Data

  1. Unduh TPU dan GPR bulanan.
  2. Unduh ekspor nonmigas menurut negara tujuan dari BPS.
  3. Bangun HHI dan indeks DIVMKT bulanan.
  4. Petakan HS raw versus processed untuk indeks HILIR.
  5. Unduh IPI bulanan, REER, commodity price index, dan broad dollar index.
  6. Bangun dataset triwulanan untuk OPEN, GDP, FDI, CA, dan cadangan devisa.

A.2. Checklist Estimasi

  1. Uji integrasi dan structural break.
  2. Estimasi ARDL dan Bounds Test.
  3. Estimasi NARDL dan uji asimetri.
  4. Estimasi TVP-VAR; keluarkan IRF dan FEVD lintas periode.
  5. Estimasi QVAR–Connectedness pada \(\tau=0.10,0.50,0.90\).
  6. Bandingkan hasil dengan indikator kebijakan dan episode historis.